China Batasi Jatah Solar di Tengah Krisis Energi

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 28 Okt 2021, 18:31 WIB
Diperbarui 28 Okt 2021, 18:31 WIB
China Laporkan 0 Kasus Harian Covid
Perbesar
Orang-orang, beberapa mengenakan masker, berjalan di sepanjang jalan perbelanjaan dekat Shanghai Bund di Shanghai, China, Senin (23/8/2021). Untuk pertama kalinya sejak Juli lalu, Otoritas Kesehatan China pada Senin (23/8) melaporkan nol kasus corona Covid-19 penularan lokal. (AP/Andy Wong)

Liputan6.com, Jakarta - SPBU di beberapa wilayah di Chinamulai menjatah solar di tengah kenaikan harga BBM dan penurunan pasokan, seiring krisis energi yang melanda negara tersebut.

Sebuah posting di platform media sosial China, yaitu Weibo, menyebutkan bahwa beberapa pengemudi truk di negara itu harus menunggu sepanjang hari untuk mengisi bahan bakar, seperti dikutip dari BBC, Kamis (28/10/2021).

China saat ini berada di tengah krisis energi listrik besar-besaran, karena kekurangan batu bara dan gas alam dan banyak rumah warga mengalami pemadaman listrik.

Para analisis menyebutkan, masalah terbaru ini kemungkinan hanya akan berkontribusi pada krisis rantai pasokan global yang sedang berlangsung.

"Kekurangan solar saat ini tampaknya mempengaruhi bisnis transportasi jarak jauh yang dapat mencakup barang-barang yang dimaksudkan untuk pasar di luar China," kata China Director di Economist Intelligence Unit, Mattie Bekink.

"Tergantung pada durasi dan intensitas krisis ini, kita bisa melihat ini berkontribusi pada tantangan rantai pasokan global," bebernya.

Krisis rantai pasokan global sebagian besar didorong oleh pandemi COVID-19, dengan melonjaknya permintaan ketika ekonomi memulai pemulihan kembali.

Di China, truk hanya diizinkan untuk mengisi 100 liter masing-masing - sekitar 10 persen dari kapasitasnya, menurut keterangan dari seorang dealer truk dari kota Shijiazhuang di provinsi Hebei, kepada media bisnis China, Caixin.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Krisis Batu Bara di China

Ekspor Batu Bara Indonesia Menurun
Perbesar
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Di wilayah lain di China, sebuah laporan menunjukkan jatah BBM diperketat bagi pengemudi. Mereka hanya diperbolehkan membeli hingga 25 liter.

Sementara itu, di kota Fuyang, sekitar tujuh jam perjalanan ke selatan dari pusat transportasi utama Shijiazhuang, Caixin melaporkan bahwa SPBU membatasi pembelian atau membebankan biaya tambahan kepada pengemudi hingga 300 yuan untuk mengisi tangki mereka.

"Setelah pergi ke beberapa SPBU, tidak ada lagi solar, dan harga akan terus naik, dan truk besar yang menjalankan logistik tidak akan bisa mengisi bahan bakar," tulis seorang pengguna platform Weibo.

Yang lain juga mengeluhkan dampak inflasi dan pengiriman.

Aidan Yao, seorang ekonom senior Asia yang baru muncul di AXA Investment Managers, mengatakan kepada BBC bahwa, sementara pasar sangat menyadari kekurangan batu bara di China, "masalah diesel menjadi hal baru".

"Semua bahan bakar fosil telah melihat kenaikan harga akhir-akhir ini karena kurangnya investasi dalam sumber bahan bakar, ini menciptakan kekurangan pasokan pada saat permintaan melonjak," kata Yao.

"Harga minyak, gas, batu bara semuanya bergerak beriringan dan menembus atap," ujarnya.

Harga minyak telah mencapai level tertinggi sejak 2014 dalam beberapa pekan terakhir, menyebabkan krisis bahan bakar di sejumlah negara dan wilayah seperti Eropa dan Inggris, salah satunya.

Masalah tersebut didorong oleh kekurangan batu bara dan gas alam di negara-negara seperti China dan India, yang diprediksi oleh para analis akan melihat pengguna minyak beralih ke pembangkit listrik dan pemanas.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya