Bertemu Janet Yellen, Sri Mulyani Bahas Dampak Pandemi hingga Transisi Energi

Oleh Tira Santia pada 20 Apr 2022, 12:50 WIB
Diperbarui 20 Apr 2022, 12:50 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, membagikan momen pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. (Instagram @smindrawati)
Perbesar
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, membagikan momen pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. (Instagram @smindrawati)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, membagikan momen pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen. Dalam pertemuan tersebut, Menkeu ditemani Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yakni Rosan Roeslani.

"Pertemuan bilateral dengan Secretary Janet Yellen. Ditemani Pak Dubes @rosanroeslani, hari ini saya berdialog dengan US Secretary of the Treasurtly Janet Yellen di kantor kerjanya," tulis Sri Mulyanidi akun instagram pribadinya @smindrawati, Rabu (20/4/2022).

Dalam pertemuan tersebut, Menkeu bertukar pandangan dalam melihat dinamika perekonomian global, baik sebagai dampak pandemi dan pemulihan ekonomi maupun karena perubahan geopolitik.

"Diantaranya kami berbagi komitmen mengenai upaya mencari kerja sama global dalam pendanaan dan kesiapan mengantisipasi pandemi atau bencana non alam global lainnya di masa yang akan datang," ujarnya.

Tak hanya itu, Menkeu juga berbagi komitmen dalam pembiayaan perubahan iklim termasuk dalam mencari jalan terbaik untuk transisi energi.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Tantangan Global

Menkeu Sri Mulyani Hadiri Seminar Nasional Nota Keuangan APBN 2020
Perbesar
Menkeu Sri Mulyani memberi sambutan pada Seminar Nasional Nota Keuangan RAPBN 2020 : Mengawal Akuntabilitas Penerimaan Negara di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (21/8/2019). Sri Mulyani menjelaskan kondisi ekonomi global diselimuti awan hitam. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, dikutip dari laman kemenkeu.go.id, Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyatakan climate change atau perubahan iklim merupakan tantangan global yang luar biasa rumit tapi memiliki pengaruh yang sangat nyata.

Menurutnya, kunci yang sangat penting dalam menerjemahkan komitmen nasional dan global terkait perubahan iklim dengan aksi nyata atau action.

Menkeu menyampaikan, di dalam forum global ia bersama Menkeu yang lain dalam koalisi Menteri-Menteri Keuangan untuk melaksanakan climate change menjadi sebuah kebijakan aksi yang konkrit. Salah satunya dengan mendesain Energy Transition Mechanism (ETM).


5 Perusahaan Luncurkan Komitmen Penghapus Karbon USD 925 Juta hingga 2030

Hadapi Global Warming, Mesin Penghisap Emisi Karbon Kini Dibangun
Perbesar
Emisi karbon merupakan kunci penting untuk menghindari perubahan iklim saat ini. Solusinya adalah mesin penghisap karbon di Swiss. (Pixabay)

Sebelumnya, Stripe, Alphabet, Shopify, Meta, dan McKinsey Sustainability hari ini meluncurkan Frontier, komitmen pasar maju (advance market commitment atau AMC) untuk mengakselerasi pengembangan teknologi penghapus karbon secara permanen.

Kelima perusahaan merencanakan komitmen senilai USD 925 juta (lebih dari Rp 13,28 triliun) dalam 9 tahun ke depan untuk membeli teknologi penghapus karbon secara permanen dari para penyedia solusi baru yang menjanjikan.

Frontier bertujuan menunjukkan kepada para periset, wirausahawan, dan investor akan adanya potensi pasar untuk teknologi penghapus karbon. Satu dekade lalu, model AMC berhasil mengakselerasi pengembangan vaksin pneumokokus untuk negara-negara berpendapatan rendah dan menyelamatkan sekitar 700.000 jiwa. Ini adalah kali pertama model ini diterapkan pada penghapusan karbon berskala besar.

“Dengan Frontier, kami ingin menyampaikan pesan yang kuat kepada pengusaha, peneliti, dan investor bahwa pasar untuk penghapusan karbon secara permanen tersedia, silakan bangun dan kami akan membelinya," kata Head of Climate, Stripe Nan Ransohoff dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (18/4/2022).

Penurunan emisi secara radikal sangat penting untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim. Namun, menurut laporan terkini dari Intergovernmental Panel on Climate Change, belum ada cara untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius per tahun tanpa menghapus CO2 bervolume gigaton yang ada di atmosfer dan laut secara permanen.

“Kami berkomitmen untuk mencapai nol-bersih emisi (net zero emissions) di seluruh rantai nilai kami pada 2030 melalui kemitraan baru dan solusi inovatif dalam pengurangan emisi dan penghapusan karbon. Frontier merupakan langkah penting untuk membantu mempercepat pengembangan dan adopsi teknologi penghapusan karbon untuk dunia yang lebih berkelanjutan," jelas Head of Energy Strategy, Meta Peter Freed.

 


Teknologi

Teknologi penghapus karbon telah mengalami kemajuan yang signifikan, namun masih belum cukup untuk mencapai skala yang dibutuhkan.

Hingga 2021, kurang dari 10.000 ton karbon dioksida telah dihapus secara permanen dari atmosfer menggunakan teknologi sejenis.

Model IPCC membutuhkan sekitar 6 miliar ton penghapus CO2 setiap tahun hingga 2050 untuk dapat mencapai target 1,5 derajat Celcius. Frontier AMC didesain untuk mendukung dan mendorong industri melakukan pengembangan teknologi ini sesegera dan secepat mungkin.

“Komitmen kami sangat jelas sejak kami meluncurkan Sustainability Fund di 2019, Bergabunglah bersama kami. Perubahan iklim hanya dapat diselesaikan jika kita bersatu, dan itulah yang kami lakukan melalui komitmen pasar yang maju ini. Pesan yang kami sampaikan melalui Frontier sesuai dengan apa langkah selanjutnya yang perlu diambil oleh pasar penghapusan karbon," tutur Head of Sustainability, Shopify, Stacy Kauk.

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona
Perbesar
Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya