Indonesia Keluar dari Resesi, Pengusaha Muda: Harus Dijaga dengan Regulasi

Oleh Liputan6.com pada 05 Agu 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 05 Agu 2021, 14:00 WIB
FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Para pengusaha muda menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 yang tumbuh positif 7,07 persen memiliki makna besar. Mereka berharap pertumbuhan ekonomi yang mebuat Indonesia keluar dari jurang resesi ini bisa dipertahankan ke depannya. 

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi Ajib Hamdani menjelaskan, pertumbuhan ekonomi 7,07 persen ini menjadi titik balik Indonesia keluar dari jurang resesi. Ekonomi Indonesia selama empat kuartal terus mengalami kontraksi.

"Makna yang lebih mendasar adalah periode ini menjadi momen Indonesia keluar dari resesi. Untuk selanjutnya, bagaimana pemerintah mendesain regulasi ekonomi untuk terus menjaga pertumbuhan ini dalam tren yang terus positif," kata Ajib kepada merdeka.com, Kamis (5/8/2021).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2021 ini sudah diperkirakan karena ada beberapa indikator yang mendukung. Ia menjabarkan pertama adalah indikator Purchase Manager's Index (PMI) yang sangat ekspansif selama periode April-Juni 2021.

PMI Bulan April menunjukkan angka 54,6. Kemudian pada bulan April terus ekspansif ke angka 55,3. Dan sedikit turun di periode Bulan Juni menjadi sebesar 53,5. Selama 3 bulan penuh PMI menunjukkan indikasi yang konsisten ekspansif. Sektor permintaan dan sektor supply menggeliat positif.

Kedua adalah mulai bebasnya mobilitas orang karena efek kebijakan pelonggaran setelah setahun lebih pandemi. Moment pembatasan mobilitas orang, sempat terjadi pada moment iedul fitri. Tetapi, kondisi tersebut tertolong dengan mengalirnya likuiditas di masyarakat, karena momentum mengalirnya THR.

"Penambahan likuiditas di masyarakat di perkirakan mencapai lebih dari Rp 150 triliun pada momen tersebut. Sehingga tetap terjadi daya ungkit ekonomi yang relatif signifikan," katanya.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harga Batu Bara

Ekspor Batu Bara Indonesia Menurun
Perbesar
Aktivitas pekerja menggunakan alat berat saat menurunkan muatan batu bara di Pelabuhan KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Ketiga adalah melonjaknya Harga Batu bara Acuan (HBA) di kuartal II 2021. Tercatat, di April 2021, HBA di kisaran USD 86,68 per ton, naik sekitar 2,6 persen. Pada Mei 2021, HBA naik ke USD 89,74 per ton atau naik 3,53 persen.

Pada Juni 2021 juga terjadi lonjakan menjadi USD 100,33 per ton.  Pada bulan ini terjadi lonjakan sebesar 11,8 persen. Peningkatan nilai komoditas batu bara ini memberikan multiplier effect yang cukup positif dalam ekonomi nasional.

Meski tercatat mengalami pertumbuhan, dirinya memandang indikator pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun 2021 ini masih semi absurd untuk disebut pencapaian yang luar biasa. Karena pembandingnya adalah ketika terjadi konstraksi ekonomi yang terdalam.

"Selanjutnya yang perlu dijaga adalah, konsistensi pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh," tandasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya