Imbas Perang Rusia Ukraina, Bagaimana Cara Berkelit dari Resesi Global ?

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 27 Mei 2022, 11:15 WIB
Diperbarui 27 Mei 2022, 11:15 WIB
Sebagian Pengungsi Ukraina Masih Bertahan di Stasiun Kereta Bawah Tanah Kharkiv
Perbesar
Seorang perempuan memotong sayuran di kereta bawah tanah kota Kharkiv, di Ukraina timur, Kamis (19/5/2022). Kepala Bank Dunia David Malpass memperingatkan bahwa perang Rusia-Ukraina dapat menyebabkan resesi global karena harga pangan, energi dan pupuk melonjak. (AP Photo/Bernat Armangue)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Bank Dunia David Malpass memperingatkan bahwa perang Rusia-Ukraina dapat menyebabkan resesi global karena harga pangan, energi dan pupuk melonjak.

Hal itu disampaikan Malpass dalam sebuah acara diskusi bisnis dengan Kamar Dagang AS pada Rabu (25/5).

"Saat kita melihat PDB global ... sulit sekarang untuk melihat bagaimana kita menghindari resesi," ujar Malpass, dikutip dari BBC, Jumat (27/5/2022).

"Gagasan harga energi naik dua kali lipat sudah cukup untuk memicu resesi dengan sendirinya," bebernya.

Dia juga mengatakan bahwa serangkaian lockdown untuk pencegahan Covid-19 di China menambah kekhawatiran tentang perlambatan pertmubuhan ekonomi,

Komentar Malpass menjadi peringatan terbaru atas meningkatnya risiko terhadap ekonomi dunia yang kemungkinan bakal mengalami kontraksi.

Selain itu, Malpass juga mengatakan bahwa banyak negara Eropa yang masih terlalu bergantung pada minyak dan gas Rusia.

Hal itu terjadi bahkan ketika negara-negara Barat terus maju dengan rencana untuk mengurangi ketergantungan mereka pada pasokan energi dari Rusia.

Dia juga mengatakan pada acara virtual yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang AS bahwa langkah Rusia untuk memotong pasokan gas dapat menyebabkan "perlambatan substansial" di wilayah tersebut.

Malpass memperingatkan harga energi yang lebih tinggi sudah membebani Jerman, yang merupakan negara ekonomi terbesar di Eropa dan terbesar keempat di dunia.

Diungkapkannya, negara-negara berkembang juga terpengaruh oleh kekurangan pupuk, makanan dan energi.


Bank Dunia Pangkas Ramalan PDB Global Jadi 3,2 Persen

Lebih dari 4,2 Juta Warga Ukraina Mengungsi sejak Invasi
Perbesar
Pengungsi dari Ukraina terlihat di peron menaiki kereta ke Warsawa, di stasiun kereta api di Przemysl, Polandia tenggara, pada 5 April 2022. Lebih dari 4,2 juta pengungsi Ukraina telah meninggalkan negara itu sejak invasi Rusia, kata PBB. (Wojtek RADWANSKI / AFP)

Bulan lalu, Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini hampir satu poin persentase penuh, menjadi 3,2 persen.

PDB, atau Produk Domestik Bruto, adalah ukuran pertumbuhan ekonomi. Ini adalah salah satu cara terpenting untuk mengukur seberapa baik, atau buruk, kinerja ekonomi dan diawasi ketat oleh para ekonom dan bank sentral.

Ini juga membantu bisnis untuk menilai kapan harus memperluas dan merekrut lebih banyak pekerja atau berinvestasi lebih sedikit dan memotong tenaga kerja mereka.

Pemerintah juga menggunakannya untuk memandu keputusan dalam segala hal mulai dari pajak hingga pengeluaran. 

Selain dampak perang Rusia-Ukraina, pimpinan Bank Dunia David Malpass juga menyuarakan keprihatinan tentang lockdown di beberapa kota besar China - termasuk pusat keuangan, manufaktur dan pengiriman Shanghai - yang katanya "masih memiliki konsekuensi atau dampak perlambatan pada dunia".

"China sudah mengalami beberapa kontraksi real estat, sehingga perkiraan pertumbuhan China sebelum invasi Rusia telah melunak secara substansial untuk 2022," katanya.

“Kemudian gelombang Covid-19 menyebabkan lockdown yang semakin mengurangi ekspektasi pertumbuhan untuk China,” tambahnya.


Imbas Perang Rusia-Ukraina, PBB Minta Miliarder Bantu Atasi Krisis Pangan

Kelangkaan pangan di Venezuela, menyusul krisis ekonomi dan politik yang terjadi di negara tersebut (AFP Photo)
Perbesar
Kelangkaan pangan di Venezuela, menyusul krisis ekonomi dan politik yang terjadi di negara tersebut (AFP Photo)

Kepala Program Pangan Dunia PBB (WFP) menyerukan kepada para miliarder di seluruh dunia bahwa saatnya untuk mengambil tindakan ketika ancaman global tentang kerawanan pangan meningkat seiring perang Rusia-Ukraina dan dampak pandemi Covid-19. 

Dilansir AlJazeera, Direktur Eksekutif WFP David Beasley mengatakan dia melihat tanda-tanda menggembirakan dari beberapa orang terkaya di dunia, seperti Elon Musk dan Jeff Bezos.

Tahun lalu, Direktur Eksekutif WFP David Beasley telah menyuarakan di media sosial tentang pentingnya peran miliarder dalam menyumbang dana USD 6 miliar untuk mengatasi kelaparan dunia.

Sejak itu, "Musk memasukkan dana USD 6 miliar ke sebuah yayasan. Tetapi semua orang mengira dana itu datang kepada kami, tetapi kami belum mendapatkannya. Jadi saya sudah ada harapan," kata Beasley kepada The Associated Press di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi," katanya tentang Musk.

"Kami mencoba setiap sudut, Anda tahu: Elon, kami membutuhkan bantuan Anda, saudara," ungkap Beasley.

Beasley pun menegaskan bahwa seruannya tidak hanya untuk dua pakar teknologi terkenal itu, tetapi juga miliarder lainnya.

"Dunia berada dalam masalah yang sangat serius. Ini bukan hanya retorika. Maju sekarang, karena dunia membutuhkan Anda,” katanya.

Infografis Reaksi Global terhadap Serbuan Rusia ke Ukraina. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Reaksi Global terhadap Serbuan Rusia ke Ukraina. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya