Minyak Goreng hingga Uang Sekolah Sumbang Inflasi 0,03 Persen di Agustus 2021

Oleh Andina Librianty pada 01 Sep 2021, 11:54 WIB
Diperbarui 01 Sep 2021, 12:11 WIB
Selama PPKM, Inflasi Agustus 2021 Diperkirakan 0,04 Persen
Perbesar
Pembeli berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Lembang, Tangerang, Selasa (24/8/2021). Bank Indonesia (BI) memperkirakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) alias inflasi akan berlanjut pada bulan Agustus 2021. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,57 pada Agustus 2021. Hal ini disebabkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, khususnya karena Agustus 2021 merupakan tahun ajaran baru.

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus) 2021 sebesar 0,84 persen, dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2021 terhadap Agustus 2020) sebesar 1,59 persen.

"Tingkat inflasi pada Agustus ini terlihat masih sangat terkendali yaitu sebesar 0,03 persen secara month to month. Kemudian jika kita bandingkan dengan inflasi tahun sebelumnya yaitu 2020, inflasi kita sebesar 1,59 persen. Ini meningkat sedikit dibandingkan bulan Juli lalu yang sebesar 1,52 persen," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto, dalam konferensi pers pada Rabu (1/9/2021).

Dijelaskannya, inflasi 0,03 persen pada Agustus 2021 tidak lain karena beberapa komoditas yang mengalami peningkatan diantaranya adalah minyak goreng, kemudian juga tahun ajaran baru pada Agustus 2021, sehingga uang sekolah SD, SMP maupun uang kuliah di perguruan tinggi juga alami peningkatan dengan masing-masing andil sebesar 0,02 persen.

Beberapa komoditas lain yaitu tomat, ikan segar, pepaya, rokok kretek, sewa rumah dan uang sekolah SMA juga mengalami peningkatan. Masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Selain itu, beberapa komoditas juga memberikan andil deflasi diantaranya cabai rawit dengan andil deflasi cukup besar yaitu minus 0,05 persen.

Kemudian ada beberapa komoditas lain seperti daging ayam ras, cabai merah, bayam, dan buncis, kacang panjang, kangkung, sawi hijau dan tarif angkutan udara, yang memberikan andil deflasi kepada inflasi pada periode Agustus 2021.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


IHK

Akibat Covid-19, BPS Catat Inflasi Sebesar 0,08 Persen Pada April
Perbesar
Pedagang menata dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (5/5/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08% yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Setianto mengungkapkan dari 90 kota IHK yang dimonitor pergerakan harganya, terdapat 34 kota mengalami inflasi dan 56 kota deflasi.

Kota Kendari mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,62 persen. Hal yang menyebabkan inflasi tinggi di Kendari terkait dengan komoditas ikan seperti ikan layang, ikan kembung, ikan selar, maupun ikan teri.

Sementara itu, kota dengan deflasi tertinggi yaitu Sorong minus 1,04 persen.

"Kalau kita amati, komoditas yang menyebabkan deflasi tinggi di Sorong adalah ikan kembung, angkutan udara, cabai rawit, kangkung dan sawi hijau," kata Setianto.

Inflasi terendah di kota Tanjung sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi terendah di Meulaboh, Sukabumi, dan Timika minus 0,03 persen.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya