Startup Indonesia Masih Seksi di Mata Investor, Ini Alasannya

Oleh Liputan6.com pada 14 Jun 2022, 15:50 WIB
Diperbarui 14 Jun 2022, 22:38 WIB
Startup
Perbesar
Ilustrasi Startup (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta Investor dari belahan dunia masih terus menyasar Indonesia. Mereka berinvestasi sebagai lender di platform Peer to Peer (P2P) Lending.

Pengamat menilai bahwa startup Indonesia masih diminati dan masih seksi meskipun ada beberapa startup yang melakukan PHK.

Dari data, jumlah outstanding pinjaman P2P Lending pada akhir kuartal I-2022 senilai Rp 36,16 triliun, sebanyak Rp 6,98 triliun atau 19,3 persen di antaranya merupakan penyaluran pinjaman dari lender asing. Dengan 3.382 akumulasi rekening lender yang berasal dari luar negeri.

Pengamat dan Praktisi Publikasi di Bidang Startup Gemal Panggabean mengatakan, alasan para lender asing masuk ke Indonesia karena tertarik dengan potensi pasar Indonesia yang luas dan imbal hasil yang relatif tinggi dibandingkan dengan negaranya.

Selain itu, lender asing biasanya datang ke Indonesia karena memiliki keterkaitan atau hubungan dengan pemilik dari penyelenggara P2P lending atau berasal dari negara yang sama dari pemilik/shareholders yang berasal dari luar negeri.

“Apa yang dikatakan OJK adalah fakta bahwa investor masih melirik Indonesia di dunia digital. Ini merupakan fakta bahwa Indonesia masih diminati para investor, meskipun sebagian startup melakukan PHK karyawan,” kata Gemal Panggabean, dikutip Selasa (14/6/2022).

Gemal Panggabean mengungkapkan bahwa pelaku startup harus mampu melihat bagaimana P2P lending di Indonesia mengajukan nilai tambah ke investor. Karena salah satu alasan investor melirik pasar di Indonesia adalah karena kepercayaan.

“Kepercayaan itu bukan hanya soal kedekatan personal. Tapi, bagaimana pelaku startup bisa mengajukan nilai tambah bagi investor. Saya rasa setiap pelaku startup mengetahui bagaimana nilai tambah mereka. Intinya, bagaimana produk dan program mereka betul-betul dilirik oleh calos sutomer, member, dan stakeholder,” katanya.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Kesulitan Startup

Ilustrasi Startup, Perusahaan Teknologi, Cloud, Komputasi Awan
Perbesar
Ilustrasi Startup, Perusahaan Teknologi, Cloud, Komputasi Awan. Kredit: Freepik

Dia juga menyebutkan, masih banyak startup yang kesulitan menjual produk mereka. Hal ini terjadi karena kesalahan dalam pemasaran. Gemal Panggabean sering menemukan pelaku startup tidak punya strategi yang jelas dalam memasarkan produk.

Sehingga, hal tersebut membuat produk tidak dilirik dan startup terus melakukan “bakar uang”. Hingga akhirnya, terpaksa melakukan PHK karyawan.

Menurut Gemal Panggabean, startup sebaiknya membuat tim yang ramping namun membuat strategi pemasaran dari awal dengan baik.

“Kebanyakan startup maunya promosi dan cari yang gratisan. Ini tidak baik untuk dibiasakan. Bagaimana mau mendapatkan customer dan produk yang laku di pasaran? Bagaimana bisa mendapatkan uang banyak tapi tidak mau ke luar uang banyak? Memang pemasaran, seperti promosi dan lain-lain membutuhkan uang yang tidak sedikit. Tetapi, jika digunakan dengan benar, maka hasilnya efektif,” kata Gemal Panggabean.


Gelombang PHK di Industri Startup, Siapa Biang Keroknya?

Ilustrasi berpikir | Startup Stock Photos dari Pexels
Perbesar
Ilustrasi berpikir | Startup Stock Photos dari Pexels

Sebelumnya, gelombang PHK yang terjadi di perusahaan rintisan atau startup belakangan ini disebut-sebut ada kaitannya dengan fenomena Road To Profitablity, sebagai antitesis Buble Burst, atau dikenal dengan ledakan gelembung yang terjadi di startup.

Sesuai namanya, Road To Profitablity bisa dikatakan adalah fenomena kesadaran bahwa startup sebagai peluang berusaha, tidak semata-mata tumbuh dengan membakar uang, tetapi tumbuh dengan fundamental operasi yang kuat.

Fokus operasional, sebagai bagian dari langkah memperkuat fundamental bisnis, saat ini menjadi perhatian para startup. Mereka mulai memprioritaskan fokus bisnis dan kinerja operasional bisnisnya. Hal tersebut akan berpengaruh pada beberapa aspek operasional perusahaan, antara lain ketajaman product-market fit, dan efisiensi operasional, dan penciptaan arus kas yang sehat.

"Kami turut prihatin dengan fenomena startup yang tengah mengalami kesulitan keuangan. Sebagai startup teknologi, kami selalu berdiskusi dengan teman2 sesama startup, karena bagi kami, teknologi harus menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh teman2 startup. Efisiensi bagi startup mutlak dilakukan sedini mungkin, agar road to profitability startup semakin konkrit", ungkap Alfian Pamungkas, CEO PT Cloud Hosting Indonesia, atau lebih dikenal dengan IDCLOUDHOST dikutip Sabtu (4/6/2022).

Gelombang PHK sedang melanda industri startup di Indonesia. Pertumbuhan startup tidak sebanding dengan angka kebutuhan pendanaan untuk dukungan modal kerja startup.

Kebijakan ekonomi Amerika Serikat ditengarai juga menjadi pemicu kondisi ekonomi makro dunia, yang pada gilirannya mendorong para startup juga harus merumuskan ulang prioritas usahanya untuk perbaikan kinerja operasionalnya.

"Kami menyediakan layanan cloud seperti VPS dan Baremetal bagi startup, yang menjadi solusi agar dapat beroperasi dengan lebih efisien. Selain handal, layanan VPS dan Baremetal juga lebih hemat. Hasil penghematan ini, dapat digunakan oleh para startup untuk meningkatkan belanja pada area yang lebih membutuhkan seperti mempertahankan karyawan yang dibutuhkan", tambah Alfi dalam penjelasannya.

 


Perkembangan Startup

Perkembangan startup di Indonesia berjalan bersamaan dengan pertumbuhan internet dari tahun ke tahun. Pengguna internet yang semakin mudah dan meningkat setiap tahunnya, menjadi peluang besar bagi para pendiri startup dalam mengembangkan bisnisnya.

Berdasarkan data Startup Ranking, per Maret 2022 terdapat 2.331 startup di Indonesia.

Jumlah perusahaan kecil dan startup di Asia-Pasifik terus bertumbuh. Dari drone bawah air hingga sistem propulsi satelit, hospitality, mengatasi masalah untuk meningkatkan transportasi di kota-kota yang padat, memperluas konektivitas yang terjangkau di daerah terpencil sampai mencegah pemborosan makanan.

Forbes melansir laporan bertajuk Forbes Asia 100 to Watch perdana. Laporan ini menyoroti perusahaan kecil dan startup yang sedang naik daun di kawasan Asia-Pasifik.

Menurut data StartupRanking, Indonesia memiliki lebih dari 2.100 startup dan menduduki posisi kelima terbanyak di dunia. 

Infografis Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Produk Domestik Bruto 2019-2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Laju Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Produk Domestik Bruto 2019-2021. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya