Kinerja Facebook Meroket, Raup Untung Rp 150 Triliun hingga Kuartal II-2021

Oleh Liputan6.com pada 29 Jul 2021, 14:15 WIB
Diperbarui 29 Jul 2021, 14:15 WIB
Salah Satu Sudut Ruangan di Kantor Facebook di Seattle
Perbesar
Salah Satu Sudut Ruangan di Kantor Facebook di Seattle. Kredit: Facebook

Liputan6.com, Jakarta Kinerja Facebook kian meroket. Dalam laporan keuangan terbarunya, tepatnya di kuartal II-2021, Facebook memperoleh pendapatan USD 29,1 miliar atau setara dengan Rp 421,1 triliun. Angka ini naik 56 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari hasil pendapatan tersebut, akhirnya facebook mencatatkan laba dalam periode yang sama naik menjadi USD 10,4 miliar atau setara Rp 150,5 triliun. Capai ini jauh diangka proyeksi para analis yang memperkirakan laba Facebook sebesar USD 8,7 miliar atau setara Rp 125,9 triliun.

Dilansir dari CNN.com, tahun lalu Facebook mengalami penurunan pendapatan ketika iklan online terdampak pandemi Covid-19. CFO David Wehner memproyeksikan setengah tahun 2021 bisnis Facebook akan kembali bergejolak.

"Pertumbuhan penjualan bisa melambat karena perubahan peraturan dan platform," kata Wehner, dikutip dari CNN.com, Jakarta, Kamis, (29/7/2021).

Hal ini disebabkan karena ada perubahan beberapa aturan yakni fitur pelacakan iOS Apple baru-baru ini. Hal ini menurut Wehner bisa memengaruhi pendapatan Facebook pada kuartal III-2021. Saat ini saham Facebook turun hampir 4 persen dalam perdagangan setelah laporan pendapatan diumumkan.

"Perubahan yang mulai berlak bulan April ini kemungkinan akan memiliki dampak yang lebih besar pada bisnis Facebook pda kuartal ketiga daripada kuartal kedua," kata dia.

Pembaruan perangkat lunak iOS 14.5 Apple (AAPL) mengharuskan pengguna memberikan izin eksplisit kepada aplikasi untuk melacak perilaku mereka dan menjual data pribadi mereka. Misalnya usia, lokasi, kebiasaan belanja, dan informasi kesehatan, kepada pengiklan.

Facebook, yang menghasilkan hampir semua uangnya dari iklan, telah secara agresif menolak perubahan. Perusahaan tersebut juga memperingatkan investor tahun lalu bahwa pembaruan itu dapat merusak bisnisnya jika banyak pengguna memilih keluar dari pelacakan.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tantangan Facebook

Facebook
Perbesar
Ilustrasi Facebook (Foto: New Mobility)

Facebook juga menghadapi pengawasan peraturan yang semakin ketat. Perusahaan dan sesama raksasa teknologi adalah target dari daftar RUU antimonopoli baru yang diusulkan oleh anggota parlemen DPR bulan lalu.

Lalu perusahaan itu baru-baru ini memiliki perselisihan bolak-balik dengan Gedung Putih setelah Presiden Joe Biden mengklaim bahwa kesalahan informasi kesehatan di platform media sosial adalah 'membunuh orang'. meskipun ia kemudian sedikit mundur. Sekelompok kecil pemrotes pada hari Rabu lalu berjajar di jalan di depan kantor Facebook Washington D.C.

Mereka datang dengan membawa kantong mayat berlabel 'disinformasi membunuh'. Pada hari Selasa, Facebook mengumumkan kemitraan dengan Digital Health Lab di Meedan, sebuah organisasi nirlaba teknologi global, untuk membantu melatih pemeriksa fakta dalam menemukan kesalahan informasi kesehatan.

Terlepas dari pengawasan, jangkauan dan ambisi Facebook terus tumbuh. Facebook memiliki 2,9 miliar pengguna aktif bulanan selama kuartal tersebut. Meningkat 7 persen dari kuartal tahun lalu.

Pada panggilan konferensi dengan analis pada hari Rabu, CEO Mark Zuckerberg menyoroti keberhasilan perusahaan di bidang-bidang utama seperti pencipta dan e-commerce - dan menggoda area fokus baru yang ia harap akan mendefinisikan ulang Facebook.

"Di tahun-tahun mendatang, saya berharap orang-orang akan beralih dari melihat kami terutama sebagai perusahaan media sosial menjadi melihat kami sebagai perusahaan metaverse," kata Zuckerberg.

Metaverse merupakan seperangkat teknologi augmented reality dan virtual yang memungkinkan orang untuk berinteraksi di dunia virtual 3D di internet. Zuckerberg mengatakan perusahaannya berinvestasi dalam membangun alat dan pengalaman (baik perangkat lunak maupun perangkat keras) untuk pengguna metaverse.

Dia berharap metaverse bisa menjadi penerus internet seluler. Tetapi Zuckerberg menyarankan bahwa itu akan memakan waktu sebelum Facebook menghasilkan keuntungan karena metaverse.

 

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya