Sukses

Transisi Energi Hijau Diprediksi Bisa Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja hingga 2050

Transisi energi hijau diproyeksikan akan menciptakan 3,6 juta lapangan kerja hingga tahun 2050.

Liputan6.com, Jakarta - SUN Energy mengandeng Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) mengembangkan teknologi tenaga surya sebagai energi baru terbarukan. Hal ini dalam rangka mendukung pemerintah dalam mengurangi dampak emisi gas rumah kaca.

Selain itu, transisi ke energi yang ramah lingkungan atau energi hijau nantinya diharapkan akan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja.

Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Chrisnawan Anditya mengatakan, untuk menurunkan dampak emisi gas rumah kaca, penyediaan energi bersih melalui energi surya menjadi salah satu strategi yang paling mudah dan tepat saat ini.

Berdasarkan Grand Strategi Energi Nasional 2020-2035, pemerintah mengharapkan tambahan pembangkit listrik energi baru terbarukan sebesar 38 GW dengan prioritas pada pembangkit listrik tenaga surya mengingat potensi tenaga surya yang berlimpah, kecepatan konstruksi dan harga yang semakin kompetitif.

Pemerintah membutuhkan dukungan bersama, baik pelaku usaha, asosiasi, akademisi maupun generasi muda. Keterlibatan akademisi maupun generasi muda melahirkan inovasi baik dalam pengembangan EBT, pemanfaatan energi surya dan sosialisasi kepada masyarakat.

"Kementerian ESDM menyambut baik kerja sama ini, serta berharap kegiatan ini dapat berkontribusi maksimal terhadap pengembangan EBT khususnya tenaga surya dan juga menjadi insiatif bagi pendidikan tinggi lain," katanya dikutip dari Antara, Kamis (19/8/2021).

Diperkirakan, setiap 1 GW akan membuka lapangan kerja hingga 20.000-30.000 dan transisi energi hijau ini diproyeksikan akan menciptakan 3,6 juta lapangan kerja hingga tahun 2050.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wikan Sakarinto mengatakan urgensi penggunaan energi baru terbarukan sudah sangat terasa di Indonesia.

"Melalui kerja sama yang diinisiasi oleh SUN Energy dan SV UGM, kami berharap bisa dilakukan dengan 2.200 institusi lain, mulai dari universitas, institut, hingga politeknik. Kerja sama ini wujud nyata 'link and match' antara industri dengan institusi pendidikan serta sebagai 'center of excellence' dan 'project based learning' bagi dosen dan mahasiswa untuk belajar langsung dari kasus nyata di industri," katanya. 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Perwujudan Kerja Sama

Direktur SUN Energy Garry Perdana mengatakan perwujudan kerja sama ini terdiri dari empat poin yakni implementasi pembangunan PLTS sebagai energi alternatif di bangunan kampus.

Kemudian, pengembangan Tempat Uji Kompetensi dan Lembaga Sertifikasi Profesi di sektor energi tenaga surya, peningkatan pengetahuan melalui kuliah umum dengan dosen tamu dari SUN Energy satu bulan sekali, penyerapan sumber daya manusia menjadi karyawan magang dan pengabdian masyarakat di daerah KKN.

"SUN Energy berkomitmen untuk terus mendorong penggunaan energi surya, serta mengembangkan kolaborasi dengan pihak-pihak kompeten untuk mempercepat visi Indonesia dalam menciptakan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan dengan pemanfaatan tenaga surya," katanya.

Sementara itu, Dekan SV UGM Agus Maryono menyatakan, perguruan tinggi sebagai "stakeholders" yang memiliki peranan penting dalam edukasi, penelitian dan pengembangan teknologi energi surya diharapkan dapat mencetak generasi muda yang dapat mengembangkan energi hijau, khususnya tenaga surya sebagai alternatif sumber energi listrik.

"Kerja sama antara SV UGM dan SUN Energy sesuai Tridharma Perguruan Tinggi diharapkan dapat dilaksanakan secepatnya pada tahun ini," kata dia.

Kegiatan belajar-mengajar menghadirkan dosen praktisi dari SUN Energy untuk mendukung pengembangan kurikulum baru mengenai energi baru dan terbarukan, pelaksanaan program pengabdian masyarakat di beberapa desa, hingga penelitian teknologi tenaga surya.

"Hal itu diharapkan bisa mencetak lulusan yang berkualitas dan siap kerja di industri masa depan, dan mendorong sumber daya manusia untuk terus meningkatkan pendidikan di bidang ini hingga jenjang yang tinggi," tutup Agus..

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.