MarkAI Diduga Investasi Bodong, Korban Diminta Lapor Polisi

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 21 Okt 2021, 21:29 WIB
Diperbarui 21 Okt 2021, 21:37 WIB
Ilustrasi Investasi bodong
Perbesar
Ilustrasi Investasi bodong (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Liputan6.com, Jakarta PT Teknologi Investasi Indonesia, pembuat aplikasi robot trading cryptocurrency bernama MarkAI dilaporkan oleh anggotanya atas tuduhan penipuan. Laporan dilayangkan ke Polda Metro Jaya, Rabu (20/10).

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam L. Tobing menegaskan, MarkAI tidak memiliki legalitas di Indonesia. Sehingga ia menyarankan agar masyarakat yang dirugikan segera melapor ke pihak berwenang.

“Mark AI tidak memiliki izin di Indonesia. Masyarakat yang dirugikan agar segera lapor ke polisi,” kata dia kepada Liputan6.com, Kamis (21/10/2021).

Sebelumnya, Tongam juga telah menegaskan terkait hal-hal yang terindikasi investasi bodong atau penipuan berkedok robot trading. Salah satunya, keputusan investasi untuk jual atau beli mestinya berasal dari investor, bukan pihak lain. Di sisi lain, ia juga tak henti-hentinya mengingatkan untuk memeriksa legalitas perusahaan.

“Jangan sekali-kali melakukan investasi perdagangan berjangka komoditi ke pihak lain yang bukan perusahaan perdagangan berjangka komoditi yang berizin dari Bappebti,” ujar Tongam.

Dihubungi secara terpisah, Pengamat dan Praktisi Investasi Desmond Wira, menjelaskan bahwa Mark AI adalah robot trading untuk kripto. Jadi nasabah ditawari untuk berinvestasi dalam bentuk paket-paket investasi, yang akan dijalankan oleh robot dalam trading kripto.

“Klaim Mark AI bisa memberikan keuntungan konsisten sebesar 15 persen - 45 persen per bulan. Jadi para investor hanya perlu duduk, diam, dan dapat duit,” jelasnya.

Namun setelah dua minggu member tidak bisa menarik dananya, akhirnya Mark AI terbukti adalah penipuan. Dalam catatannya, jumlah member Mark AI kini mencapai sekitar 500 ribu orang.

“Senin tanggal 18 Oktober 2021 website dan aplikasinya tidak bisa diakses lagi. Semua grup resminya tidak bisa dihubungi. Tentu saja, uang nasabah yang sudah diserot lenyap semua,” kata dia.

IA menyimpulkan, Mark AI sebenarnya adalah money game. Di mana uang profit trading kripto sebenarnya berasal dari uang setoran nasabah baru. Sementara tradingnya adalah rekayasa. Alias uang nasabah hanya diputar-putar saja di dalam.

“Saya sudah sejak lama memperingatkan akan bahaya tawaran investasi bodong yang berkedok robot trading abal-abal. Risikonya sangat besar. Karena akhirnya sudah pasti, uang lenyap semua,” tegasnya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Marak

Ciptakan Investor Pasar Modal Berkualitas Lewat Kompetisi Saham
Perbesar
Layar sekuritas menunjukkan data-data saat kompetisi Trading Challenge 2017 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (7/12). Kompetisi Trading Challenge 2017 ini sebagai sarana untuk menciptakan investor pasar modal berkualitas. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Desmond membeberkan, saat ini tawaran investasi bodong berkedok robot trading tengah marak dengan jenis robotnya yang beragam. Mulai dari trading forex, emas, sampai kripto.

“Semuanya sebenarnya sama, yaitu money game,” kata dia.

Lebih lanjuta, Desmond mengingatkan kepada masyarakat agar tetap waspada. Sekaligus mengenali ciri-cirinya supaya tidak terjebak ikut investasi bodong.

Ia menjabarkan, investasi bodong kerap ditawarkan dalam bentuk paket-paket investasi. Biasanya menggunakan broker tertentu, umumnya broker yang tidak jelas regulasinya.

Ciri-cri selanjutnya, investasi bodong umumnya sitawarkan dengan sistem MLM (member get member), serta menawarkan profit yang cenderung besar

“Pada intinya masyarakat harus waspada pada tawaran investasi yang menjanjikan untung besar tapi bisa didapatkan dengan cara mudah dan cepat seperti duduk manis dapat duit. Karena umumnya yang seperti itu pasti investasi bodong,” pungkasnya.

Sebelumnya, Salah satu korban Mark AI, Duta, menyampaikan bahwa dirinya mulai merasakan ketidakberesan Mark AI sejak 15 Oktober 2021 lalu. Ketika itu, para member mengeluh tak bisa melakukan penarikan maupun menyimpan dana.

"Programnya untuk transaksi deposit atau penarikan dana distop sejak 15 Oktober 2021 dengan alasan untuk menghindari aliran dana masuk dari suntown forex ke MarkAI," kata dia di Polda Metro Jaya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Aplikasi Tak Bisa Diakses

Trading Forex
Perbesar
Olymp Trade Forex memiliki lebih dari 25 ribu klien setiap hari trading.

Kekhawatiran Duta semakin menjadi-jadi ketika website Mark AI termasuk aplikasi yang ada di android tak bisa lagi diakses pada 18 Oktober 2021. Karena itu, Duta merasa perlu melibatkan pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dugaan penipuan robot trading kripto tersebut.

"Sejak itu member kisruh dan resah. Makaya kami lanjutkan pelaporan agar penipuan serupa enggak terulang di masyarakat," ujar dia.

Duta mengaku, ia tergolong member yang rutin menginvestasikan uang ke Mark AI. Bahkan, keuntungan yang diperoleh kembali diputar ke Mark AI. Hingga saat ini sekira 4.000 dollar uang miliknya mengendap di MarkAI.

"Dari 5.000 uang tertanam masih 4.000 dolar uang saya yang masih mengendap," ucap dia

Fisiharto, member Mark AI lainnya juga bernasib serupa. Ia mengaku membawahi 120 orang dengan total investasi paling tinggi Rp 700 juta. Fisiharto sendiri mengaku merugi Rp 128 juta.

"Kalau saya rugi Rp 128 juta," ucap dia.

Menurut catatan Liputan6.com, laporan member robot trading kripto Mark AI saat ini masih diproses di SPKT Polda Metro Jaya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya