Perdagangan Indonesia-China Tak Lagi Gunakan Dolar AS, Apa Untungnya?

Oleh Tira Santia pada 05 Agu 2021, 12:29 WIB
Diperbarui 05 Agu 2021, 12:29 WIB
Ilustrasi dolar AS
Perbesar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Benny Soetrisno, menilai adanya kerjasama local currency settlement (LCS) dengan China, menjadi alternatif Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“LCS menurut saya satu alternatif pembiayaan yang lebih simple dibandingkan kita menggunakan dollar Amerika Serikat. LCS adalah solusi mengurangi ketergantungan kita terhadap dollar untuk menjaga juga stabilitas rupiah yang selama ini dengan USD selalu ada yang diuntungkan dan dirugikan,” kata Benny dalam Gambir Trade Talk #1 - 2021 Implikasi Penerapan LCS dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Kamis (5/8/2021).

Dia menjelaskan, dilihat dari latar belakangnya, China merupakan mitra dagang utama, namun setelmen perdagangan masih didominasi USD. Begitupun dengan skala ekonomi dan volume perdagangan di Kawasan meningkat tapi mayoritas masih dalam USD.

Sebagai contoh, Benny mengatakan, jika menukar rupiah ke USD untuk impor selalu dikenakan kurs diatas. Namun untuk menukarkan rupiah hasil ekspor ke USD, Indonesia kursnya selalu dipatok di bawah. Hal itu tentu merugikan bagi Indonesia.

“Kalau kita menukar USD dalam negeri untuk mengimpor dari rupiah ke USD kita selalu dipatok dengan kurs di atas. Kalau kita menukarkan hasil ekspor kita diberikan kursnya di bawah itu ada kerugian saya kira,” jelasnya.

Oleh karena itu, Apindo menyambut baik adanya kerjasama LCS Indonesia-China. Dimana LCS ini banyak manfaatnya, diantaranya diversifikasi eksposur mata uang, mengurangi biaya transaksi, pengembangan mata uang regional, dan membuka akses partisipasi lokal.

“Manfaatnya diversifikasi eksposur mata uangnya bisa lebih baik dan mengurangi biaya transaksi, pengembangan pasar mata uang regional dan membuka akses partisipasi lokal.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Relatif Kecil

Neraca Ekspor Perdagangan di April Melemah
Perbesar
Sebuah kapal bersandar di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Penyebab kinerja ekspor sedikit melambat karena dipengaruhi penurunan aktivitas manufaktur dan mitra dagang utama, seperti AS, China, dan Jepang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Namun di samping itu, kata Benny, penggunaan mata uang lokal untuk setelmen transaksi perdagangan saat ini masih relatif kecil, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pasar valas dalam local currency di regional belum berkembang.

Kemudian, pricing discovery tidak efisien karena belum terdapat direct quotation antar mata uang lokal. Dimana, saat ini mekanisme perdagangan RMB/IDR masih dilakukan secara cross rate sehingga kurs RMB/IDR yang terbentuk tidak efisien.

“Kondisi ini dapat menjadi insentif bagi pengembangan LCS yang memungkinkan mekanisme direct trading yang lebih efisien,” ujarnya.

Faktor selanjutnya, yaitu terdapat regulasi yang membatasi non internasionalisasi mata uang lokal. Serta preferensi pelaku usaha cenderung menggunakan hard currency (USD).

“Karena ketergantungan terhadap komponen impor untuk produksi dan volatilitas mata uang lokal juga sangat mempengaruhi sekali,” pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya