Intip Harga Pangan di Hari Raya Waisak 16 Mei 2022, Cabai Masih Mahal

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 16 Mei 2022, 13:40 WIB
Diperbarui 16 Mei 2022, 13:40 WIB
FOTO: Jelang Nataru, Harga Pangan Merangkak Naik
Perbesar
Pedagang sayuran melayani pembeli di kiosnya di Pasar Mede, Jakarta, Rabu (15/12/2021). Harga pangan yang naik antara lain semua jenis cabe, bawang-bawangan serta minyak goreng. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah harga pangan terpantau naik di Hari Raya Waisak 2566 BE atau pada Senin (16/5/2022).

Di pasar tradisional, kenaikan harga pangan tercatat terjadi pada bawang putih ukuran sedang dan minyak goreng curah.

Dilansir dari laman hargapangan.id, Senin (16/5/2022) harga bawang putih ukuran sedang di pasar tradisional naik 0,31 persen atau Rp 100 menjadi Rp 32.700 per kg, dan minyak goreng curah naik 0,26 persen menjadi Rp. 19.050 per kg.

Adapun penurunan harga di pasar tradisional pada cabai merah besar menjadi Rp 47.300 dan cabai merah keriting menjadi Rp 42.800 per kg. Namun, penurunan itu masing-masing hanya Rp 500 hingga Rp 650.

Harga cabai rawit hijau turun Rp 1.000 menjadi Rp 41.400 perg kg dan cabai rawit merah turun Rp 1.700 menjadi Rp 45.150. 

Sementara di pasar modern, kenaikan harga pangan terjadi pada bawang merah dan bawang putih ukuran sedang, cabai merah keriting, dan minyak goreng kemasan bermerk 2.

Harga bawang merah ukuran sedang di pasar modern naik hanya 0,33 persen atau Rp 150 menjadi Rp. 46.050 dan bawang putih ukuran sedang naik Rp 650 menjadi Rp 39.500. 

Harga cabai merah keriting naik 2,03 persen atau Rp 1.200 menjadi Rp 60.200 dan minyak goreng kemasan bermerk 2 naik menjadi Rp 24.150 per kg.

Penurunan harga pangan di pasar modern terjadi pada cabai rawit hijau dan cabai rawit merah, yang masing-masing menjadi Rp 72.050 per kg dan Rp. 79.300 per kg.

Harga minyak goreng kemasan bermerk 1 turun menjadi Rp 25.300 per kg, gula pasir kualitas premium turun menjadi Rp 1.600 per kg dan gula pasir lokal turun menjadi Rp 14.150 per kg.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Keluarga Punya Peran Penting Wujudkan Kedaulatan Pangan Nasional

FOTO: Kenaikan Harga Minyak Goreng Penyumbang Utama Inflasi
Perbesar
Pedagang menata minyak goreng di sebuah pasar di Kota Tangerang, Banten, Selasa (9/11/2011). Bank Indonesia mengatakan penyumbang utama inflasi November 2021 sampai minggu pertama bulan ini yaitu komoditas minyak goreng yang naik 0,04 persen mom. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kepala Badan Pangan Nasional (BPN) Arief Prasetyo Adi menilai, untuk mencapai upaya kedaulatan pangan nasional, perlu perluasan jaringan hingga ke tingkat keluarga di daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut dia, keluarga merupakan kelompok kecil yang memiliki peran penting dalam pencapaian kedaulatan pangan nasional. Oleh karenanya, peran pimpinan daerah dapat menggaungkan pentingnya pemerataan pangan mulai dari tingkat keluarga di wilayah masing-masing.

"Pimpinan daerah dapat meningkatkan peran keluarga dalam pemerataan pangan daerah, perlu kolaborasi sesama saudagar. Sehingga upaya bersama dalam meningkatkan kemandirian pangan berkelanjutan di daerah dapat terwujud atas peran keluarga," ujar Arief, Minggu (15/5/2022).

Arief mencontohkan kelompok keluarga petani sebagai hulu pangan di daerah, keluarga peternak, kelompok keluarga lainnya yang bisa saling sinergi meningkatkan kemandirian pangan sebagai kontribusi membangun pemerataan pangan di daerah.

Sementara di sisi hilir, kelompok keluarga pedagang pasar di setiap daerah dapat meningkatkan peran dalam pendistribusian pangan.

"Sehingga ketersediaan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dapat terjangkau hingga ke pelosok daerah. Ini peran penting kontribusi pimpinan daerah untuk keberlangsungan pangan," imbuhnya.

Ditambahkan Arief, setiap pimpinan daerah dapat melakukan pemetaan kelompok keluarga berdasarkan klasifikasinya. Itu untuk mendukung pemerintah daerah setempat dalam meningkatkan ketahanan pangan.

"Bahkan inovasi aspek teknologi terhadap beberapa komoditas pangan penting, dengan tujuan kualitas produksi pangan yang didistribusikan melalui pedagang-pedagang pasar di daerah tetap terjaga dengan baik," pungkasnya.


Stop Perang! Jokowi Tak Ingin Harga Pangan dan BBM Terus Naik

Presiden Jokowi Bersama Pemimpin ASEAN Hadiri KTT Khusus ASEAN-AS
Perbesar
Presiden AS Joe Biden menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo di Gedung Putih, Washington, AS, 12 Mei 2022. Joe Biden menjamu Jokowi dan sejumlah pemimpin negara ASEAN lainnya di Gedung Putih. (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam lawatannya ke Amerika Serikat (AS) menyerukan penghentian perang antara Rusia dan Ukraina. Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, seruan itu juga bertujuan agar kondisi ekonomi dunia kembali stabil. Sehingga lonjakan harga komoditas strategis bisa lebih terkendali.

"Bapak Presiden Jokowi memandang perang di Ukraina telah menciptakan tragedi kemanusiaan dan memperburuk perekonomian dunia. Kenaikan harga pangan, energi, dan inflasi telah terjadi,sangat memperberat perekonomian dan memperlambat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs di negara berkembang dan kurang berkembang," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Minggu (15/5/2022).

Dikatakan Mendag Lutfi, RI 1 menyatakan, saat ini dunia sedang mengalami masalah baru yang tidak ringan. Setelah diserang pandemi Covid-19 yang mulai berangsur membaik, dunia dikejutkan oleh masalah perang Rusia-Ukraina, yang ditentang keras Jokowi.

"Presiden Joko Widodo menegaskan seharusnya dunia segera pulih dari pandemi Covid-19. Saat dunia membutuhkan kerjasama dan kolaborasi, justru rivalitas dan konfrontasi makin menajam gara-gara perang," keluhnya.

Saat ini, kondisi pertumbuhan ekonomi dunia cukup memprihatinkan. Dana Moneter Internasional atau IMF menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi di emerging and developing Asia sebesar 0,5 persen pada 2022, dan 0,2 persen pada 2023.

Bank Dunia juga memprediksi pertumbuhan ekonomi beberapa negara Asean hanya 1,2 persen.

"Presiden Joko Widodo menyampaikan, kenaikan 10 persen harga minyak dunia akan berdampak pada menurunnya pendapatan nasional beberapa negara Asean sebesar 0,7 persen. Kenaikan harga gandum juga akan mengakibatkan peningkatan kemiskinan sebesar 1 persen pada sebagian negara Asean," tutur Mendag Lutfi.

Infografis Keamanan Pangan
Perbesar
Infografis Keamanan Pangan (Liputan6.com/Ari Wicaksono)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya