Holding BUMN Farmasi Cetak Laba Bersih Rp 1,93 Triliun di 2021

Oleh Liputan6.com pada 23 Mei 2022, 16:24 WIB
Diperbarui 23 Mei 2022, 16:24 WIB
FOTO: 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Ditetapkan Pemerintah Indonesia
Perbesar
Pekerja memproduksi vaksin COVID-19 di perusahaan Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, 12 Agustus 2020. Pemerintah melalui Bio Farma berupaya untuk memenuhi kebutuhan domestik dengan mempersiapkan sebanyak 15 juta bulk vaksin COVID-19 untuk tahap pertama. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Holding BUMN Farmasi mampu mencetak pendapaan konsolidasi Rp 43,4 triliun di 2021. Pendapatan yang diperoleh holding BUMN Farmasi ini didorong oleh pengadaan vaksin COVID-19.

"Pencapaian pendapatan kami pada 2021 sebesar Rp 43,4 triliun atau 253,7 persen dari Rencana Kinerja Anggaran Perusahaan atau RKAP Tahun 2021," ujar Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir yang merupakan induk Holding BUMN di DPR RI, seperti dikutip dari Antara, Senin (23/5/2022). Untuk diketahui, Holding BUMN Farmasi terdiri dari Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma 

Honesti juga menambahkan, jika pendapatan itu dibandingkan dengan 2020, maka pendapatan pada 2021 tersebut tumbuh sebesar 20,23 persen.

"Kenaikan ini terutama karena kontribusi dari pengadaan vaksin COVID-19 untuk pemerintah sebesar Rp 26,81 triliun. Di samping itu, kami juga mendapatkan kenaikan pendapatan dari bagaimana kita bersinergi dengan semua anak usaha mulai dari alat kesehatan sampai dengan obat-obatan penanganan COVID-19, dan tentunya vaksin COVID-19 itu sendiri. Jika dibandingkan dengan RKAP tahun 2021 maka terdapat kenaikan yang cukup signifikan realisasinya," katanya.

Dari postur EBITDA, Holding BUMN Farmasi juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan dibandingkan dengan tahun 2020 yang mana EBITDA Holding Farmasi tumbuh sebesar 206,3 persen. EBITDA Holding Farmasi tahun 2021 tercatat sebesar Rp4,02 triliun.

"Kemudian juga untuk postur laba rugi tahun 2021, kami secara konsolidasi mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,93 triliun atau mencapai 186,9 persen terhadap RKAP 2021," kata Dirut Bio Farma tersebut.

Jika dibandingkan dengan tahun 2020, maka laba bersih konsolidasi Holding BUMN Farmasi tahun 2021 tumbuh 567,8 persen.

Kenaikan laba bersih ini juga tentunya akibat dampak dari proses penanganan pandemi COVID-19 baik yang sifatnya penugasan maupun yang langsung dilakukan di sektor reguler.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Indofarma Pinjam Rp 355 Miliar kepada Bio Farma

Bio Farma-Vaksin
Perbesar
Kepala Bagian Pengemasan PT Bio Farma Yudha Bramanti menjelaskan area pengemasan vaksin, Rabu (12/8/2020). Bio Farma bekerja sama dengan tim peneliti vaksin Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung sedang melakukan uji klinis tahap 3 vaksin corona. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

PT Indofarma Tbk (INAF) meminjam kepada pemegang saham pengendali perseroan yaitu PT Bio Farma senilai Rp 355 miliar.Adapun Bio Farma memiliki 80,66 persen saham INAF.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (24/4/2022), PT Indofarma Tbk menyatakan pinjaman kepada Bio Farma untuk penutupan pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri dan PT Indofarma Global Medika. Selain itu untuk kebutuhan modal kerja perseroan.

“Nilai pinjaman Perseroan kepada PT Bio Farma (Persero) sebesar Rp 355 miliar yang akan digunakan untuk penutupan pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri Perseroan dan PT Indofarma Global Medika serta kebutuhan modal kerja Perseroan,” tulis perseroan.

Alasan transaksi ini dilakukan seiring perseroan memerlukan modal kerja untuk mendukung rencana kerja terutama dalam rangka mendukung percepatan implementasi strategi fokus usaha di bidang alat kesehatan sesuai dengan program kerja holding BUMN farmasi. Selain itu untuk membantu upaya pemerintah dalam percepatan penanganan pandemi COVID-19.

Perseroan menyatakan dengan perolehan pinjaman dari pemegang saham pengendali dapat menutup pinjaman restrukturisasi Bank Mandiri perseroan dan PT Indofarma Global Medika serta kebutuhan modal kerja perseroan dengan peroleh pinjaman baru senilai Rp 355 miliar.

 


Transaksi Afiliasi

Transaksi ini merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 42/POJK.04/2022 dan merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan OJK Nomor 17/POJK.02/2020. Transaksi tersebut termasuk material seiring rencana transaksi mencapai 69,84 persen dari ekuitas perseroan sehingga mencapai nilai material dalam Peraturan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama.

Sebelumnya pada 25 Oktober 2021, perseroan menyampaikan kepada PT Bio Farma (Persero) dalam rangka permohonan pinjaman shareholder loan.

Dengan demikian, Indofarma akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 31 Mei 2022.

Infografis Meroketnya Harga Obat dan Asupan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Meroketnya Harga Obat dan Asupan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya