Imbas Perang Rusia-Ukraina, PBB Minta Miliarder Bantu Atasi Krisis Pangan

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 24 Mei 2022, 18:00 WIB
Diperbarui 24 Mei 2022, 18:00 WIB
Kelangkaan pangan di Venezuela, menyusul krisis ekonomi dan politik yang terjadi di negara tersebut (AFP Photo)
Perbesar
Kelangkaan pangan di Venezuela, menyusul krisis ekonomi dan politik yang terjadi di negara tersebut (AFP Photo)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Program Pangan Dunia PBB (WFP) menyerukan kepada para miliarder di seluruh dunia bahwa saatnya untuk mengambil tindakan ketika ancaman global tentang kerawanan pangan meningkat seiring perang Rusia-Ukraina dan dampak pandemi Covid-19. 

Dilansir AlJazeera, Selasa (24/5/2022) Direktur Eksekutif WFP David Beasley mengatakan dia melihat tanda-tanda menggembirakan dari beberapa orang terkaya di dunia, seperti Elon Musk dan Jeff Bezos.

Tahun lalu, Direktur Eksekutif WFP David Beasley telah menyuarakan di media sosial tentang pentingnya peran miliarder dalam menyumbang dana USD 6 miliar untuk mengatasi kelaparan dunia.

Sejak itu, "Musk memasukkan dana USD 6 miliar ke sebuah yayasan. Tetapi semua orang mengira dana itu datang kepada kami, tetapi kami belum mendapatkannya. Jadi saya sudah ada harapan," kata Beasley kepada The Associated Press di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi," katanya tentang Musk.

"Kami mencoba setiap sudut, Anda tahu: Elon, kami membutuhkan bantuan Anda, saudara," ungkap Beasley.

Beasley pun menegaskan bahwa seruannya tidak hanya untuk dua pakar teknologi terkenal itu, tetapi juga miliarder lainnya.

"Dunia berada dalam masalah yang sangat serius. Ini bukan hanya retorika. Maju sekarang, karena dunia membutuhkan Anda,” katanya.

Musk, orang terkaya di dunia, menyumbangkan sekitar lima juta lembar saham perusahaannyasekitar USD 5,7 miliar ke badan amal yang tidak disebutkan namanya pada November lalu. 

Sumbangan itu datang setelah postingan Musk di Twitter pada akhir Oktober 2022 mengungkapkan dia akan menjual saham Tesla sebesar USD 6 miliar dan memberikan uang itu kepada WFP jika organisasi tersebut nhisa menjelaskan bagaimana uang itu akan mengatasi kelaparan dunia.

Namun, pengajuan Komisi Sekuritas dan Bursa AS tidak menyebutkan nama penerima sumbangan dari Musk tersebut.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Perang Rusia Ukraina Bisa Sebabkan Krisis Pangan Global Bertahun-tahun

20170214-Indonesia Kirim Bantuan Beras ke Sri Lanka-Jakarta
Perbesar
Pemerintah Indonesia mengirimkan 5.000 metrik ton beras untuk masyarakat Sri Lanka yang sedang mengalami krisis pangan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Diketahui bahwa ancaman terhadap pasokan makanan global telah menjadi perhatian mendesak bagi para pejabat PBB, dengan pernyataan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres pekan lalu bahwa ia berada dalam "kontak intens" dengan Rusia dan negara-negara penting lainnya dan "berharap" dari kesepakatan untuk mengizinkan ekspor biji-bijian yang disimpan di pelabuhan Ukraina.

Guterres juga mengharapkan makanan dan pupuk Rusia bisa memiliki akses tak terbatas ke pasar global.

Beasley memperingatkan, jika pasokan Ukraina tetap di luar pasar, dunia dapat menghadapi masalah ketersediaan pangan dalam 10 hingga 12 bulan ke depan.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa perang Rusia-Ukraina dapat segera menyebabkan krisis pangan global yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun. 

Dikutip dari BBC, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan perang telah memperburuk kerawanan pangan di negara-negara miskin karena kenaikan harga.

Guterres mengatakan bahwa konflik - dikombinasikan dengan efek perubahan iklim dan pandemi - "mengancam puluhan juta orang ke jurang kerawanan pangan diikuti oleh kekurangan gizi, kelaparan massal dan kelaparan".

"Beberapa negara juga dapat menghadapi kelaparan jangka panjang jika ekspor Ukraina tidak dikembalikan ke tingkat sebelum perang," tambah Guterres.

"Ada cukup makanan di dunia kita sekarang jika kita bertindak bersama. Tetapi jika kita tidak menyelesaikan masalah ini hari ini, kita bisa menghadapi kekurangan pangan global dalam beberapa bulan mendatang," ujarnya.


Harga Pangan Meroket Pasca Lebaran, Pedagang Warteg Kelimpungan

Pembatasan Jam Operasional Warung Makan di Masa PPKM Level 2
Perbesar
Warga makan di Warteg Bahari, Jakarta, Rabu (1/12/2021). Naiknya PPKM DKI menjadi level 2 mengubah banyak aturan di wilayah tersebut, salah satunya jam operasional warteg yang diizinkan hingga pukul 21.00 dengan kapasitas pengunjung 50 persen. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sejumlah harga pangan di pasar tradisional mengalami kenaikan drastis setelah hari raya Idulfitri 2022. Kondisi itu membuat pelaku usaha Warung Tegal (Warteg) kelimpungan lantaran terpaksa mengeluarkan biaya belanja sembako lebih besar dari sebelumnya.

"Menghadapi harga-harga naik pedagang juga bisa kelimpungan karena mau naikan harga menu, sementara daya beli masyarakat juga belum pulih," kataKetua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni saat dihubungi Merdeka.com, Senin (23/5).

Mukroni mencatat, kenaikan harga secara drastis terjadi pada komoditas bawang merah yang sekarang dijual Rp50.000 per kilogram (Kg). Padahal, saat situasi normal, bawang merah hanya dibanderol Rp25.000 per kilogram.

Selain bawang merah, komoditas cabai juga turut mengalami kenaikan. Misalnya, cabai merah yang saat ini dijual Rp50.000 per kg atau naik sebesar Rp20.000 dari sebelumnya hanya Rp 30.000 per kg.

Mukroni menambahkan, harga telur ayam juga terus mengalami kenaikan sejak bulan Ramadhan hingga saat ini. Bahan pangan tinggi protein tersebut sekarang dihargai Rp29.000 per kg dari sebelumnya Rp22-000 sampai 23.000 per kg.

"Biasanya harga-harga sembako setelah lebaran harga melandai, tapi ini kok malah naik. Dan naiknya drastis, di pasar sudah sampai lebih dari Rp 50 ribu untuk cabai dan bawang," jelasnya.

Untuk itu, Mukroni mendesak pemerintah untuk segera menstabilkan harga bahan kebutuhan pokok dalam waktu dekat ini. Mengingat, kenaikan harga pangan sudah terlampau tinggi dari situasi normal dan telah membebani pelaku usaha makanan termasuk konsumen dengan mengeluarkan biaya lebih untuk mencukupi kebutuhan perut.

"Harapan kami pedagang warteg ke pemerintah bisa mengontrol harga pasar. Jangan sampai pasar jalan bebas sendiri, dan pemerintah tak berdaya dengan kenaikan harga-harga, itu harapan kami Mas," tutupnya.

Infografis Keamanan Pangan
Perbesar
Infografis Keamanan Pangan (Liputan6.com/Ari Wicaksono)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya