Ekonom Soal Gerai Giant Ditutup: Dampaknya dari Hulu ke Hilir Tak Hanya Terkait Pekerja

Oleh Arief Rahman Hakim pada 01 Agu 2021, 18:46 WIB
Diperbarui 01 Agu 2021, 18:56 WIB
Giant Tutup Gerai
Perbesar
Suasana di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Kamis (4/3/2021). Poster-poster discount closing store dan rak-rak kosong menjadi pemandangan setiap konsumen yang datang. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Ritel modern Giant resmi menutup seluruh gerainya mulai 1 Agustus 2021 ini. Berarti tak ada lagi gerai Giant yang akan beroperasi. Penutupan gerai Giant diprediksi akan menyasar berbagai aspek, selain dari ancaman 2.700 karyawannya.

Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira penutupan gerai Giant dalam skala besar ini akan juga berdampak pada seluruh pekerja di rantai pasok. Mulai sektor pertanian hingga ke logistik penyalur.

“Seluruh rantai pasok nya terdampak dari hulu ke hilir. Ritel itu kan di hilir, jadi produsen yang memasok makanan yang dijual di ritel pasti terdampak juga,” katanya saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (1/8/2021).

Bahkan, kata Bhima, sektor perbankan yang membiayai ritel juga akan merasakan dampaknya. Misalnya Non Performing Loan (NPL), bisa mengalami kenaikan karena pembayaran kewajiban pinjaman bermasalah.

Ia mengingatkan, sektor ritel atau perdagangan memiliki kontribusi yang besar bagi serapa tenaga kerja. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 25 juta orang yang bekerja di sektor perdagangan.

Sektor retail atau perdagangan memiliki kontribusi yang besar bagi serapan tenaga kerja. Berdasarkan data BPS terdapat 25 juta orang yang bekerja disektor perdagangan.

“Satu peritel besar saja tutup maka efeknya ke pengangguran akan naik,” tegasnya.

Kendati demikian, sebenarnya gelombang penutupan ritel telah diprediksi sejak tiga tahun lalu sebelum pandemi.

Jadi tak heran jika dampak pandemi tentunya juga akan mendorong pengusaha ritel terpaksa menutup permanen.

“Pelemahan daya beli ditunjukkan oleh rendahnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan inflasi inti (core inflation). Sektor ritel mau tidak mau harus tutup atau berubah ke bisnis lain,” tuturnya.

Ia turut menggaris bawahi tentang nasib karyawan yang di-PHK. Hak-hak pekerja, untuk mendapat pesangon perlu diprioritaskan, kata dia, bahkan sebisa mungkin ada pengalihan ke pekerjaan baru di grup usaha Giant.

“Pemerintah juga harus membantu pekerja yang di PHK dengan membuat subsidi tunai khusus, kalau perlu ada BST (bansos tunai) retail yang besarannya 2 juta rupiah per pekerja di sektor retail,” katanya.

Sementara itu, menghadapi kondisi pandemi yang belum kunjung membaik, ia memprediksi bahwa pelaku ritel akan bermigrasi ke minimarket. Langkah tersebut juga digadang sebagai solusi menghadapi tantangan saat ini.

“Jadi pemain besar harus geser ke minimarket selain akses lebih mudah bagi konsumen, barang juga semakin lengkap, kemudian relatif tidak berkerumun,” katanya.

“(selanjutnya) Downsizing atau menurunkan volume atau kemasan barang yang dijual untuk menyesuaikan dengan kondisi daya beli masyarakat yang turun,” imbuh Bhima.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Karyawan Bisa Pindah ke Lini Bisnis Lain

Giant Tutup Gerai
Perbesar
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Kamis (4/3/2021). Menurut pengakuan karyawan yang bekerja bahwa store Giant ini akan ditutup pada 4 April mendatang. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumya, perusahaan induk Giant mengungkapkan kalau karyawan yang terdampak karena penutupan gerai Giant bisa pindah ke lini bisnis Hero Group lainnya, seperti Guardian, IKEA, dan Hero Supermarket.

PT Hero Supermarket Tbk juga berharap dapat menyediakan peluang baru seiring dengan pengembangan bisnis lainnya yang memiliki potensi pertumbuhan positif yaitu Guardian, IKEA dan Hero Supermarket.

"Selain itu, kami berharap akan ada kesempatan bagi sejumlah karyawan kami yang bekerja di gerai yang mungkin akan diambil alih oleh perusahaan ritel lainnya,” tulis perseroan.

Perseroan menyatakan akan memfokuskan investasi untuk mengembangkan IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket yang memiliki potensi pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan Giant.

“Perseroan akan fokus pada investasi dalam pertumbuhan tokoh di bisnis IKEA dan Guardian serta terus berinvestasi pada bisnis e-commerce dan memiliki ambisi untuk kedua merek tersebut untuk menjadi pemimpin industri dalam kategorinya masing-masing,” tulis perseroan.

Setelah restrukturisasi Giant, Hero Supermarket akan menjadi satu-satunya bisnis ritel makanan perseroan. “Kami secara aktif sedang mengevaluasi kelayakan untuk mengubah beberapa gerai Giant menjadi Hero Supermarket dan akan terus meningkatkan kinerjanya,” tulis perseroan.

Dengan fokus dan sumber daya yang diporoskan ke bisnis IKEA, Guardian dan Hero Supermarket di masa depan, perseroan berkomitmen untuk masa depan ritel di Indonesia. PT Hero Supermarket Tbk juga yakin akan posisinya sebagai pengecer kompetitif yang kuat dalam jangka panjang.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Akan Buka 100 Gerai Guardian

Giant Tutup Gerai
Perbesar
Rak-rak kosong di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Kamis (4/3/2021). Persaingan bisnis ritel makanan dan pandemi yang berkepanjangan membuat store Giant tutup satu per satu. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Penutupan gerai ini menindaklanjuti strategis atas seluruh lini bisnis Hero Supermarket, perusahaan akan memfokuskan bisnisnya ke merek dagang IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan Giant.

“Dalam kurun waktu dua tahun, kami menargetkan akan menggandakan empat kali lipat jumlah gerai IKEA kami dibanding tahun 2020, serta membuka hingga 100 gerai Guardian baru hingga akhir tahun 2022,” kata Presiden Direktur PT Hero Supermarket Tbk Patrik Lindvall pada Mei 2021 lalu.

Sebagai bagian dari fokus baru ini, PT Hero Supermarket Tbk. akan mengubah hingga lima gerai Giant menjadi IKEA, yang diharapkan dapat menambah aksesibilitas bagi pelanggan.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya