Menkes: Pandemi Covid-19 Tak akan Hilang dengan Cepat, Mungkin Jadi Epidemi

Oleh Arief Rahman Hakim pada 16 Agu 2021, 18:51 WIB
Diperbarui 16 Agu 2021, 18:52 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam Puncak Hari Gizi Nasional ke-61 tahun 2021 (Tangkapan Layar Youtube Kementerian Kesehatan)
Perbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam Puncak Hari Gizi Nasional ke-61 tahun 2021 pada Senin (25/1/2021) (Tangkapan Layar Youtube Kementerian Kesehatan)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pandemi Covid-19 tidak akan hilang dengan cepat. Sebaliknya, ia bahkan memprediksi pandemi ini akan berubah menjadi epidemi untuk beberapa tahun ke depan.

Dengan begitu, penyebaran Covid-19 akan terjadi dalam 5 hingga 10 tahun kedepan di berbagai wilayah. Ia mengatakan ada beberapa strategi yang akan dilakukan untuk mengatasi pandemi ini.

“Kita mesti hidup dengan mereka bisa lima tahun bisa sepuluh tahun atau bisa lebih lama dari itu. Jadi fokus kita adalah tidak langsung menghapus pandemi ini tapi bagaimana kita bisa mengendalikan pandemi ini,” katanya dalam konferensi pers Nota Keuangan RAPBN 2022, di Jakarta, Senin (16/8/2021).

Empat Strategi Pengendalian Pandemi

Lebih lanjut Menkes Budi mengatakan bahwa umat manusia telah sejak lama menghadapi pandemi besar seperti saat ini. Jadi, ada empat poin strategi penanganan pandemi.

Pertama, dengan pelaksanaan perubahan perilaku, diantaranya adalah dengan melakukan protokol kesehatan. Misalnya saat ini dengan kebiasaan penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Diharapkan kalau kita 3M akan mengurangi laju penularan, menurut penelitian pakai masker bisa 95 persen lebih mencegah penularan,” katanya.

Kedua, dengan melakukan deteksi yang lebih luas. Yakni, meningkatkan tes epidemiologi versus tes screening. Kemudian, meningkatkan rasio lacak kontak erat dengan memomibilisasi Bhabinsa atau Bhabinkamtibmas.

Lalu dengan penerapan Surveilans Genomik di daerah-daerah berpotensi lonjakan kasus. “Minimal 15 setiap orang kasus konfirmasi, sehingga tau yang tertular, jadi bisa isolasi mereka dan mengurangi laju penularan,” katanya.

Kemudian adalah peran vaksinasi yang akan terus ditingkatkan. Menkes mengkonfirmasi stok dosis vaksin akan mampu memenuhi 280 juta masyarakat Indonesia.

“Tahap awal kita terima 90 juta dosis, Agustus ada 70 juta dosis, dan September bisa 80 juta dosis, sehingga kegiatan vaksinasi kita akan lebih tinggi lebih berat dibandingkan dengan 7 bulan pertama,” katanya.

Ia juga mengapresiasi untuk wilayah Jakarta dan Bali yang telah mencapai penetrasi vaksinasi cukup tinggi. Selanjutnya, alokasi vaksin sebesar 50 persen akan menyasar daerah-daerah dengan kasus dan mobilitas tinggi.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Gencarkan Sentra Vaksinasi

Pemkot Depok Gelar Simulasi Vaksin COVID-19
Perbesar
Petugas kesehatan saat persiapan simulasi vaksin COVID-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Pemkot Depok menggelar simulasi vaksin COVID-19 dalam rangka persiapan vaksinasi yang rencananya akan dilaksanakan bulan November 2020. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Kemudian sentra vaksinasi akan di gencarkan di bandara-bandara di Jakarta, Solo, Semarang, Surabaya, DI Yogyakarta, dan Bali.

“Strategi ini akan terus berjalan sampai pandemi berubah jadi epidemi, jadi bapak ibu jangan kendorkan ini, mungkin jadi kehidupan kita sehari-hari. Bagian dari new normal kita kedepannya,” katanya.

Sementara itu, strategi terakhir yang akan diambil Menkes adalah strategi defensif dengan mempersiapkan kapasitas rumah sakit.

“Kalau kita sampai kesini artinya kita sudah terlambat. Itu artinya strategi kita sebelumnya kurang cepet kita lakukan. Karena begitu masuk RS itu kita harus siapkan kamar dan lain sebagainya,” tuturnya.

Pada tahap ini, ia menargetkan akan mengonversi tempat tidur sebanyak 30-40 persen dari total kapasitas RS dan pemenuhan suplai untuk penanganan Covid-19.

Kemudian, ia juga akan menyiapkan tenaga cadangan, seperti dokter magang, koas, dan mahasiswa tingkat akhir. Lalu, pengetatan masuk RS dengan aturan saturasi dibawah 95 persen sesak napas. Ia juga mengatakan akan meningkatkan pemanfaatan pemantauan isolasi mandiri dengan pemanfaatan telemedicine.

 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya