Gubernur BI: Depresiasi Rupiah Masih Lebih Baik dari India, Malaysia, dan Filipina

Oleh Liputan6.com pada 19 Okt 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 19 Okt 2021, 16:30 WIB
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5 Persen
Perbesar
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) melaporkan nilai tukar Rupiah menguat sejalan ketidakpastian pasar keuangan global yang sedikit menurun.

Gubernur BI Perry Warjiyo mencatat, nilai tukar Rupiah pada 18 Oktober 2021 menguat 1,44 persen secara point to point dan 0,33 persen secara rerata dibandingkan dengan level September 2021.

"Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, menariknya imbal hasil aset keuangan domestik, terjaganya pasokan valas domestik, dan langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia," ujarnya dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI - Oktober 2021, Selasa (19/10).

Dengan penguatan tersebut, Rupiah mencatat Depresiasi yang lebih rendah menjadi sebesar 0,43 persen (ytd) sampai 18 Oktober 2021 dibandingkan dengan level akhir 2020.

BI mengklaim depresiasi nilai mata uang garuda tersebut relatif lebih baik dibandingkan mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, termasuk Malaysia.

"Jadi, (Rupiah) relatif lebih baik dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India, Malaysia, dan Filipina," ungkap Perry Warjiyo.

Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar. Antara lain melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penguatan Rupiah Dibayangi Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

dolar ke rupiah
Perbesar
Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.

Nilai tukar rupiah pada Selasa diperkirakan terkoreksi. Hl ini lantaran pergerakan rupiah akan dipengaruhi kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Pada pukul 9.37 WIB, rupiah masih menguat 25 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp14.085 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.110 per dolar AS.

"Rupiah kemungkinan akan melemah karena dampak dari kenaikan imbal hasil US treasury," kata analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya seperti dikutip dari Antara, Selasa (19/10/2021).

Menurut Rully, perlu diwaspadai risiko terkait krisis energi, serta permasalahan ekonomi di AS dan Tiongkok.

Ekspektasi akan inflasi AS yang terus mengalami kenaikan dinilai dapat terus berdampak kepada pergerakan imbal hasil US treasury atau obligasi AS ke depan dan ada kemungkinan pertengahan November The Fed akan mulai melakukan tapering.

"Selain itu, pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang akan diumumkan hari ini, terutama bagaimana sinyal kebijakan ke depan dalam menghadapi tapering The Fed," ujar Rully.

Sementara itu, jumlah kasus harian COVID-19 pada Senin (18/10) mencapai 626 kasus sehingga total jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 4,24 juta kasus.

Sedangkan jumlah kasus meninggal akibat terpapar COVID-19 mencapai 47 kasus sehingga totalnya mencapai 142.999 kasus.

Sementara itu, jumlah kasus sembuh bertambah sebanyak 1.593 kasus sehingga total pasien sembuh mencapai 4,08 juta kasus. Dengan demikian, total kasus aktif COVID-19 mencapai 17.374 kasus.

Untuk vaksinasi, jumlah masyarakat yang sudah disuntik vaksin dosis pertama mencapai 107,98 juta orang dan vaksin dosis kedua 63,19 juta orang dari target 208 juta orang yang divaksin.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya