3 Miliarder Murah Hati Sumbangkan Seluruh Harta Sebelum Wafat

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 30 Nov 2021, 21:00 WIB
Diperbarui 30 Nov 2021, 21:00 WIB
Ilustrasi pendanaan startup, funding startup, dolar, uang dolar, uang
Perbesar
Ilustrasi pendanaan startup, funding startup, dolar, uang dolar, uang. Kredit: Gerd Altmann via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa waktu lalu, inisiatif Giving Pledge menyerukan para miliarder untuk memberikan seluruh kekayaan mereka setelah meninggal dunia. 

Inisiatif tersebut, dibuat oleh miliarder Bill Gates dan Warren Buffet. Ternyata inisiatif Giving Pledge bukan satu-satunya gerakan amal oleh para miliader.

Ada sejumlah miliarder yang berminat menyumbangkan kekayaan mereka bahkan sebelum meninggal dunia.

Dikutip dari laman inc.com, berikut adalah tiga miliarder yang menyumbangkan kekayaan mereka sebelum meninggal dunia, Selasa (30/11/2021):

1. Chuck Feeney

Tidak seperti kebanyakan miliarder 'self made', Chuck Feeney, yang memiliki latar belakang dari kelas menengah, sepertinya tidak pernah lupa dari mana dia berasal.

Miliarder kelahiran New Jersey, Amerika Serikat itu memperoleh kekayaannya dengan menjual barang-barang mewah bebas bea cukai, dan selalu hidup sederhana.

Terkenal pemalu, Feeney merahasiakan identitasnya selama 17 tahun pertama sebagai penyumbang. 

Sekarang, pada usia 89, dia tinggal di apartemen kecil bersama istrinya, setelah menyerahkan seluruh kekayaannya senilai sekitar USD 9 miliar.

 


Chuck Feeney Hingga Yu Pengnian

Ilustrasi menjadi kaya (pixabay)
Perbesar
Ilustrasi kaya (pixabay)

 

2. Andrew Carnegie

Selama bertahun-tahun, gagasan pengusaha baja Andrew Carnegie tentang pemberian amal menjadi sorotan, dengan memberikan uang receh kepada anak-anak jalanan.

Di sisi lain, Carnegie memberikan fasilitas bekerja di pabriknya yang nyaman, dilengkapi dengan perpustakaan umum dan jaminan keamanan di tempat kerja.

Carnegie berhasil memberikan seluruh kekayaannya sebelum dia meninggal.

3. Yu Pengnian

Miliader asal China, Yu Pengnian memiliki perjalanan hidupnya yang begitu keras. Ia pernah menjadi tahanan di kamp kerja paksa.

Yu kemudian memulai usahanya di perhotelan, dengan model sewa-per-jam yang melayani psk jalanan. Namun, dia dengan cepat mengumpulkan kekayaannya hingga miliaran.

Pada saat dia meninggal pada tahun 2015, ia telah memberikan semua kekayaannya, dan tidak meninggalkan apa pun untuk kedua putranya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya