Kredit Bank hingga Oktober 2021 Tumbuh 3,24 Persen

Oleh Liputan6.com pada 26 Nov 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 26 Nov 2021, 16:30 WIB
Ilustrasi daftar kode bank
Perbesar
Ilustrasi daftar kode bank. (Photo by vectorjuice on Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Industri keuangan khususnya perbankan mulai menunjukkan kinerja positif di Oktober 2021. Industri perbankan memang sempat mengalami tekanan selama pandemi Covid-19 tetapi dari sisi permodalan dan likuiditas tetap terjaga. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengatakan, hingga Oktober 2021 penyaluran kredit perbankan tumbuh 3,24 persen atau Rp 5,8 triliun secara year on year (yoy). Angka ini meningkat pula jika dibandingkan posisi September 2021 yang hanya tumbuh 3,21 persen.

"Sedangkan risiko kredit yang masih dalam rentang aman," kata dia dalam Webinar Membangun Optimisme Baru untuk Mendorong Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Jumat (26/11/2021).

Untuk posisi aset sampai dengan Oktober tumbuh 7,05 persen atau sebesar Rp 9,8 triliun. Sementara posisi DPK pada periode tersebut tumbuh 8,70 persen atau setara dengan Rp 7,4 triliun.

"Kita mencatat juga bahwa NPL gross sebesar 3,2 persen namun memang masih menunjukkan tingkatan yang perlu kita waspadai," kata dia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Permodalan

FOTO: Pengembangan Sistem Digital Perbankan di Tahun 2021
Perbesar
Nasabah beraktivitas di salah satu kantor cabang digital Bank BNI di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai transaksi ekonomi digital Indonesia pada tahun 2025 diprediksi mampu mencapai USD 124 miliar. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Di samping itu, OJK juga mencatat posisi permodalan perbankan masih tergolong perkasa. Di mana rasio KPMM pada Oktober 2021 tumbuh 25,34 persen. Pertumbuhan ini, tentunya turut mendukung likuiditas perbankan yang cukup apple.

"Beberapa rasio menunjukkan cukup baik demikian juga profitabilitas juga tergolong baik terjamin dari rasio NIM dan BOPO masing-masing 4,52 persen dan 83, 14 persen" ujar dia.

Meski terbilang baik, Heru yang juga Anggota Dewan Komisioner OJK ini juga tetap mewaspadai masih tingginya gap antara pertumbuhan kredit. Serta DPK yang juga berpotensi menurunkan profitabilitas industri perbankan Tanah Air.

"Demikian juga risiko kredit yang tentunya menjadi perhatian kita," pungkas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya