Begini Gambaran Tata Kota Indonesia di Masa Depan

Oleh Arief Rahman Hakim pada 26 Okt 2021, 17:20 WIB
Diperbarui 26 Okt 2021, 17:20 WIB
FOTO: Instalasi Kabel Dibiarkan Semrawut di Kebayoran Baru
Perbesar
Instalasi kabel yang semrawut terlihat di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (11/11/2020). Kurangnya penataan menjadi penyebab instalasi kabel di Ibu Kota kian semrawut sehingga mengganggu kenyamanan serta keselamatan warga. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Staf Ahli Kementerian PUPR, Dadang Rukmana menyebut regenerasi urban di Indonesia belum dilaksanakan secara optimal. Bahkan, ia menyebut belum diimplementasikan dalam berbagai pembangunan.

Menurut pengalamannya, hingga saat ini Dadang mengatakan terkait Regenerasi Urban ini masih sebatas diskusi dan wacana di tingkat akademisi.

“Pengalaman saya 30 tahun urusin perkotaan, saya simpulkan regenerasi urban di indonesia ini sebagai sebuah konsep implementasi komprehensif ini belum, baru wacana di kalangan akademisi,” katanya dalam Seminar dan Peluncuran Buku Regenerasi Urban, Selasa (26/10/2021).

Ia mengatakan bahwa kondisinya saat ini kota-kota di Indonesia cenderung masih berumur muda, sehingga konsep pembangunannya masih pada lingkup development dan belum menghidupkan kawasan terlantar.

“Kita belum ke regenerasi, lebih ke development, ke depan mau tidak mau past ada proyek regenerasi urban ini karena ada penurunan pelayanan dari sebuah kawasan atau sebagian wilayah di perkotaan,” katanya.

Masih Pada Penataan Kumuh

Lebih lanjut, Dadang menuturkan bahwa pembangunan kawasan urban di perkotaan masih sebatas pada penataan lingkungan kumuh. Yang menurut masih belum seluruhnya mencakup konsep regenerasi urban.

Ia menyebutkan, bahwa syarat dari adanya regenerasi urban adalah penataan ulang kawasan yang terbengkalai yang sebelumnya adalah kawasan aktif. Tujuannya dengan menghidupkan fungsi lama atau menghadirkan fungsi baru.

Hal ini jika dibandingkan dengan negara lain yang sudah melaksanakan regenerasi urban, karena kawasan kota yang sudah lebih lama dibangun sehingga banyak yang fungsinya terbengkalai.

“Masih dalam bentuk penataan kawasan kumuh, yang bukan sebagai kawasan terencana. Misal improvement project, tapi tadi tidak dedikasi untuk dulunya bagus terencana terus intervensi disitu,” katanya,

Ia menuturkan, terkait penataan kawasan kumuh ini juga telah memiliki beberapa program. Misalnya program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Bandung Urban Development Project, Surabaya Urban Development Project, dan Medan Urban Development Project.

“Nah jadi sejauh ini kita belum ada suatu proyek regenerasi urban yang masif dan sistematis, yang menata kawasan kota yang tadinya aktif lalu terdegradasi dan dibangun untuk diaktifkan lagi,” katanya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tren Urbanity

Kementerian PUPR menyelesaikan program penataan kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Cipedes dan Panyingkiran (Cipanyir), Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Perbesar
Kementerian PUPR menyelesaikan program penataan kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Cipedes dan Panyingkiran (Cipanyir), Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. (dok: PUPR)

Selain itu, dadang juga menuturkan bahwa kedepannya akan hadir beberapa tren urban kedepannya. ia memprediksi kedepannya akan diperlukan ruang-ruang hybrid untuk digunakan secara bersama dan dengan berbagai fungsi.

“Rumah itu hanya transit saja, jadi banyak dibangun tempat-tempat harus ada colokan, ada pulsa, ada internet, jadi bisa kerja dimana saja,” katanya.

Kemudian, makin maraknya tempat-tempat seperti ini akan memunculkan juga sistem-sistem hybrid lainnya, misal ekonomi hibrid, sistem politik hybrid. Ia mencontohkan sistem politik yang digunakan oleh China.

“China politiknya komunis tapi ekonominya kapitalis, jadi melihatnya adalah output dan outcome, jadi kepada hasil bukan lagi bentuk produknya,” katanya.

Selain itu, Dadang juga mengatakan bahwa para pembangun kota nantinya dalam sektor-sektor swasta, sehingga marketing penamaan kota tersebut menyertakan nama perusahaan yang membangunnya.

“Sebetulnya susah memprediksi masa depan, karena variabelnya bertambah, situasinya berubah, serta teknologi disruptif, jadi susah prediksi, ini tantangan untuk generasi milenial, planing masa lalu itu sudah kuno,” katanya.   

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya