81 Persen Pengusaha Keluhkan Penjualan Loyo Selama Pandemi Covid-19

Oleh Liputan6.com pada 13 Okt 2021, 16:50 WIB
Diperbarui 13 Okt 2021, 16:50 WIB
Pos Bloc
Perbesar
Suasana kafe di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Sabtu (9/10/2021). Tidak hanya pertunjukan musik, Pos Bloc juga akan mewadahi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang kuliner, film, fesyen, dan kriya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Deputi Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Odo R.M Manuhutu menyatakan sebanyak 81 persen pengusaha melaporkan adanya penurunan penjualan produk akibat pandemi Covid-19.

Sebagaimana hasil survei The Fed selaku bank sentral Amerika Serikat.

"Bahkan, 26 persen dari pengusaha juga melaporkan penurunan penjualan hingga lebih dari 50 persen," ungkapnya dalam webinar Bank Mandiri bertajuk Transformasi Digital UMKM Merah Putih, Rabu (13/10/2021).

Odo bilang, kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia. Menyusul terbatasnya mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19.

"Oleh karena itu, pada tanggal 14 Mei 2020 Pak Presiden (Jokowi) meluncurkan BBI (Bangga Buatan Indonesia)," terangnya.

Melalui program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia pemerintah berupaya melindungi kelangsungan bisnis UMKM. Antara lain membantu perluasan akses pemasaran bagi aneka produk UMKM.

"Tujuannya apa?. Pertama, adalah membantu para UMKM, lalu memperkuat fundamental ekonomi Indonesia," tukasnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Arah Kebijakan Fiskan Berubah

Sri Mulyani Mencatat, Defisit APBN pada Januari 2019 Capai Rp 45,8 T
Perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Feb 2019 di Jakarta, Rabu (20/2). Kemenkeu mencatat defisit APBN pada Januari 2019 mencapai Rp45,8 triliun atau 0,28 persen dari PDB. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut banyak negara-negara di dunia telah mengubah arah kebijakan fiskalnya karena pandemi Covid-19. Sebab, kehadiran virus asal China itu menyebabkan penurunan pendapatan di seluruh negara termasuk Indonesia.

"Yang penting setelah pandemi, semua negara yang benar-benar mengalami pergantian kebijakan fiskal, pada saat yang sama penurunan pendapatan terjadi," kata dia saat menjadi pembicara di OECD secara virtual, Kamis (28/1).

Bendahara Negara itu menyadari, Kementerian Keuangan di setiap negara-negara saat ini memiliki tugas cukup berat. Yakni bagaimana merespons serta mengonsolidasikan seluruh kebijakan fiskalnya.

"Di setiap negara, Kementerian Keuangan memiliki tugas yang sulit untuk mengonsolidasikan dan mendayagunakan kebijakan fiskal mereka," kata dia.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya