Masih Rahasia, 7 Negara Antre Masuk Industri Baterai Mobil Listrik Indonesia

Oleh Liputan6.com pada 17 Sep 2021, 16:50 WIB
Diperbarui 17 Sep 2021, 16:50 WIB
PHOTO: Dukung Program Pemerintah, Ini Mobil Listrik BMW Ramah Lingkungan
Perbesar
Sumber daya pengisian ulang baterai mobil listrik BMW i8 dengan menggunakan BMW i Wallbox Plus di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (26/10). Peringati Hari Listrik Nasional ke-72, BMW perkenalkan mobil elektrik ramah lingkungan. (Liputan6.com/Pool/BMW)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebutkan, sejumlah perusahaan dari berbagai negara dunia kini tengah antre masuk Indonesia. Sekitar 7 negara dikatakannya mau ikut serta dalam pembangunan industri baterai mobil listrik yang telah dimulai di Indonesia.

"Jadi ini ada sekitar 6-7 negara yang akan masuk ke Indonesia. Makanya Indonesia akan kita jadikan sebagai negara pusat produsen baterai mobil listrik," ujar Bahlil dalam sesi teleconference, Jumat (17/9/2021).

Pada Rabu (15/9/2021) lalu, dua perusahaan asal Korea Selatan yakni Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution telah memulai proses groundbreaking pabrik baterai mobil listrik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Bahlil menyatakan, Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang akan ikut serta dalam pergerakan industri baterai kendaraan listrik di Tanah Air.

"Jadi tidak benar cuman Korea aja. Tidak ada satu negara pun di dunia mengatur di Indonesia. Jadi kita memberikan ruang kompetisi yang fair. Kita harus mampu menciptakan nilai tambah di Indonesia," tegasnya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Asal Eropa hingga Asia Tenggara

Mengisi baterai mobil listrik
Perbesar
Mengisi baterai mobil listrik (Arief/Liputan6.com)

Menurut catatannya, akan ada negara asal Eropa hingga Asia Tenggara yang turut serta membangun industri baterai mobil listrik di Indonesia. Kendati begitu, dia belum mau membocorkan secara spesifik siapa saja yang kelak akan terlibat.

"Jadi Eropa pun akan masuk, China pun udah teken CATL. Kemudian ada salah satu negara lagi di Asia Tenggara yang ini akan masuk, mungkin bulan Oktober saya teken MoU-nya, baru saya umumkan," ungkapnya.

"Tunggu saya teken dulu baru umumkan. Kebetulan Kementerian Investasi punya satu pola, kerjakan dulu baik-baik, yakinkan dulu baik-baik, baru sampaikan pada publik. Kalau baru masih dalam pikiran, kami belum berani untuk mengumumkan," tegas Bahlil.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya