Rasio Kewirausahaan Indonesia Kalah dari Negara Tetangga

Oleh Tira Santia pada 27 Jan 2022, 12:12 WIB
Diperbarui 27 Jan 2022, 23:42 WIB
Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki dalam peluncuran New PLUT di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (27/1/2022). (Dok KemenkopUKM)
Perbesar
Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki dalam peluncuran New PLUT di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (27/1/2022). (Dok KemenkopUKM)

Liputan6.com, Jakarta Rasio kewirausahaan Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan negara tetangga yang sudah mencapai 10 - 11 persen dari jumlah penduduknya.

Hal itu disampaikan Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki, dalam peluncuran New PLUT di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (27/1/2022).

“Bahkan, di Singapura rasio kewirausahaan sudah mencapai 8,5 persen dari total penduduknya,” kata Teten.

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) meluncurkan program New PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu).

Program tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah dalam mengembangkan koperasi dan UMKM, serta menciptakan entrepreneur produktif.

"Dengan pendekatan baru ini kita harus lahirkan entrepreneur baru, maka PLUT ini menjadi bagian untuk mencapai target itu. Misi kita adalah mengubah struktur ekonomi yang mikro dan yang kecil menengah kita perkuat dan kita dorong menjadi pengusaha besar," ujar Teten.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Menangkan Persaingan

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. (Dok KemenkopUKM)
Perbesar
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. (Dok KemenkopUKM)

Lebih lanjut, Teten menekankan agar pelaku UMKM bisa memenangkan persaingan di pasar domestik atau internasional melalui digitalisasi.

Sebab produk e-commerce hampir 50 persen dikuasai oleh produk impor. Maka perlu ada redesain produk UMKM nasional yang bisa dimulai dari PLUT tersebut.

"Meski market digital kita terbesar di Asia Tenggara, tapi kalau kita tidak punya produk unggulan kita akan dibanjiri produk luar. Ini memang menjadi tantangan kita bersama," ucapnya.

Kata Teten, saat ini struktur ekonomi Indonesia masih didominasi oleh usaha mikro. Tercatat jumlah pelaku usaha mikro di Indonesia mencapai 99,6 persen.

Pemerintah terus berupaya keras untuk mengurangi jumlah pelaku usaha mikro dari informal menjadi formal. Oleh karenanya, ia mendorong program-program pelatihan yang sifatnya konvensional harus ditinggalkan.

"New PLUT dapat menjadi solusi bagi penyediaan program unggulan bagi pelaku usaha, karena didalamnya terdapat inkubasi, konsultasi, business matching hingga showcase bagi produk UMKM atau entrepreneur baru," pungkas Teten.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya