Garuda Indonesia Bakal Digantikan Pelita Air? Tak Semudah Itu Ferguso

Oleh Arief Rahman Hakim pada 28 Okt 2021, 17:30 WIB
Diperbarui 28 Okt 2021, 17:30 WIB
Pesawat Airbus A330 Garuda Indonesia
Perbesar
Pesawat Airbus A330 Garuda Indonesia mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Blang Bintang, Provinsi Aceh pada 13 Juli 2021. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Garuda Indonesia disebut-sebut akan digantikan oleh Pelita Air ditengah langkah restrukturisasi yang masih terus diupayakan. Namun, langkah penggantian itu dipandang bukan hal yang mudah oleh pengamat.

Diketahui, penggantian Garuda Indonesia dikatakan jadi salah satu opsi yang bisa diambil jika restrukturisasi yang sedang digenjot oleh Garuda Indonesia saat ini tidak membuahkan hasil.

Menanggapi wacana penggantian Garuda Indonesia dengan Pelita Air,  Pengamat penerbangan Arista Atmadjati mengungkapkan, apabila Garuda Indonesia ditutup oleh pemerintah akibat permasalahan keuangan dan akan digantikan oleh Pelita Air maka peluang dan tantangannya akan berbeda.

Ia menyebutkan posisi Garuda indonesia saat ini tidak mudah untuk digantikan oleh Pelita Air. Hal itu ditinjau dari berbagai aspek, baik sarana, kualitas, hingga citra perusahaan.

“Posisi Garuda Indonesia tidak mudah digantikan dengan Pelita Air. Hal tersebut lantaran Garuda Indonesia memiliki sarana prasarana yang sangat besar termasuk jumlah pesawat dan rute yang dilayani yang tidak sebanding dengan Pelita Air saat ini,” katanya dalam keterangan, Kamis (28/10/2021).

Dengan adanya tantangan yang meliputi tersebut, ia menaksir proses penggantian untuk bisa sampai pada level Garuda Indonesia saat ini perlu waktu yang tidak sebentar.

“Kemudian Pelita Air juga belum memiliki citra perusahaan (branding) sebaik maskapai Garuda Indonesia. Perlu waktu bertahun tahun untuk mendatangkan pesawat maupun mengembangkan rute penerbangan  internasional. Selain itu, terkait citra dan branding, hal tersebut juga bukanlah hal yang mudah,” katanya.

Sebagai solusinya, Arista menyarankan Pelita Air untuk mengisi slot penerbangan perintis atau feeder di sejumlah pulau di seluruh Indonesia. Selain mengisi slot penerbangan perintis, Pelita Air juga membuka jasa angkutan barang atau kargo dan komoditas perikanan di wilayah Indonesia Timur. Dan Pelita Air juga dapat memaksimalkan bisnis perawatan dan pemeliharaan pesawat (maintenance).

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dominasi Pasar Domestik

Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG
Perbesar
Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG (dok: GIA)

Sementara itu, Pakar Industri Penerbangan, Hendra Soemanto berharap dengan proses restrukturisasi Garuda Indonesia yang masih terus berjalan, kedepannya maskapai pelat merah itu bisa mendominasi pasar domestik dan internasional.

“Garuda Indonesia sebagai National Flight Carrier harus memposisikan dirinya menjadi sebuah perusahaan penerbangan besar serta harus mendominasi pasar domestik dan international,’ katanya.

"Tentunya, dengan itikad baik bersama serta tata kelola manajemen yang mumpuni dan profesional di industri penerbangan komersial dari seluruh jajaran direksi dan insan garuda di dalamnya, dengan satu tujuan, menjadikan Garuda Indonesia baru sebagai maskapai dengan profit oriented yang dikontrol oleh sebuah Holding yang mumpuni kelak," tambahnya.

Sebelumnya, Menanggapi berbagai opsi yang berkembang di masyarakat soal masa depan Garuda Indonesia, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menganggap langkah restrukturisasi menjadi sebuah opsi yang paling tepat dan relevan. Dia juga meyakini upaya ini akan sukses ke depannya, dengan demikian tak perlu ada opsi penggantian oleh Pelita Air sebagai National Flight Carrier.

"Langkah restrukturisasi tersebut yang saat ini terus kami perkuat melalui sinergitas BUMN salah satunya bersama Pertamina dimana pada akhir tahun 2020 lalu kami berhasil memperoleh kesepakatan perpanjangan waktu pembayaran kewajiban usaha selama tiga tahun dari total outstanding yang tercatat hingga akhir tahun 2020 terhadap Pertamina," kata Irfan, Kamis (28/10/2021).

Ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut yang terus diperkuat melalui diskusi penjajakan restrukturisasi bersama Pertamina untuk kewajiban usaha yang tercatat pada tahun 2021 ini.

Dan dirinya optimis dan percaya langkah yang telah berhasil dijajaki bersama Pertamina maupun berbagai mitra usaha lainnya sejauh ini, menjadi fondasi fundamental bagi kelangsungan bisnis Garuda Indonesia kedepannya.

"Ditengah percepatan langkah restrukturisasi  bersama mitra usaha, Garuda Indonesia memastikan bahwa seluruh aspek kegiatan operasional penerbangan akan tetap berlangsung dengan normal, dimana kami berkomitmen untuk senantiasa mengoptimalkan standar layanan penerbangan yang aman dan nyaman untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat maupun pengangkutan kargo bagi sektor perekonomian nasional," kata Irfan.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya