Ekspor CPO Amblas 87,72 Persen pada Mei 2022

Oleh Liputan6.com pada 15 Jun 2022, 13:20 WIB
Diperbarui 15 Jun 2022, 13:20 WIB
minta-pajak-cpo-turun130110b.jpg
Perbesar
Ekspor komoditas unggulan Indonesia yakni minyak kelapa sawit mengalami penurunan drastis di bulan Mei 2022. Tercatat penurunan ekspornya mencapai 87,72 persen (mtm) atau setara USD 2,03 miliar.

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor komoditas unggulan Indonesia yakni minyak kelapa sawit atau CPO mengalami penurunan drastis di bulan Mei 2022. Tercatat penurunan ekspornya mencapai 87,72 persen (mtm) atau setara USD 2,03 miliar.

"Kalau dilihat dari tren di bulan Mei atau tahunan (minyak kelapa sawit) mengalami penurunan 87,72 persen (mtm) dan turun 87,54 persen (yoy)," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Setianto menjelaskan ekspor minyak kelapa sawit pada Januari 2020 tercatat sebesar USD 1,2 miliar. Lalu pada Mei 2022 nilai ekspornya turun drastis menjadi USD 284,6 juta.

Anjloknya nilai ekspor tersebut sejalan dengan kebijakan pelarangan ekspor CPO dan produk turunannya yang dikeluarkan pemerintah pada 28 April-23 Mei 2022 lalu.

Akibat kebijakan tersebut ekspor minyak kelapa sawit ke berbagai negara mengalami penurunan, yakni India, Pakistan, Amerika Serikat dan Malaysia.

"Penurunan ekspor minyak kelapa sawit terjadi di beberapa negara seperti India, Pakistan, Amerika Serikat dan Malaysia," kata dia.

Berdasarkan data yang dirilis, ekspor ke India pada bulan Mei 2022 nihil dari bulan April sebesar USD 376,6 juta. Nilai ekspor ke Pakistan mengalami penurunan hingga 90,17 persen menjadi USD 21,9 juta pada Mei 2022. Padahal nilai ekspor di bulan April mencapai USD 222,8 juta.

Nilai ekspor ke Amerika Serikat juga turun 68,64 persen. Semula di bulan April 2022 nilainya mencapai USD 148,9 juta, menjadi USD 46,7 juta di bulan Mei 2022. Sementara itu nilai ekspor Malaysia turun 80,88 persen, dari USD 127,1 juta di bulan April 2022 menjadi USD 24,3 juta di bulan Mei 2022.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Produksi Minyak Kelapa Sawit Di Riau Turun 91,57 Persen

Ilustrasi CPO 5 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Perbesar
Ilustrasi CPO 5 (Liputan6.com/M.Iqbal)

Di sisi lain bila ditinjau dari daerah asal minyak kelapa sawit, terjadi penurunan hasil komoditas terbesar di Riau. Di bulan Mei hasil produksi minyak kelapa sawit turun 91,57 persen atau setara USD 1 miliar menjadi USD 84,4 juta.

"Produksi dari Riau turun 91,57 persen atau turun USD 916,4 juta dolar," kata Setianto.

Tak hanya riau, wilayah penghasil utama sawit lainnya juga mengalami penurunan. Antara lain Sumatera Utara turun 84,86 persen. Pada April 2022 nilainya USD 346,8 juta menjadi USD 52,5 juta pada Mei 2022.

Disusul Kalimantan Timur yang turun 94,48 persen, dari USD 206,6 juta pada April 2022 menjadi USD 11,40 juta. Terakhir di Sumatera Barat yang juga turun 92,83 persen, dari USD 265 juta menjadi USS 19 juta di bulan Mei 2022.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com


Nilai Ekspor Mei 2022 Anjlok 21,29 Persen Gara-Gara CPO

Ilustrasi CPO 3 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Perbesar
Ilustrasi CPO 3 (Liputan6.com/M.Iqbal)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2022 sebesar USD 21,51 miliar. Capai tersebut mengalami penurunan 21,29 persen dibandingkan pada kinerja April 2022.

"Nilai ekspor Mei 2022 turun 21,29 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai ekspor Mei tercatat sebesar USD 21,51 miliar," kata Deputi idang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Bila dibandingkan dengan kinerja tahun lalu pada periode yang sama, kinerja ekspor Mei mengalami peningkatan yang melandai. Pada Mei tahun 2021 kinerja ekspor tercatat hanya USD 16,93 miliar atau kinerja ekspor mengalami peningkatan 27 persen (yoy).

"Ekspor Mei 2022 masih mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu namun mengalami perlambatan," kata Setianto.

Berdasarkan golongan barang HS 2 digit, penurunan ekspor terbesar pada komoditas lemak dan minyak nabati/hewani. Pada bulan Mei 2022 terjadi penurunan hingga 71,79 persen atau nilainya mencapai USD 2,14 miliar.

Adapun negara yang mengalami penurunan ekspor antara lain India, Pakistan dan China. Penurunan tersebut tidak terlepas dari kebijakan larangan ekspor CPO dan turunannya yang berlangsung selama 28 April-23 Mei 2022.

"Saat ini kita mengalami restriksi pada Mei lalu sehingga minyak kelapa sawit ini mengalami penurunan ekspor," kata dia.


Penurunan Ekspor Terbesar

Ilustrasi CPO 1 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Perbesar
Ilustrasi CPO 1 (Liputan6.com/M.Iqbal)

Lebih lanjut Setianto menjelaskan penurunan ekspor terbesar tercatat dari industri pengolahan yang terkontraksi hingga 25,93 persen.

"Sektor pengolahan yang paling dalam turunnya karena komoditas kelapa sawit, pakaian jadi atau konveksi dari tekstil (yang menurun)," kata dia.

Disusul sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang turun 25,92 persen. Pada sektor ini terjadi penurunan ekspor sarang burung dan tanaman obat.

Kemudian sektor pertambangan dan lainnya turun 12,92 persen. Hal ini disebabkan menurunnya ekspor di komoditas bijih tembaga dan lignit. Hanya sektor migas yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,83 persen karena peningkatan ekspor minyak mentah dan migas.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com 

Infografis Dampak Larangan Ekspor CPO dan Produk Turunannya. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Dampak Larangan Ekspor CPO dan Produk Turunannya. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya