KPPU Temukan Harga Obat Terapi Covid-19 Melambung, Ini Daftarnya

Oleh Arief Rahman Hakim pada 30 Jul 2021, 15:30 WIB
Diperbarui 30 Jul 2021, 19:57 WIB
Ilustrasi obat COVID-19
Perbesar
Photo by freestocks on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Dalam penelitian yang dilakukan, ditemukan sejumlah obat terapi Covid-19 melambung tinggi diatas harga ecer yang ditetapkan pemerintah.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan sejumlah obat terapi Covid-19 melambung tinggi diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Faktor marjin yang terlalu kecil dan ongkos distribusi menjadi alasan harga melambung di apotek.

Komisioner KPPU, Ukay Karyadi mengatakan, pihaknya hingga saat ini telah melakukan berbagai upaya termasuk penegakan hukum dan advokasi guna mengatasi harga tinggi tersebut.

“Kami sudah melakukan penegakan hukum, kami tidak bisa bicara terlalu banyak (saat ini), ini dalam rangka advokasi kebijakan, agar pemerintah melakukan perbaikan,” tegasnya dalam forum virtual, Jumat (30/7/2021).

Dari penelusuran marketplace di Jawa Barat misalnya, pergerakan stok dan sangat cepat berubah dengan nama produk disamarkan disingkat atau dipisah.

Ditemukan toko yang menjual Favipiravir produksi kimia farma dan merek Avigan dan Avicov dijual diatas HET degan kisaran Rp 35.000-Rp 85.000 pertablet. Sementara HET Favipiravir 200mg adalah Rp 22.000 per tablet.

Kemudian, Remdesivir 100mg dengan merk Remdac, Remcor, dan Covicor dijual dengan kisaran Rp 1.480.000-Rp 2.320.000 per vial. Lalu, Ivermectin 12 mg dijual Rp 18.750-Rp 19.750 per tablet dengan HET Rp 7.500 per tablet.

Harga Oseltamivir 75mg kapsul yang diproduksi Indofarma dijual Rp 67.500 per kapsul, seharusnya HET sebesar Rp 26.000. Dan Azithromycin 500mg dijual Rp 40.000 per tablet meski HET Rp 1.700 pertablet, serta Azithromycin 0,5g dijual Rp 100.000 per vial meski HET Rp 95.400 per vial.

Sementara Immunoglobulin Intravenous 5 persen dengan merek Gammaraas dijual dengan harga Rp 10 juta per vial.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harga Obat di DKI Jakarta

Uji Klinik Ivermectin Disetujui, BPOM: Penggunaan Harus Sesuai Petunjuk Dokter
Perbesar
BPOM memberikan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) Ivermectin untuk digunakan sebagai obat Covid-19. (Foto: Unsplash.com/Christina Victoria).

Tak berbeda jauh dengan Jawa Barat, di DKI Jakarta juga ditemukan peningkatan harga obat terapi Covid-19 diatas HET.

Harga obat Favipirapir 200mg produksi kimia farma dan merk Avigan, Avicov, Favikal berkisar Rp 30.000-Rp 130.000 per tablet yang melebihi HET Rp 22.500 per tablet.

Remdesivir 100mg.vial injeksi paten dijual dengan merek Remcor, Dsreme, dan Covifor dijual antara Rp 350.000-Rp 1.600.000 per vial. Sementara, Oseltamivir 75mg kapsul produksi Indofarma dijual Rp 45.000-Rp 82.000 per kapsul dari HET Rp 26.000 per kapsul.

Lalu, Azithromycin 500mg berkisar antara Rp 18.000-Rp 38.000 per tablet dari HET Rp 1.700 per tablet. Ditemukan juga toko yang menjual Ivermectin 12mg dengan harga 16.750 per tablet dari HET Rp 7.500 per tablet.

Stok Obat di Jawa Barat dan DKI Jakarta

Sementara itu, dalam pemantauan stok obat mengacu pada aplikasi Farmaplus, ditemukan jumlah yang tak selalu sama antara aplikasi dan keadaan di lapangan.

Terdapat delapan apotek yang ketersediaan stoknya sama dengan aplikasi Farmaplus, dan ada dua apotek yang ketersediaannya tidak sama dengan aplikasi. Kemudian, terdapat satu apotek yang menjual obat covid tidak sesuai dengan HET, harga Azithromycin generik di apotek tersebut lebih tinggi 29 persen dari HET.

Beberapa jenis obat seperti Immunoglobulin, Tacilizumab, dan Remdesivir tidak tersedia di Jawa Barat, sesuai dengan informasi yang ditampilkan di Farmaplus.

Sementara itu di DKI Jakarta, terdapat dua apotek yang menyebutkan bahwa stok yang tersedia sudah banyak berkurang dibandingkan yang terlihat di Farmaplus. Dan tiga apotek masih terdapat stok yang sama seperti yang ditampilkan aplikasi. Sedangkan lima apotek tidak menyebutkan jumlah ketersediaan stok secara detail, hanya menyatakan bahwa masih terdapat stok obat yang ditanyakan.

Beberapa jenis obat seperti Immunoglobulin, Tocilizumab dan Remdesivir tidak tersedia di DKI Jakarta, sesuai dengan yang ditampilkan Farmaplus.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Harga Eceran Tertinggi Obat dalam Masa Pandemi Covid-19

Infografis Harga Eceran Tertinggi Obat dalam Masa Pandemi Covid-19
Perbesar
Infografis Harga Eceran Tertinggi Obat dalam Masa Pandemi Covid-19 (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya