Erick Thohir: Penimbun Obat Tidak Punya Akhlak

Oleh Liputan6.com pada 30 Jul 2021, 15:40 WIB
Diperbarui 30 Jul 2021, 16:35 WIB
Menteri Erick Thohir saat mengecek ketersediaan ivermectin di tiga Apotek Kimia Farma di Jakarta
Perbesar
Menteri Erick Thohir saat mengecek ketersediaan ivermectin di tiga Apotek Kimia Farma di Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, penimbun obat dan vitamin di tengah pandemi Covid-19 merupakan tindakan yang tidak bisa dimaafkan. Hal ini karena mereka mencari untung di saat kondisi masyarakat banyak sedang kesusahan.

"Janganlah saat rakyat susah ini, penimbun-penimbun obat ini tidak punya akhlak," kata Erick Thohir dalam acara BUMN Sehat dan Kuat, Demi Akselerasi Kebangkitan Ekonomi, Jumat (30/7/2021).

Erick Thohir menjelaskan, penyediaan obat dan vitamin tidak hanya dilakukan oleh BUMN tetapi juga swasta. Oleh sebab itu ia pun meminta kepada perusahaan swasta untuk membantu ketersediaan obat dan vitamin di pasar.

"Memang kami terus berupaya memastikan keberadaan obat tetap ada di apotek, makanya kami tingkatkan kapasitas produski kami, sebagai catatan juga kita sangat penting peran swasta dukung ini. Sebab yang namanya buat obat oseltamivis, favirapir tidak hanya kita saja, swasta juga lakukan," jelasnya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Panic Buying

FOTO: Kimia Farma Produksi Obat COVID-19
Perbesar
Aktivitas pekerja di pabrik produksi obat Kimia Farma di Banjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/7/2021). Menurut Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Kimia Farma telah memproduksi obat COVID-19 Favipiravir berkapasitas produksi 2 juta tablet per hari. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Direktur Pengembangan Bisnis Kimia Farma Apotek, Muhardiman memastikan, ketersediaan obat-obatan dan vitamin untuk pasien Covid-19 sejauh ini aman. Dia pun meminta agar masyarakat tidak melakukan panic buying terhadap obat dan vitamin untuk Covid-19.

"Untuk menanggulangi kelangkaan obat, kami berusaha tetap menjaga stok dan ketersediaan obat," kata dia di Jakarta, Rabu (28/7).

Namun, lanjut dia masyarakat juga perlu memahami bahwa ada beberapa obat yang termasuk dalam kategori obat keras dan hanya bisa didapatkan berdasarkan resep dokter.

Oleh karenanya, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI melalui farmaplus untuk memberikan data ketersediaan obat. Sehingga, masyarakat dapat mengakses informasi tersebut dengan mudah.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya