Siap Hadapi Risiko, Jokowi Tegaskan Setop Ekspor Bahan Mentah

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 26 Jan 2022, 20:10 WIB
Diperbarui 26 Jan 2022, 20:10 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melepas peluncuran ekspor perdana Smelter Grade Alumina (SGA) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau.
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melepas peluncuran ekspor perdana Smelter Grade Alumina (SGA) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membulatkan tekadnya untuk menghentikan ekspor bahan mentah (raw material) secara bertahap. Komitmen ini digaungkannya saat melepas ekspor perdana smelter grade alumina produksi PT Bintan Alumina Indonesia di Kepulauan Riau, pada Selasa 25 Januari 2022.

Jokowi tak gentar menghadapi gugatan sejumlah negara atas kebijakan tersebut. Seperti dilakukan Uni Eropa yang mengadu ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas larangan ekspor bijih nikel mentah per 1 Januari 2020 lalu.

"Pola pikir harus kita ubah, kita harus jadi negara industri. Dan dengan risiko apapun, satu per satu akan kita setop. Nikel setop, kita digugat oleh WTO, silakan gugat," seru Jokowi, dikutip dari video YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (26/1/2022).

Tak hanya nikel, Jokowi pun ingin seluruh perusahaan tambang nasional menghentikan pasokan ekspor produk mineral mentah seperti bauksit dan lainnya.

"Nanti setop bauksit, setop, meski ada yang gugat lagi silakan gugat. Enggak apa-apa, kita hadapi," tegas Jokowi.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Terlalu Lama Dimanja

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pembangunan pabrik gasifikasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Muara Enim, Sumatera Selatan.
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pembangunan pabrik gasifikasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Muara Enim, Sumatera Selatan.

Menurutnya, Indonesia sudah terlalu lama dimanja oleh iming-iming uang ekspor bahan mentah. Padahal, keuntungan yang didapat bisa bertambah puluhan kali lipat jika negara serius menggarapnya menjadi barang jadi.

"Jangan sampai hilirisasi ini lepas. Selama 350 tahun kita selalu ekspor bahan mentah, kita selalu ekspor raw material. Enggak berhenti sampai sekarang. Harusnya bisa 15 kali lipat, hanya dijual 30. Padahal kalau jadi barang jadi bisa 700," imbuhnya.

"Makanya sejak tahun 2020 saya menyampaikan pada Menko Luhut, nikel stop, bahan mentah stop, harus barang jadi, jangan barang setengah jadi," ujar Jokowi.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya