BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 4,4 Persen di 2022

Oleh Tira Santia pada 20 Jan 2022, 15:50 WIB
Diperbarui 20 Jan 2022, 15:50 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Januari 2022, Kamis (20/1/2022).
Perbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Januari 2022, Kamis (20/1/2022).

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tetap berlanjut hingga mencapai 4,4 persen pada 2022. Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Januari 2022, Kamis (20/1/2022).

“Pemulihan ekonomi global diperkiraan berlanjut ditengah kenaikan kasus covid-19 varian Omicron. Tekanan inflasi yang tinggi dan percepatan normalisasi kebijakan moneter di beberapa bank sentral,” kata Perry.

Pemulihan tersebut diperkirakan akan berlangsung lebih seimbang, tidak hanya bertumpu pada pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, namun juga disertai dengan perbaikan ekonomi di Eropa, Jepang, dan India.

Perbaikan yang terus berlangsung dikonfirmasi oleh sejumlah kinerja indikator pada Desember 2021, antara lain Purchasing Managers' Index (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel yang tetap kuat.

“Dengan perkembangan tersebut Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi global tetap berlanjut hingga mencapai 4,4 persen pada 2022,” ujarnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harga Komoditas

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2017  Optimis Capai 5,3 Persen
Perbesar
Pemandangan gedung-gedung bertingkat di Ibukota Jakarta, Sabtu (14/1). Hal tersebut tercermin dari perbaikan harga komoditas di pasar global. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Di sisi Lain, volume perdagangan dan harga komoditas dunia diprediksi masih berlanjut, sehingga menopang prospek ekspor negara berkembang, termasuk kinerja ekspor Indonesia.

Sementara itu, Ketidakpastian pasar keuangan global masih berlanjut sejalan dengan percepatan kebijakan normalisasi bank sentral Amerika Serikat The Fed sebagai respon tekanan inflasi di Amerika Serikat, yang meningkat sejalan dengan gangguan rantai pasok, dan kenaikan permintaan, serta tingginya penyebaran covid-19 varian omicron.

“Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya aliran modal dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk ke Indonesia,” pungkas Perry.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya