Miliarder Ini Ramal Manusia akan Konsumsi Daging dan Susu Hasil Laboratorium di Masa Depan

Oleh Liputan6.com pada 30 Jul 2021, 21:00 WIB
Diperbarui 30 Jul 2021, 21:00 WIB
Dalam jangka waktu 7 tahun kedepan, diproyeksikan produksi susu sapi dapat mencapai 2,4 juta ton. (Dok Kementan)
Perbesar
Peternakan sapi dan susu. (Dok Kementan)

Liputan6.com, Jakarta Satu ramalan mengejutkan diungkapkan seorang miliarder dunia. Jim Mellon namanya, memprediksi peternakan hewan dan susu akan hilang di masa mendatang. Manusia akan memenuhi kebutuhan daging dan susu dari hasil pengembangbiakan di laboratorium.

Seperti mengutip Euronews, Jumat (30/7/2021), dia membagikan prediksinya tentang masa depan saat memberikan pandangan terkait buku barunya yang berjudul Moo's Law: An investor’s Guide to the New Agrarian Revolution.  

Jim Mellon adalah investor miliarder, pengusaha, dermawan, dan penulis beberapa buku terkemuka. Ia menunjukkan kemampuannya untuk mengidentifikasi tren global yang sedang muncul.

Jim Mellon memberikan sedikit latar belakang buku barunya dengan menyebutkan pertanyaan terkait asal mula COVID-19.

Tujuan untuk mengatasi pandemi di masa depan membuatnya berpikir bahwa dalam sepuluh tahun mendatang, setengah dari produk daging di dunia akan bersumber dari tumbuhan atau daging diproduksi di laboratorium.

Beralih ke produk yang terbuat dari tumbuhan menjadi cara untuk memastikan agar manusia tidak mengonsumsi zat berbahaya dari hewan ternak.  

Bahkan dia berpendapat untuk membuat daging di laboratorium akan berdampak pada perubahan iklim. Saat ini, 14,5 persen hingga 18 persen dari emisi global yang menjadi penyebab pemanasan global berasal dari peternakan hewan.  

Mellon meyakini pertanian sedang mengalami pergolakan yang besar sehingga peternakan akan hilang sepenuhnya karena sedang mengalami kemunduran.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Prediksi Lainnya

Pemandangan Sepi Kota London Imbas COVID-19
Perbesar
Pemandangan Jembatan Westminster dan Gedung Parlemen di London, Inggris (18/3/2020). PM Inggris Boris Johnson mengatakan seluruh sekolah akan ditutup mulai Jumat (20/3) setelah otoritas kesehatan mengonfirmasi total 2.626 kasus infeksi COVID-19 dan 104 kematian. (Xinhua/Tim Ireland)

Saat ditanya terkait apakah Inggris bisa bangkit kembali dari pandemi dan Brexit, Mellon berkata hal tersebut sudah kembali ke masa sebelum pandemi. Eropa masih sedikit tertinggal karena program vaksinasinya.  

Perhatian utamanya terletak pada inflasi yang juga dikhawatirkan oleh ekonom lain seperti Direktur Jenderal World Trade Organization, Ngozi Okonjo-Iweala.

Untuk membiayai pemulihan, dia mengatakan bahwa alternatif untuk mencetak banyak uang akan menurunkan nilai uang itu sendiri. Ia menyoroti inflasi sangat merusak terutama bagi keuangan masyarakat miskin.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Terlibat dalam Bidang Medis dan Farmasi

Ilustrasi penelitian.
Perbesar
Ilustrasi penelitian. (iStockphoto)

Mellon juga diketahui banyak terlibat dalam bidang medis dan farmasi. Perusahaan Juvenescence miliknya berfokus untuk membantu orang untuk hidup lebih sehat di hari tua dan berumur panjang. 

Mereka menggunakan sel induk dan obat-obatan untuk menghilangkan sel-sel tua. “Itu merupakan sel-sel yang kita dapatkan seiring bertambahnya usia. Sel tersebut menyebabkan penyakit seperti osteoartritis,” tambah Mellon.  

Apabila orang menjadi sehat di hari tua, uang yang dimiliki dapat dialihkan untuk perawatan lainnya. Mellon hanya ingin mengeluarkan sedikit uangnya untuk kehidupan di akhir tua yang menghabiskan dua pertiga dari keseluruhan pengeluaran kesehatan kita.

Terlepas dari semua perubahan besar yang diprediksi Mellon, ia percaya setiap orang akan beradaptasi dan perubahan itu akan membawa dampak positif.  

Para petani yang akan kehilangan pekerjaannya harus mencari pekerjaan lain. Mellon berkata bahwa kemajuan dapat menciptakan pekerjaan yang baru, lebih baik, dan mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Menurutnya, sebuah perubahan akan selalu ada. Namun, perubahan tersebut juga selalu baik.

Reporter: Shania

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya