Rupiah Berpotensi Merosot Jumat 13 Mei 2022

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 12 Mei 2022, 18:56 WIB
Diperbarui 12 Mei 2022, 18:56 WIB
Rupiah-Melemah-Tipis-Atas-Dolar
Perbesar
Petugas menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). Rupiah dibuka di angka 13.355 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.341 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (12/5/2022) Rupiah ditutup melemah 44 poin walaupun sebelumnya sempat menguat 6 poin di level Rp 14.598. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.554.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Jumat, 13 Mei 2022.

"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 14.580 hingga Rp 14.640,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis (12/5/2022). 

Secara internal gerak rupiah dipengaruhi banyak faktor yaitu berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), Kinerja penjualan eceran pada April 2022 diperkirakan meningkat. 

Hal ini terindikasi dari Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2022 yang sebesar 219,3 atau naik 6,8 persen month on month (MoM) dari 205,3 pada Maret 2022. Bahkan pertumbuhan pada April 2022 ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan sebesar 2,6 persen MoM pada bulan 2022. 

Peningkatan ini didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Hari Raya Besar Keagamaan Negara (HBKN) Idul Fitri. 

Sedangkan peningkatan secara bulanan ini terjadi pada sebagian kelompok, yaitu kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar 5,1 persen MoM, makanan, minuman, dan tembakau baik 81, persen MoM, serta subkelompok Sandang naik 10,7 persen MoM. 

Sayangnya, bila dibandingkan dengan kinerja penjualan April 2021, penjualan eceran pada April tahun ini diperkirakan turun 0,5 persen YoY. Pertumbuhannya juga lebih rendah dari pertumbuhan Maret 2022 yang bahkan bisa tumbuh positif 9,3 persen YoY. 

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Dolar AS Menguat

Rupiah Menguat Tipis atas Dolar
Perbesar
Petugas bank menghitung uang dollar AS di Jakarta, Jumat (20/10). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih belum beranjak dari level Rp 13.500-an per USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara Rupiah melemah, Dolar AS justru menguat terhadap mata uang lainnya pada Kamis, karena investor mencerna indeks harga konsumen (CPI) AS, yang menunjukkan inflasi tetap tinggi tetapi telah mencapai puncaknya pada April. 

Hal itu meredakan beberapa kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari Federal Reserve.

Inflasi AS sedikit mereda pada April sebesar 8,3 persen tetapi tetap mendekati level tertinggi 40 tahun. Data tidak mungkin menggagalkan rencana kebijakan moneter agresif The Fed. Indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,3 persen bulan ke bulan pada April, kenaikan terkecil sejak Agustus.

Federal Reserve AS menaikkan suku bunganya menjadi 1 persen minggu lalu untuk mendinginkan inflasi, kenaikan terbesar dalam 22 tahun. Investor khawatir tentang kebijakan pengetatan dari The Fed dapat menyebabkan resesi. Imbal hasil AS 10-tahun memperpanjang penurunan menjadi 2,90 persen.

AS akan merilis Indeks Harga Produsen dan klaim pengangguran awal hari ini. Presiden Fed San Francisco Mary Daly akan berbicara pada hari yang sama.

Investor mengharapkan setidaknya setengah persentase kenaikan pada masing-masing dari dua pertemuan Fed berikutnya, pada 15 Juni dan 27 Juli, menurut Alat FedWatch CME.


Mantap. Rupiah Perkasa Pasca Rilis Data Inflasi AS

Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Kamis pagi. Rupiah menguat pasca rilis data inflasi Amerika Serikat.

Kurs rupiah pagi ini bergerak menguat 3 poin atau 0,02 persen ke posisi 14.551 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.554 per dolar AS.

"Untuk USD IDR, sentimen yang mendorong masih laju inflasi Amerika Serikat yang mulai mereda," kata analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Revandra Aritama saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang dirilis kemarin menunjukkan inflasi AS secara tahunan mengalami penurunan, dari sebelumnya 8,5 persen pada Maret menjadi 8,3 persen pada April.

Menurut Revandra, mulai meredanya inflasi tersebut memberikan indikasi The Fed untuk tidak lebih agresif dalam menaikkan nilai suku bunga seperti yang diekspektasikan pelaku pasar.

"Hal ini menghambat penguatan dolar AS sehingga rupiah mendapat 'angin' untuk menguat walaupun tipis," ujat Revandra.

Revandra memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak melemah ke kisaran 14.500 per dolar AS hingga 14.560 per dolar AS.

Pada Selasa, 10 Mei 2022, rupiah ditutup menguat tipis 1 poin ke posisi 14.554 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.555 per dolar AS.


BI Atur Pemakaian Rupiah di Kegiatan Internasional Berlaku Mulai 27 April 2022

Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bank Indonesia (BI) menerbitkan ketentuan mengenai kebijakan penggunaan Rupiah pada kegiatan internasional melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 24/6/PBI/2022 tentang Kebijakan Penggunaan Rupiah pada Kegiatan Internasional.

Ketentuan ini berlaku efektif pada tanggal 27 April 2022. Ketentuan kebijakan penggunaan Rupiah pada kegiatan internasional dimaksudkan untuk memastikan penggunaan Rupiah pada kegiatan internasional dalam rangka mendukung kegiatan perekonomian nasional.

Dampak dari kebijakan penggunaan Rupiah pada kegiatan internasional tersebut diharapkan mampu mendukung kestabilan nilai tukar Rupiah, mendorong pendalaman pasar keuangan, dan mendorong perbaikan struktur ekonomi domestik.

Adapun substansi pengaturan dalam ketentuan ini, adalah sebagai berikut:

Prinsip utama penggunaan Rupiah pada kegiatan internasional, yakni penggunaan Rupiah hanya dapat dilakukan di dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kemudian dalam hal Rupiah digunakan di luar Wilayah NKRI, penggunaannya dapat dilakukan secara terbatas sepanjang memberikan dampak dan manfaat positif bagi perekonomian Indonesia.

Ruang lingkup pengaturan kebijakan penggunaan Rupiah pada kegiatan internasional melingkupi aspek pengaturan penggunaan Rupiah dalam konteks jurisdiksi dan pelaku.

Pertama, penggunaan Rupiah oleh penduduk dan bukan penduduk di luar wilayah NKRI. Kedua, penggunaan Rupiah bukan penduduk di dalam wilayah NKRI.

Pengaturan kebijakan penggunaan Rupiah di luar wilayah NKRI, termasuk cakupan berdasarkan bentuknya (fisik, rekening dan instrumen keuangan digital) dan penggunaannya (kuotasi, transaksi keuangan, dan setelmen transaksi keuangan).

Penegasan pengaturan penggunaan Rupiah oleh Bukan Penduduk di dalam wilayah NKRI perlu didukung underlying kegiatan perekonomian.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya