Kontribusi Ekspor UMKM Masih Rendah, Apa Penyebabnya?

Oleh Tira Santia pada 28 Jul 2021, 15:15 WIB
Diperbarui 28 Jul 2021, 15:15 WIB
FOTO: Ekspor Impor Indonesia Merosot Akibat Pandemi COVID-19
Perbesar
Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan ekspor barang dan jasa kuartal II/2020 kontraksi 11,66 persen secara yoy dibandingkan kuartal II/2019 sebesar -1,73. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64 juta. Dilihat dari komposisinya maka bentuk dari UMKM Indonesia menyerupai piramida. Dimana komposisi terbesarnya diisi oleh pelaku usaha mikro.

Namun, Asdep Kemitraan dan Perluasan Pasar Kementerian Koperasi dan UKM Fixy, mengatakan meskipun jumlah UMKM di Indonesia banyak, tapi kontribusi terhadap ekspornya masih rendah dibanding negara tetangga di ASEAN.

Dilihat kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional tidak berubah yakni masih sekitar diangka 60 persen, terhadap tenaga kerja juga tetap masih dikisaran 97 persen kontribusinya.

“Hanya saja memang yang paling rendah itu adalah kalau kita lihat kontribusi UMKM kita terhadap ekspor. Bila dibandingkan dengan negara tetangga di Asean, kontribusi UMKM kita terhadap ekspor memang masih di bawah, masih di 14 persen,” kata  Fixy dalam webinar series Artajasa How to maximize Indonesia’s SME ecosystem, Rabu (28/7/2021).

Sementara negara lain, kontribusi UMKM terhadap ekspornya sudah mendekati angka 20 persen. Menurutnya, penyebab kontribusi ekspor UMKM Indonesia rendah lantaran jumlah pelaku usahanya paling banyak di sektor mikro.

“Memang struktur usaha kita yang sebagian besar ada di bawah piramida itu di 63 jutaan yang memang mikro. Kalau kita lihat ke ekspor itu memang masih jauh, kita perlu meningkatkan kelas dari UMKM, kalau kita ingin juga menaikkan kontribusi UMKM kita terhadap ekspor,” ujarnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Masalah Permodalan

FOTO: M Block Market Dukung Program UMKM
Perbesar
Pengunjung memilih produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dijual di M Block Market, Jakarta, Minggu (14/3/2021). M Block Market menjual berbagai produk buatan dalam negeri dalam rangka mendukung program pemerintah terkait kemudahan berusaha bagi UMKM. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Lanjutnya, Fixy memaparkan bahwa kendala yang dihadapi UMKM baik di masa pandemi atau sebelum pandemi covid-19 masih sama, yakni terkait pembiayaan atau permodalan, pemasaran dan bahan baku.

“Dengan adanya pandemi mungkin menjadi semakin terasa berat, karena dengan adanya pembatasan PPKM pergerakan, meskipun logistik juga tidak tidak dibatasi bahan baku itu otomatis juga agak sulit untuk mendapatkan bagi UMKM kita,” katanya.

Kendati begitu, dengan data yang dimiliki Kementerian Koperasi dan UKM, maka Pemerintah akan terus berusaha mendorong agar UMKM di tanah air ini bisa naik kelas. Maka secara otomatis kontribusinya terhadap ekspor juga naik.

“Dengan data yang kita miliki kontribusi UMKM kita itu turun dan pemerintah akan berusaha untuk untuk menaikkan kelas UMKM, karena memang itu salah satu tugas kita bagaimana UMKM bisa naik kelas,” pungkasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya