IMF Pangkas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI, Gara-Gara Harga Komoditas?

Oleh Tira Santia pada 15 Okt 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 15 Okt 2021, 12:00 WIB
FOTO: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Perbesar
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,2 persen di 2021. Sementara pada 2022 prediksinya ekonomi Indonesia tumbuh 5,9 persen.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat proyeksi ke bawah dari IMF didasarkan pada permasalahan supply chain global yang tengah terjadi, sehingga mendorong kenaikan harga komoditas.

“Kenaikan harga komoditas pada gilirannya mendorong harga bahan baku naik, yang kemudian ikut mendukung kenaikan inflasi global. Kenaikan inflasi global menyebabkan tergerusnya daya beli masyarakat,” kata Josua kepada Liputan6.com, Jumat (15/10/2021).

Oleh karena itu, untuk mencegah inflasi yang berkepanjangan IMF memberikan saran untuk segera melakukan pengetatan moneter segera. Bila dilihat dari pergerakan bank sentral negara maju, beberapa bank sentral mulai bersiap melakukan pengetatan, seperti Bank of England, dan The Fed.

Dia menjelaskan, pengetatan moneter sendiri diperkirakan berdampak pada aliran modal di pasar negara berkembang, sehingga terdapat potensi pelemahan nilai tukar negara berkembang.

“Di sisi lain, untuk Indonesia sendiri, sejauh ini kenaikan harga komoditas global, belum mendorong kenaikan inflasi domestik,” ujarnya.

Kendati demikian, nilai tukar Rupiah diperkirakan akan cenderung stabil di tengah penguatan harga batu bara dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Karena kenaikan harga komoditas tersebut membantu neraca dagang Indonesia, yang kemudian mendorong perbaikan transaksi berjalan Indonesia di kuartal III-2021.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Krisis Energi

Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Turun 5,6 Persen Akibat Covid-19
Perbesar
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Oleh karenanya, dampak dari krisis energi sejauh ini belum berdampak pada perekonomian Indonesia.

“Namun, karena pemerintah mengetatkan restriksi di kuartal III-2021, sejalan dengan gelombang 2 COVID-19, masih sangat wajar bahwa proyeksi pertumbuhan Indonesia juga direvisi ke bawah,” ujarnya.

Meski begitu, bukan berarti proyeksi tersebut menjadi patokan, Josua optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 ini berdasarkan proyeksinya akan berada di kisaran 3-3,5 persen. Artinya masih berpeluang melebihi proyeksi IMF.

“Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan akan berada dalam kisaran 3-3,5 persen," pungkasnya.   

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya