Para CEO Perusahaan Investasi Menentang Sistem Kerja dari Rumah

Oleh Liputan6.com pada 27 Sep 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 27 Sep 2021, 07:00 WIB
Kerja dari Rumah atau WFH. Foto: Unsplash/SCREEN POST
Perbesar
Kerja dari Rumah atau WFH. Foto: Unsplash/SCREEN POST

Liputan6.com, Jakarta Sistem kerja dari rumah (Work from Home atau WFO) selama pandemi COVID-19 dianggap bisa disalahgunakan dan membuat karyawan menjadi kurang produktif khususnya dalam industri keuangan.

"Mereka menginginkan jam kerja fleksibel seperti pekerjaan paruh waktu, tetapi ingin digaji penuh," kata CEO Perusahaan Investasi VSA Capital, Andrew Monk.

Pemerintah mengatakan bahwa sistem kerja yang fleksibel memungkinkan bisnis menjadi lebih produktif.

Ada usulan agar karyawan baru bisa meminta sistem kerja yang fleksibel sejak hari pertama bekerja. Meskipun demikian, perusahaan juga berhak menolak permintaan ini.

Melansir dari BBC, Senin (27/9/2021), Monk berpikir sistem bekerja dari kantor (Work from Office) menjadi penting untuk dilakukan oleh industri keuangan. Industri keuangan adalah industri yang hidup.

Namun, beberapa perusahaan akuntansi besar seperti PwC dan Deloitte menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel.

Audit adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu lama. Dengan demikian, karyawan pun akan dibayar lebih mahal sesuai dengan hitungan jam.

“Sebenarnya, meskipun mereka semua bekerja dari rumah dan mengatakan semuanya baik-baik saja, itu tidak baik-baik saja,” kata Monk.

Lalu, Monk menambahkan, "London sangat beruntung, kami memiliki pusat keuangan yang menjadi kebanggaan dunia dan Anda harus bekerja selama berjam-jam lamanya. Jadi, Anda tidak bisa berharap mendapatkan bayaran gaji yang baik dengan tidak bekerja keras."

Diketahui jumlah karyawan yang bekerja dari rumah meningkat secara drastis sejak diterapkannya lockdown di Inggris. Kemungkinannya bisnis harus bersiap untuk menerapkan sistem bekerja dari rumah di masa mendatang.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pendapat Lainnya

Ilustrasi WFH
Perbesar
Ilustrasi WFH. Sumber foto: unsplash.com/Thought Catalog.

CEO Perusahaan Investasi Goldman Sachs David Solomon juga menentang sistem bekerja dari rumah. Ia menganggap sistem bekerja dari rumah sebagai sebuah penyimpangan.

Selain Solomon, Menteri Keuangan Rishi Sunak juga memperingatkan bahwa bekerja dari rumah bisa merusak karier generasi muda.

Sebaliknya. Anggota Parlemen Kwasi Kwarteng melihat karyawan yang diberi kebebasan untuk memilih di mana dan kapan mereka bekerja lebih produktif dan bahagia.

Sistem bekerja dari rumah ini diterapkan oleh pemilik bisnis produsen kotak kardus Belmont Packaging, Kate Hulley. Ia mengubah sistem kerja pabrik menjadi empat hari dalam seminggu. Alhasil, produktivitas bisnis menjadi meningkat.

"Ini bekerja dengan sangat baik. Pelanggan belum melihat perbedaan dalam layanan," papar Kate.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Studi: Bekerja dari Rumah Lebih Produktif

Work From Home
Perbesar
Cegah bosan dan rasa kesepian saat WFH dengan cara ini. (Foto: Unsplash)

Berdasarkan studi yang dilakukan HSBC pada 2017, Departemen Strategi Bisnis, Energi, dan Industri menyetujui sistem kerja yang fleksibel membuat karyawan menjadi lebih produktif dan bermotivasi tinggi.

Sejumlah studi berhasil menunjukkan bahwa karyawan menjadi lebih produktif jika diizinkan untuk bekerja secara fleksibel. Mereka merasa lebih mudah fokus karena terhindar dari gangguan rekan kerja di kantor.

Lebih lanjut, studi terbaru dari Universitas Southampton terkait kondisi pekerjaan selama lockdown COVID-19 menemukan 90 persen responden berpikir produktivitas mereka tetap sama, bahkan meningkat sejak bekerja dari rumah.

Reporter: Shania

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya