Ekonom: Butuh Waktu hingga 2023, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen

Oleh Arief Rahman Hakim pada 29 Jul 2021, 12:10 WIB
Diperbarui 29 Jul 2021, 12:42 WIB
FOTO: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Perbesar
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan tumbuh cepat dalam waktu dekat. Ia menilai butuh waktu hingga 2023 untuk bisa kembali mencapai sekitar 5 persen.

Bhima mengamini pemangkasan IMF terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut dia, pemangkasan target yang dilakukan IMF sejalan dengan proyeksi ke bawah yang dilakukan lembaga lain.

“Saya prediksi downgrade outlook ini akan berlanjut sampai ada titik terang kapan PPKM akan berakhir dan ekonomi kembali dilonggarkan,” katanya saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (29/7/2021).

Ia menilai, dengan proyeksi ke bawah IMF tersebut akan memengaruhi tingkat risiko. Dengan demikian selanjutnya akan memengaruhi outlook investor terhadap keputusan berinvestasi di Indonesia.

“Padahal, investasi yang diharapkan selain motor ekspor untuk meningkatkan serapan tenaga kerja dalam situasi sulit,” tuturnya.

Lebih lanjut, Bhima menerangkan untuk bisa bangkit ke keadaan normal sebelum pandemi, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Artinya, Indonesia perlu bersiap menghadapi tantangan pada kondisi terburuk, yakni pemulihan ekonomi yang lebih lambat dari negara lain dengan tingkatnya yang setara.

“Mungkin butuh waktu sampai 2023 hingga pertumbuhan ekonomi kembali ke level prapandemi, yakni 5 persen,” katanya.

Bhima menegaskan, untuk bisa mendorong ekonomi, pemerintah perlu menangani pandemi secara lebih serius. Ia mengutip Nikkei Recovery Index yang menempatkan Indonesia di urutan ke 110 dari 120 negara dalam hal pemulihan pandemi.

“Oleh karena itu, tidak ada pemulihan ekonomi yang cepat tanpa penanganan pandemi yang lebih serius. itu aturan pertama dan tidak bisa dibantahkan,” tutupnya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Prediksi IMF

Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2018
Perbesar
Pemandangan deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Jumat (29/9). Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen tetap realistis. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, IMF atau Dana Moneter Internasional mengeluarkan laporan yang juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan PDB Indonesia 2021 diprediksi berkisar 3,9 persen (yoy) dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,3 persen.

Prediksi ini tertuang dalam laporan IMF bertajuk World Economic Outlook edisi Juli 2021, seperti mengutip laman resmi IMF, Rabu (28/7/2021).

IMF memangkas proyeksi ekonomi negara berkembang turun sebesar 0,4 poin pada tahun 2021 dibandingkan proyeksi sebelumnya di April.

Dikatakan jika sebagian besar karena penurunan pertumbuhan harga di negara-negara berkembang di Asia.

Seperti India, prospek pertumbuhan ekonomi negara ini telah diturunkan setelah mengalami gelombang COVID kedua yang parah selama Maret–Mei. Diperkirakan pemulihan akan berjalan melambat.

"Dinamika serupa juga terjadi di ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam), di mana gelombang infeksi baru-baru ini menyebabkan terhambatnya aktivitas," mengutip penjelasan IMF.

IMF juga mengatakan jika pada negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang rendah atau tertinggal dalam vaksinasi seperti India dan Indonesia, akan paling menderita di antara ekonomi G20.

"Melemahnya dalam aktivitas diasumsikan menimbulkan kerusakan terus-menerus pada kapasitas pasokan ekonomi," kata IMF.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya