Prediksi OECD Soal Angka Inflasi Dunia

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 02 Des 2021, 21:15 WIB
Diperbarui 02 Des 2021, 21:18 WIB
FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Angka inflasi di seluruh dunia akan naik lebih lama dan lebih tajam dari yang diperkirakan sebelumnya, dengan meningkatnya risiko bahwa rumah tangga dan bisnis menjadi terbiasa dengan kenaikan harga yang lebih cepat.

Hal itu diungkap oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) terkait proyeksi terbarunya untuk ekonomi global.

OECD juga memperingatkan, jika varian baru COVID-19 Omicron mengurangi keefektifan vaksin yang sudah tersedia, ekonomi dunia dapat menghadapi perlambatan yang lebih tajam dari yang diperkirakan sebelumnya.

Menurut lembaga tersebut, inflasi di AS sekarang diperkirakan akan mencapai 4,4 persen pada 2022. Angka tersebut naik dari 3,1 persen ketika prediksi terakhir dirilis pada September 2021.

Sedangkan inflasi di zona euro diperkirakan menjadi 2,7 persen - naik dari 1,9 persen.

Prakiraan baru ini dibuat sebelum ditemukannya varian baru Omicron.

OECD juga memperkirakan inflasi berada di atas target 2 persen di Federal Reserve AS hingga 2,5 persen pada 2023, meskipun inflasi zona euro diperkirakan berada tepat di bawah target Bank Sentral Eropa pada 1,8 persen pada tahun yang sama.

Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal, Kepala Ekonom OECD yakni Laurence Boone mengatakan ada peningkatan risiko bahwa rumah tangga dan bisnis melihat tingkat inflasi yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Skeptis

Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Turun 5,6 Persen Akibat Covid-19
Perbesar
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Dengan tingkat inflasi yang mengejutkan pembuat kebijakan selama beberapa bulan terakhir, ada risiko terkait bahwa rumah tangga dan bisnis akan kehilangan kepercayaan pada jaminan yang ditawarkan oleh beberapa bank sentral bahwa inflasi yang lebih tinggi akan terbukti bersifat sementara.

"Itu mengkhawatirkan," ujar Boone.

"Orang-orang telah mengatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi bersifat sementara selama 10 bulan atau lebih. Saya akan benar-benar mengerti jika beberapa orang mulai menjadi skeptis tentang itu," pungkasnya.

Beberapa pembuat kebijakan tampaknya waspada terhadap masalah tersebut.

Dalam kesaksian kepada anggota parlemen, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menarik perkiraan awal Bank Sentral AS bahwa kenaikan harga akan berumur pendek, atau sementara.

"Mungkin ini saat yang tepat untuk menghentikan kata itu dan menjelaskan lebih jelas apa yang kami maksud," ungkap Powell.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya