Menko Airlangga: 84,8 Persen UMKM Berhasil Pulih dari Krisis Pandemi

Oleh Liputan6.com pada 21 Mar 2022, 21:49 WIB
Diperbarui 21 Mar 2022, 21:54 WIB
Di sela-sela kunjungannya ke Salatiga, Sabtu (29/01), Menko Airlangga bersantap siang di salah satu warung soto khas setempat yakni Warung Soto Rumput
Perbesar
Di sela-sela kunjungannya ke Salatiga, Sabtu (29/01), Menko Airlangga bersantap siang di salah satu warung soto khas setempat yakni Warung Soto Rumput (dok: Kemenko)

Liputan6.com, Jakarta Salah satu kunci untuk mempertahankan momentum pemulihan ekonomi saat ini dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih baik adalah melalui penguatan UMKM.

Pelaku UMKM merupakan critical engine bagi perekonomian, mengingat kontribusinya terhadap PDB mencapai 61 persen dengan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional.

Selain itu, UMKM juga berperan dalam mendorong peningkatan investasi dan ekspor Indonesia. Total investasi di sektor UMKM mencapai 60 persen dari total investasi nasional dan kontribusinya terhadap ekspor non migas nasional yang mencapai 16 persen.

Pemerintah terus mengeluarkan beragam kebijakan yang berpihak pada UMKM. Kebijakan tersebut termasuk dengan memberikan dukungan pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM), Subsidi Bunga Non-KUR, dan lainnya yang akan terus dilanjutkan di tahun ini guna memastikan UMKM benar-benar pulih dan dapat naik kelas.

“Dengan berbagai kebijakan tersebut disertai perbaikan penanganan pandemi, UMKM Indonesia dapat mulai bangkit, dimana pada tahun 2021 terdapat 84,8 persen UMKM yang sudah kembali beroperasi secara normal. Selain itu, selama pandemi tercatat 40 persen UMKM menggunakan teknologi digital untuk memasarkan produknya dan merasakan adanya peningkatan pendapatan. Hal ini membuktikan resiliensi UMKM kita yang cukup tangguh bertahan menghadapi dampak pandemi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada acara Obrolan UMKM Hebat dengan tema Minuman Kekinian Penghasil Cuan, seperti ditulis Senin (21/3/2022).

Salah satu lapangan usaha yang mengalami pemulihan cukup baik adalah subsektor Industri Makanan dan Minuman. Selama 2021, kinerja industri makanan dan minuman mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,54 persen (yoy), lebih baik dari tahun sebelumnya (1,58 persen) dan lebih baik dari beberapa sektor industri lainnya.

Selain itu, subsektor Penyediaan Makan Minum selama 2021 juga tumbuh 3,52 persen (yoy) lebih baik dari tahun 2020 sebesar -6,88 persen. Kebangkitan beberapa subsektor makanan dan minuman ini dapat dirasakan dari semakin banyaknya kemunculan UMKM minuman kekinian yang sedang digandrungi sebagai gaya hidup.

Banyak lahirnya usaha minuman kekinian yang diolah menggunakan bahan baku teh, kopi dan kakao juga turut didukung oleh kekayaan komoditas alam Indonesia. Pada tahun 2021, produksi teh sebanyak 145,1 ribu ton dengan Jawa Barat sebagai penghasil terbesarnya. Sementara itu, produksi kopi nasional mencapai 775 ribu ton, dimana Sumatera Selatan menjadi produsen tertinggi.

“Kita juga memproduksi kakao hingga 706,5 ribu ton dengan Sulawesi Tengah sebagai pusatnya. Tingginya produksi teh, kopi, dan kakao di Indonesia serta momentum pemulihan ekonomi ini tentunya menjadi peluang bagi para entrepreneur UMKM untuk menggali “cuan” di sektor ini dan membantu peningkatan ekonomi nasional dan juga masih banyak tantangan yang dirasakan oleh UMKM untuk dapat berkembang, termasuk di sektor makanan dan minuman, seperti masalah perizinan dan kesulitan akses pembiayaan formal,” ujar Menko Airlangga Hartarto.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Fasilitas Pembiayaan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Sumber: ekon.go.id)
Perbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Sumber: ekon.go.id)

Dengan legalitas yang memadai, UMKM akan dapat mengakses berbagai fasilitas pembiayaan yang disediakan oleh Pemerintah seperti Program KUR.

Segmentasi KUR yang telah terbagi menjadi KUR super mikro, mikro, dan kecil juga dapat dimanfaatkan bagi mahasiswa atau entrepeneur pemula yang ingin membangun usahanya sejak dini.

Kriteria KUR super mikro yang tidak memiliki pembatasan minimal waktu pendirian usaha akan memudahkan wirausahawan pemula untuk memperoleh pembiayaan dibawah Rp10 juta dan diharapkan membantu usahanya untuk naik kelas.

Dukungan perpanjangan tambahan subsidi dimana bunga KUR menjadi sebesar 3 persen hingga akhir Desember 2022 juga diberikan untuk mempercepat pemulihan UMKM pasca pandemi.

Dari sisi peningkatan SDM, Pemerintah memiliki berbagai progam seperti Kartu Prakerja, dan Gerakan Nasional Literasi Digital untuk bidang teknologi digital agar masyarakat dapat meningkatkan keterampilannya dan berani membuka usaha dengan keterampilan tersebut.

“Akselerasi dalam meningkatkan kualitas SDM dan jiwa kewirausahaan memerlukan koordinasi dan sinergi dengan seluruh pihak. Saya berharap kita semua dapat bergotong royong untuk meningkatkan peran dalam mengantar mahasiswa, alumni dan binaannya yang ingin mendirikan usaha sehingga dapat berkontribusi secara lebih lagi bagi bangsa ini,” pungkas Menko Airlangga.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya