2 Tantangan Terbesar Kembangkan Desa Wisata, SDM dan Pemasaran

Oleh Liputan6.com pada 16 Sep 2021, 14:10 WIB
Diperbarui 16 Sep 2021, 15:09 WIB
6 Fakta Menarik Kabupaten Bangli, Satu-satunya Wilayah yang Tak Memiliki Pantai di Bali
Perbesar
Potret keindahan Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. (dok. disparda.baliprov.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - Desa wisata sedang naik daun dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini karena semakin banyak masyarakat yang menginginkan wisata dengan nuasa alami atau kembali ke alam. Desa wisata bisa menghadirkan hal tersebut

Namun, untuk mengembangkan desa wisata masih banyak menghadapi tantangan. Ketua Umum Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Panca R Sarungu mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar mengenai pengembangan sumber daya manusia (SDM). 

"Desa wisata atau desa tematik terutama di alam terbuka tengah naik daun. Banyak diperbincangkan oleh masyarakat. Banyak juga menarik pengunjung," ujarnya saat rapat dengan DPR, Jakarta, Kamis (16/9/2021).

Untuk mengembangkan sebuah desa wisata, Panca menyebutkan ada dua isu utama. Pertama terkait Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum memenuhi standar seperti yang diterapkan oleh negara-negara lain.

"Pada saat kami lihat ke daerah banyak tantangan. Pertama tantangan SDM kita tidak adanya sebuah keseragaman di dalam SDM pariwisata di daerah. Ini jadi tantangan untuk bagaimana SDM memiliki standar yang sama. Mengapa kita di bawah negara lain? itu karena SDM kita," jelasnya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tantangan Pemasaran

6 Fakta Menarik Tabanan yang Terkenal dengan Wisata Tanah Lot
Perbesar
Pemandangan Desa Jatiluwih yang berada, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. (dok. disparda.baliprov.go.id)

Tantangan selanjutnya adalah, pemasaran. Banyak kementerian dan lembaga termasuk swasta yang masuk memberikan tambahan modal kepada desa wisata namun setelah itu tidak ada pembinaan lanjutan. Sehingga desa wisata tidak berkembang.

"Jadi bagaimana memasarkan desa wisata dan memiliki standar yang sama dalam pelayanan. Masa seperti ini kaitannya dengan para wisatawan memang bagaimana penerapan prokes dilakukan," kata Panca.

Dia melanjutkan, promosi desa wisata seharusnya bisa dilakukan per paket. Hal ini bertujuan untuk memudahkan wisatawan memilih tujuan sebelum berangkat wisata.

"Kaitannya dengan pemasarannya, sudah banyak kementerian lembaga mendukung, namun selanjutnya bagaimana dipasarkan kepada masyarakat. Kalau mereservasi hotel di Semarang atau Bali per paket sangat mudah tetapi paket desa wisata belum ada," tandasnya.

 

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya