Bitcoin Tembus Rp 579 Juta, Melompat Pertama Kali Sejak Juni 2021

Oleh Liputan6.com pada 28 Jul 2021, 22:34 WIB
Diperbarui 28 Jul 2021, 22:34 WIB
Crypto Bitcoin
Perbesar
Bitcoin adalah salah satu dari implementasi pertama dari yang disebut cryptocurrency atau mata uang kripto.

Liputan6.com, Jakarta Nilai bitcoin melonjak hingga menyentuh USD 40 ribu (Rp 579,4 juta) untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juni. Lonjakan terjadi imbas sentimen akibat aksi jual baru-baru ini.

Mata Uang Kripto ini diperdagangkan mencapai USD 40.245 pada 26 Juli 2021 lalu, menurut data Metrik Koin. Bitcoin terakhir diperdagangkan di atas level USD 40.000 pada 16 Juni.

Melansir laman CNBC, nilai Bitcoin sempat turun pada Senin malam setelah Amazon membantah laporan jika raksasa ritel itu akan mulai menerima bitcoin untuk pembayaran tahun ini.

Amazon pada hari Jumat mengkonfirmasi jika ingin menambahkan mata uang digital dan blockchain ke tim pembayarannya. Namun membantah akan memakai bitcoin.

“Terlepas dari minat kami, spekulasi yang beredar menyebutkan jika kami akan ke cryptocurrency tidak benar. Kami tetap fokus untuk mengeksplorasi seperti apa ini bagi pelanggan yang berbelanja di Amazon, ”kata juru bicara Amazon dalam sebuah pernyataan kepada CNBC.

Kemudian Bitcoin diperdagangkan sekitar USD 38.024, atau sekitar 10,4 persen lebih tinggi. Pergerakan harga uang kripto ini kembali terjadi setelah baru-baru ini turun di bawah USD 30.000 setelah aksi jual global dalam saham, memicu kekhawatiran bahwa itu bisa jatuh lebih jauh.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dukungan Para Miliarder

Bitcoin
Perbesar
Ilustrasi Bitcoin (Liputan6.com/Sangaji)

CEO Twitter Jack Dorsey, CEO Tesla Elon Musk, dan CEO ARK Invest Cathie Wood baru-baru ini berbicara pada konferensi Bitcoin ‘The B-Word’. Musk menyatakan bahwa Tesla akan kembali menerima Bitcoin sebagai alat transaksi kendaraan.

Pernyataan tersebut dilatarbelakangi proses penambangan Bitcoin yang mulai beralih menggunakan energi terbarukan.

Bulan Mei lalu, Tesla menangguhkan pembelian kendaraan menggunakan uang kripto karena adanya kekhawatiran atas penggunaan bahan bakar fosil yang meningkat untuk penambangan Bitcoin.

Penambangan Bitcoin merupakan proses intensif untuk menciptakan koin baru. Proses tersebut melibatkan pemecahan masalah matematika yang kompleks. Daya komputasi yang diperlukan pun menghabiskan banyak energi.

“Hari perdagangan China telah dibuka. Pembicaraan mereka⎼Musk, Jack, dan Cathie⎼sangat bullish,” ujar Alex Brammer dari Luxor Mingin, kumpulan cryptocurrency yang akan diproses untuk penambangan tingkat lanjut.

Amazon turut mencari penambahan mata uang digital dan ahli blockchain (teknologi baru untuk penyimpanan data digital) kepada tim pembayarannya agar dapat lebih mengenal Bitcoin dan uang kripto lainnya lebih dekat.

“Perusahaan kami terinspirasi oleh kegiatan pasar yang terjadi dalam cryptocurrency dan hal tersebut dapat mengembangkan apa yang ada di Amazon,” ujar juru bicara Amazon mengutip dari CNBC.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Mulai Kembali ke Masa Jaya

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Perbesar
Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Menurut insinyur penambangan Bitcoin, Brandon Arvanaghi, pergerakkan bullish ini dapat berkontribusi dan mendorong terjadinya short squeeze⎼kondisi ketika harga aset meningkat dengan cepat karena adanya harga taruhan yang berlebihan.

Investor yang melakukan short squeeze bertaruh bahwa harga akan turun lebih jauh lagi. Namun, apabila harga melonjak tinggi, para investor akan memotong kerugian mereka dan keluar dari posisi tersebut dengan membantu mendorong harga lebih tinggi lagi.

Sementara itu, beberapa masalah mengenai harga Bitcoin sudah mulai membaik dan teratasi. Selama beberapa bulan terakhir ini, China telah memperbarui regulasinya terhadap penambahan dan perdagangan cryptocurrency. Kekhawatiran tersebut mulai mereda karena jejak karbon yang dihasilkan dari penambangan Bitcoin mulai berkurang.

“Ketidakpastian seputar dampak lingkungan akibat pertambangan dan masalah regulasi di China telah meredup,” tutup Brammer.

Reporter: Caroline Saskia Tanoto

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya