Indonesia-China Sepakat Tak Lagi Gunakan Dolar AS, Ini Alasannya

Oleh Tira Santia pada 05 Agu 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 05 Agu 2021, 11:00 WIB
Ilustrasi dolar AS
Perbesar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) telah resmi menandatangani kesepakatan dengan China untuk menggunakan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan maupun investasi.

Adapun Indonesia telah menyepakati kerangka kerja LCS dengan empat negara yaitu China, Jepang, Malaysia, dan Thailand.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kementerian Perdagangan Kasan, memaparkan alasan Indonesia menjalin kesepakatan LCS dengan China. Karena volume transaksi perdagangan Indonesia dengan China cukup besar.

China tentu ini menjadi satu pertimbangan yang jauh lebih besar dari nilai dan volume transaksinya,” kata Kasan dalam Gambir Trade Talk #1 - 2021 Implikasi Penerapan Local Currency Settlement Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Kamis (5/8/2021).

Dia menjelaskan, dalam 5-10 tahun terakhir volume perdagangan Indonesia dengan China terus mengalami peningkatan baik dari sisi ekspor maupun impornya. Dimana pangsa pasar ekspor Indonesia ke China mencapai lebih dari 20 persen.

“Saat ini China adalah negara tujuan ekspor kita terbesar, dengan pangsa cukup signifikan lebih dari 20 persen, tapi sumber impor juga cukup besar,” imbuhnya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perdagangan Ekspor-Impor

Neraca Ekspor Perdagangan di April Melemah
Perbesar
Sebuah kapal bersandar di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Penyebab kinerja ekspor sedikit melambat karena dipengaruhi penurunan aktivitas manufaktur dan mitra dagang utama, seperti AS, China, dan Jepang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lebih lanjut dia menyebutkan, tahun 2020 transaksi ekspor dan Impor Indonesia dengan China meningkat cukup besar diangka USD 71,4 miliar.

Meskipun tahun lalu Indonesia masih tetap mengalami defisit, tetapi defisit tahun 2020, katanya sudah tinggal setengahnya dari defisit yang terjadi di 2019 sebelum adanya pandemi covid-19.

“Tahun 2020 sebenarnya transaksi dari ekspor dan impor kita dengan China meningkat cukup besar karena mencatat USD 71,4 miliar. Karena catatan yang kita miliki misalnya tahun 2019 yang lalu kita defisit dengan China hampir USD 17 miliar kemudian tahun 2020 defisit kita dengan China USD 7,8 miliar,” ujarnya.

Bahkan di satu semester tahun 2021 ini, Indonesia sudah mencatatkan transaksi ekspor dan Impor dengan China mendekati USD 50 miliar.

“Artinya ini sudah naik dibandingkan dengan 2020 yang lalu. Artinya, investasi dari China ke Indonesia ini juga menjadi salah satu catatan penting dari adanya LCS yang nanti bagaimana dampaknya terhadap trade maupun investasi maupun hal yang lainnya,” pungkasnya.   

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya