Harga Emas Tersandung Imbal Hasil Obligasi AS

Oleh Arief Rahman Hakim pada 20 Okt 2021, 08:10 WIB
Diperbarui 20 Okt 2021, 08:10 WIB
Ilustrasi Harga Emas Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Emas Naik

Liputan6.com, Jakarta Kenaikan imbal hasil Treasury AS dan pendapatan kinerja yang baik dari perusahaan-perusahaan Amerika memangkas kenaikan harga emas.

Harga emas susut usai naik lebih dari 1 persen sebelumnya, karena daya tarik safe-haven mendapat pukulan dari imbal hasil obligasi AS.

Melansir laman CNBC, Rabu (20/10/2021), harga emas di pasar spot naik 0,3 persen menjadi USD 1.769,94 per ons.

Harga itu naik sebanyak 1,2 persen di awal sesi seiring melemahnya Dolar AS yang membuat logam mulia lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Adapun emas berjangka AS untuk bulan Desember ditutup naik 0,3 persen menjadi USD 1.770,5. “Tidak banyak keyakinan pada emas batangan saat ini,” kata Edward Moya, Analis Pasar Senior di perusahaan pialang OANDA.

“Kami tidak tahu persis apakah kami akan melihat perubahan besar dari Federal Reserve. Anda melihat penghasilan, sebagian besar, mengesankan, dan itu menjadi pendorong utama untuk menjaga selera risiko tetap kuat.”

Wall Street naik pada hari Selasa, dibantu hasil optimis dari Johnson & Johnson dan perusahaan asuransi Travelers.

Mengurangi daya tarik emas, yang tidak memberikan imbal hasil, imbal hasil obligasi 10-tahun AS mencapai level tertinggi sejak awal Juni di 1,6302 persen.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harapan Pelaku Pasar

Ilustrasi Harga Emas. Foto: Freepik
Perbesar
Ilustrasi Harga Emas. Foto: Freepik

Pelaku pasar semakin mengharapkan The Fed untuk mulai mengurangi pembelian asetnya segera. Itu karena musim pendapatan telah menunjukkan kinerja baik dan data terbaru menunjukkan peningkatan yang solid dalam harga konsumen AS.

Pengurangan stimulus dan kenaikan suku bunga cenderung menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah, meningkatkan biaya peluang emas batangan.

Di antara logam mulia lainnya, platinum naik 0,6 persen menjadi USD 1.041,50 per ounce dan paladium melonjak 4,2 persen menjadi USD 2.100,15 per ounce.

Harga perak melonjak 2,7 persen menjadi USD 23,80 per ounce dan menyentuh level tertinggi lebih dari satu bulan.

Seiring dengan platinum dan paladium yang kemungkinan terbantu oleh short-covering, "ada beberapa harapan bahwa kekurangan chip berpotensi mencapai puncaknya," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

“Jika data menunjukkan itu masalahnya, kami harus mendapatkan beberapa peningkatan di sisi produksi mobil.”

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya