Harga Emas Merosot, Investor Spekulasi Pernyataan The Fed

Oleh Tira Santia pada 01 Des 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 01 Des 2021, 07:30 WIB
20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia
Perbesar
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Harga emas merosot pada hari Selasa karena investor terpaku pada pernyataan yang tampaknya hawkish dari ketua Federal Reserve AS. Pelemahan ini sekaligus menghapus kenaikan dari reli lebih dari 1 persen yang dipicu oleh kekhawatiran atas varian virus corona Omicron.

Dikutip dari CNBC, Rabu (1/12/2021), harga emas di pasar spot turun 0,7 persen menjadi USD 1.773,21 per ons pada 14:14. ET (1914 GMT). Emas berjangka AS turun 0,5 persen pada USD 1,776,5.

Harga sebelumnya naik sebanyak 1,3 persen di awal sesi setelah peringatan dari CEO Moderna bahwa vaksin COVID-19 cenderung kurang efektif terhadap varian baru.

Dalam sebuah kesaksian di hadapan Komite Perbankan Senat AS, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan The Fed kemungkinan akan membahas percepatan pengurangan pembelian obligasi skala besar pada pertemuan berikutnya.

Komentar Powell mendorong sedikit rebound dalam dolar AS, yang telah stabil sejak saat itu.

"Semua orang mendapat sedikit kejutan karena Powell bergerak lebih dekat ke sisi hawkish," kata Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA, menambahkan The Fed kemungkinan akan menerapkan kenaikan suku bunga pada kecepatan yang lebih cepat.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kekhawatiran

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia
Perbesar
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Emas digunakan untuk lindung nilai terhadap inflasi, tetapi kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang memegang emas.

Tetapi dalam jangka panjang, emas akan didukung oleh kekhawatiran atas varian virus, tambah Moya.

Penurunan emas datang bersamaan dengan penurunan di Wall Street setelah komentar Powell mengisyaratkan pergeseran yang lebih cepat ke kebijakan pengetatan melukai sentimen risiko yang sudah terbebani oleh kekhawatiran atas Omicron.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya