Rupiah Berpotensi Koreksi Rabu 18 Mei 2022

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 17 Mei 2022, 21:29 WIB
Diperbarui 17 Mei 2022, 21:29 WIB
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Menguat
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (17/5/2022) Rupiah ditutup menguat 52 poin meski sebelumnya sempat menguat 55 poin di level Rp 14.644.

Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.696. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan, Rabu 18 Mei 2022.

“Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 14.630 hingga Rp 14.680,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Selasa (17/5/2022). 

Secara internal, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai hal seperti Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2022 surplus sebesar USD 7,56 miliar. 

Surplus ini terjadi akibat nilai ekspor lebih tinggi, dibandingkan posisi impornya. Pada April 2022 ekspor Indonesia menyentuh USD 27,32 miliar, atau naik 3,11 persen secara month to month (mtm). Sementara posisi impor Indonesia hanya USD 19,76 miliar, atau turun 10,01 persen. Surplus ini beruntun selama 24 bulan.

Jika dilihat komoditas nonmigas, penyumbang terbesar surplus pada April 2022 berasal dari lemak dan minyak hewan nabati. Kemudian diikuti oleh bahan bakar mineral. Sedangkan dilihat negara penyumbang surplus terbesar berasal dari Amerika Serikat, India dan Filipina. Sedangkan surplusnya berasal dari HS15 dan HS27.

Jika dirinci, surplus Indonesia ke Amerika Serikat mencapai USD 1,62 miliar. Surplus ini berasal dari nilai ekspor Indonesia ke Australia yang mencapai USD 2,45 miliar, dan impornya hanya USD 830 juta. Kalau diperhatikan komoditasnya berasal dari pakaian dan aksesori diikuti alas kaki.

Selanjutnya, surplus Indonesia terbesar kedua berasal dari India mencapai USD 1,53 miliar. Ini berasal dari nilai ekspor sebesar USD 2,10 miliar, dan impor hanya USD 567 juta. Penyumbang surplusnya di antaranya bahan bakar mineral diikuti lemak minyak hewan nabati.

Indonesia juga mendapatkan surplus dari Filipina USD 977 juta. Surplus itu berasal dari komoditas bahan bakar mineral HS27 diikuti dengan kendaraan dan bagiannya HS87.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Dolar AS Melemah

Kurs Rupiah terhadap Dolar
Perbesar
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (2/11/2020). Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (2/11) sore ditutup melemah 0,1 persen ke level Rp14.640 per dolar AS, dari perdagangan sebelumnya yaitu Rp14.690 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara Rupiah menguat, dolar AS justru melemah dari level tertinggi dua dekade karena imbal hasil obligasi AS telah mundur sedikit karena para pedagang menghitung kenaikan suku bunga jangka pendek yang agresif dari Federal Reserve AS akan menyeret pertumbuhan jangka panjang AS.

Beberapa bukti yang menunjukkan perlambatan ekonomi AS muncul Senin dengan indeks manufaktur Empire State Fed New York menunjukkan penurunan mendadak selama Mei. 

Shanghai dilaporkan mencapai tonggak sejarah tiga hari tanpa transmisi komunitas dan kota itu dapat mulai mengurangi penguncian yang melelahkan. Ini dapat membantu mengimbangi data ekonomi yang mengecewakan pada Senin.

Tanda-tanda lebih banyak dukungan kebijakan juga muncul, dengan China memangkas suku bunga hipotek untuk pembeli rumah pertama selama akhir pekan.

Pihak berwenang juga meminta beberapa pengembang properti yang sehat secara finansial untuk menjual obligasi, sumber mengatakan kepada Reuters, Senin.

Ekspektasi suku bunga global juga menjadi lebih hawkish, dengan kesenjangan antara imbal hasil riil Jerman dan AS 10-tahun menyempit lebih dari 30 basis poin pada Mei 2022 hingga saat ini. Bank sentral di Inggris dan Australia juga telah menaikkan suku bunga.

Reserve Bank of Australia juga merilis risalah dari pertemuan kebijakan terbaru pada hari sebelumnya, dengan menteri keuangan dan gubernur bank sentral G-7 akan bertemu sehari kemudian.

Investor sekarang menunggu pidato dari Ketua Fed Jerome Powell dan pembuat kebijakan Fed lainnya di kemudian hari, dengan Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker berbicara sehari kemudian.


Rupiah Menguat pada Selasa Pagi 17 Mei 2022

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya,  tukar rupiah pada Selasa pagi menguat dibayangi kebijakan pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve.

Rupiah pagi ini bergerak menguat 68 poin atau 0,46 persen ke posisi 14.629 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.697 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Selasa, mengatakan, rupiah mungkin masih bisa melemah terhadap dolar AS hari ini.

"Pasar kemungkinan masih mengantisipasi perubahan kebijakan pengetatan moneter AS yang lebih agresif di bulan-bulan mendatang," ujar Ariston seperti dikutip dari Antara, Selasa (17/5/2022).

Indeks dolar AS, meskipun terkoreksi dari level tertingginya di 105, tapi masih berada di level tinggi di kisaran 104,2.

Namun di sisi lain, pagi ini harga aset berisiko di sesi Asia kelihatan positif. Indeks saham Asia bergerak positif.

"Sebagian nilai tukar emerging markets juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Ini mungkin bisa menahan pelemahan rupiah," kata Ariston.

 


Sentimen Dalam Negeri

Rupiah-Melemah-Tipis-Atas-Dolar
Perbesar
Petugas menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). Rupiah dibuka di angka 13.355 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.341 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari dalam negeri, lanjut Ariston, surplus neraca perdagangan April 2022 juga mungkin bisa menahan pelemahan rupiah.

Ariston memperkirakan rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran 14.550 per dolar AS hingga 14.650 per dolar AS.

Pada Jumat, 13 Mei 2022, rupiah ditutup melemah 15 poin atau 0,1 persen ke posisi 14.613 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.598 per dolar AS.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya