Ketua OJK: Target Penyaluran Kredit UMKM 30 Persen Menyesuaikan Bisnis Model Bank

Oleh Arief Rahman Hakim pada 20 Jan 2022, 20:00 WIB
Diperbarui 20 Jan 2022, 20:00 WIB
Peran Penting UMKM Pulihkan Pertumbuhan Ekonomi
Perbesar
Perajin menyelesaikan kerajinan dari bahan rotan di Jakarta, Senin (13/9/2021). UMKM akan menjadi sektor dunia usaha yang memagang peranan penting dalam pemulihan ekonomi karena telah berkontribusi sebagai penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) dalam negeri. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut rasio penyaluran kredit perbankan untuk UMKM mengacu pada bisnis model masing-masing bank. Setiap bank memiliki bisnis model yang berbeda dan tak selalu mengarah ke UMKM.

Diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan tingkat penyaluran kredit UMKM sebesar 30 persen di 2024 mendatang. Namun hingga saat ini baru terpantau dibawah 20 persen kredit yang tersalurkan. Artinya tinggal tersisa dua tahun guna mengakselerasi tujuan tersebut.

Wimboh mengatakan, target penyaluran itu merupakan target agregat dari perbankan di Indonesia. Sehingga kedepannya bisa disesuaikan dengan bisnis model yang dijalankan.

“Ada yang mungkin 85 persen ada yang mungkin 50 persen artinya kalau sekarang udah 70 persen porsi UMKM-nya mosok tahun depan 70 persen lagi. Mestinya meningkat,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (20/1/2022).

Sementara, untuk bank yang belum mampu memenuhi rasio penyaluran kredit yang ditetapkan itu tak akan didorong untuk setara dengan target yang 30 persen.

“ya kalau sekarang di bawah 20 persen ya tidak kita pacu sampai 30 persen, enggak. Jadi target yang dipacunya berdasarkan bisnis model dan kekuatan masing-masing,” katanya.

Dalam jangka waktu dua tahun ini, khususnya di 2022, Wimboh telah menyusun rencana. Misalnya dengan memperluas akses keuangan kepada masyarakat khususnya UMKM guna mencapai target itu.

“Dengan model klaster dalam satu ekosistem pembiayaan, pemasaran oleh off-taker, pembinaan serta optimalisasi lahan yang belum tergarap dengan bekerja sama dengan Gubernur dan Kepala Daerah setempat,” katanya.

Kemudian melalui Program-program KUR Kluster, kredit/pembiayaan melawan rentenir, digitalisasi BPR dan Lembaga Keuangan Mikro, Bank Wakaf Mikro serta skema pemasaran melalui program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia termasuk dalam program ini.

“Di pasar modal terus akan kami kembangkan pembiayaan UMKM melalui security crowdfunding yang sudah kami luncurkan awal tahun 2021,” tukasnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Jangan Dipersulit

Pemberdayaan UMKM dengan KUR Berbunga Rendah
Perbesar
Pekerja menyelesaikan produksi kulit lumpia di rumah industri Rusun Griya Tipar Cakung, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah diharapkan dapat menjadi peluang bagi pelaku UMKM dalam mengembangkan bisnis dan daya saing. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

UMKM diketahui mendominasi jumlah usaha di dalam negeri hingga 99,9 persen. Namun, porsi kredit yang disalurkan terhadap UMKM masih terhitung rendah.

Hal ini disadari oleh Presiden Joko Widodo, ia menyebut baru 20 persen saluran porsi kredit perbankan atau industri keuangan ke UMKM. Di sisi lain, Indonesia punya target porsi kredit UMKM sebesar 30 persen pada 2024. Artinya, hanya tersisa dua tahun guna mengakselerasi porsi kredit tersebut.

“Dan untuk bisa sampai kesana, kita tak bisa andalkan pertumbuhan alamiah saja, diperlukan strategi yang harus dijalankan dengan terobosan dari sekarang dan diikuti aksi-aksi yang serius, konsisten, dan berkelanjutan,” katanya dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022, Kamis (20/1/2022).

Pada kesempatan itu, Jokowi menegaskan perlu adanya kemudahan akses bagi pengusaha UMKM. Sehingga lebih jauhnya akan membuka peluang bagi pengusaha-pengusaha baru.

“Tak boleh lagi ada akses kredit yang sulit akses pembiayaan pelaku usaha di sektor informalnya sulit, UMKM nya kesulitan akses permodalan, koperasi yang sulit akses permodalan, ini harus terjadi percepatan sehingga membuka peluang besar bagi generasi muda yang memulai usaha,” katanya.

Telah berkali-kali disebutkannya dalam berbagai kesempatan, Jokowi menegaskan dukungan terhadap UMKM ini karena UMKM memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

“UMKM bisa jadi komponen penting untuk pulihkan ekonomi dan bisa atasi permasalahan supply chain,”

“Keberhasilan UMKM bertransformasi di masa pandemi bisa jadi modal penting untuk naik kelas ke tingkat level yang lebih tinggi dan menjadi motor pemulihan ekonomi yang sedang kita lakukan,” imbuhnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya