British International Investment Siap Tanam Modal ke Asia, Termasuk Indonesia?

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 30 Nov 2021, 15:30 WIB
Diperbarui 30 Nov 2021, 15:34 WIB
Menlu Inggris Liz Truss dan Menlu RI Retno Marsudi, Kamis (11/11/2021).
Perbesar
Menlu Inggris Liz Truss dan Menlu RI Retno Marsudi, Kamis (11/11/2021). Dok: Kemlu

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss meluncurkan wajah baru lembaga keuangan pembangunan Inggris. Lembaga tersebut, yang sebelumnya bernama CDC di Bursa Saham London, akan diganti menjadi British International Investment (BII) di bawah pimpinan baru, Diana Layfield.

BII akan menginvestasikan miliaran dana di bidang infrastruktur dan teknologi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di seluruh Asia, Afrika dan Karibia.

BII akan menjadi bagian penting dari rencana pemerintah Inggris untuk memobilisasi hingga £8 miliar setahun untuk investasi sektor publik dan swasta dalam proyek-proyek internasional hingga 2025.

Ini akan mencakup kemitraan BII dengan pasar modal dan dana abadi negara untuk meningkatkan pembiayaan dan membantu sektor swasta masuk.

Pada kunjungan Menlu Inggris Liz Truss baru-baru ini ke Indonesia, Presiden RI Joko Widodo maupun Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengangkat investasi infrastruktur hijau, menyusul pembicaraan antara Jokowi dan Perdana Menteri Boris Johnson mengenai isu tersebut.

Menlu Truss telah sepakat bahwa BII akan memprioritaskan investasi infrastruktur yang berkelanjutan untuk menyediakan pembiayaan yang bersih, jujur dan dapat diandalkan serta menghindari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dibiarkan terjerat hutang buruk dan tidak berkelanjutan.

“Ketika negara demokrasi yang mencintai kebebasan berinvestasi dalam infrastruktur dan menyediakan keahlian teknis, itu membuat negara-negara lebih bebas, lebih kaya, dan lebih aman," kata Menlu Inggris Liz Truss, dikutip dari rilis Kedubes Inggris, Selasa (30/11/2021).

Truss menyebut, terlalu banyak negara yang memuat neraca mereka dengan hutang yang tidak berkelanjutan. Maka dari itu, dibutuhkan sumber keuangan yang andal dan jujur.

"Inggris dan sekutu kami akan menyediakan itu, dengan British International Investment sebagai kendaraan pengiriman utama," jelas Truss.

"Investasi ini adalah hal yang menguntungkan semua pihak. Ini menguntungkan Inggris dengan menciptakan lapangan kerja dan peluang bagi rakyat kami. Ini juga membantu menumbuhkan ekonomi di Asia, Afrika, dan Karibia sekaligus mendekatkan mereka ke demokrasi pasar bebas dan membangun jaringan kebebasan di seluruh dunia," lanjutnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pembiayaan Alternatif

Menlu Inggris Liz Truss bersama para mitra gojek di Monas.
Perbesar
Menlu Inggris Liz Truss bersama para mitra gojek di Monas. Dok: British Embassy

Adapun sambutan dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins yang mengatakan, pertemuan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Iggris dengan Presiden Joko Widodo dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membahas bagaimana bisa bekerja sama untuk mendorong lebih banyak investasi ke Indonesia, untuk memungkinkannya membangun kembali dengan lebih baik dari pandemi.

"Model pembiayaan alternatif kami yang menarik akan dicirikan oleh standar tinggi, transparansi, dan keandalan. Kami memberikan tawaran positif untuk membantu mengatasi kesenjangan pembiayaan yang signifikan yang dihadapi negara-negara berkembang saat ini dan melakukannya dengan lebih baik," imbuhnya.

Dubes Owen Jenkins melanjutkan, bahwa Inggris berkomitmen untuk bekerja dengan komunitas internasional untuk mewujudkan langkah-perubahan ini.

"Inggris sedang bergerak cepat untuk membantu negara-negara lain membangun kembali lebih baik dari pandemi, dan melawan perubahan iklim," tambahnya.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

strategi baru BII

Adapun strategi baru BII yang akan bekerja sama dengan UK Export Finance (UKEF) dan DIT, membawa keahlian Inggris untuk :

- Memainkan kekuatan Inggris sebagai pusat keuangan terkemuka dunia, termasuk bermitra dengan pasar modal dan dana abadi negara-negara.

- Berputar menuju Asia – memasuki pasar baru di Indo-Pasifik – dan Karibia.

- Menciptakan pasar untuk infrastruktur digital, teknologi, dan energi terbarukan, termasuk menjajaki peluang seperti reaktor nuklir modular kecil seperti yang sedang dikembangkan di Inggris. Kerja BII akan menguntungkan Inggris dengan menciptakan peluang di berbagai bidang seperti manajemen proyek, konstruksi, dan energi bersih.

“Nama baru kami, British International Investment, dibangun di atas apa yang telah menjadi kisah sukses Inggris yang unik di CDC, membawa hal-hal terbaik dari keuangan, inovasi, etika, dan standar Inggris ke negara-negara berkembang," kata Ketua Eksekutif BII, Nick O'Donohoe.

"Selama 5 tahun terakhir kami telah menginvestasikan hampir £7 miliar dan memobilisasi miliaran lebih banyak di Asia dan Afrika – dan dengan demikian telah mendukung berbagai bisnis yang mempekerjakan lebih dari 900.000 orang dan telah membayar pajak lebih dari £10 miliar," paparnya.

Strategi baru, O'Donohoe menjelaskan, akan memungkinkan BII berinvestasi lebih jauh di lebih banyak negara dan akan memungkinkan pihaknya membiayai infrastruktur kritikal yang akan memungkinkan semua negara membangun kembali dengan lebih baik dan membuat perbedaan positif bagi kehidupan yang tak terhitung jumlahnya

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya