Kementan Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Masuknya Penyakit Hewan LSD

Oleh Liputan6.com pada 23 Jul 2021, 16:32 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 16:36 WIB
Kementan Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Masuknya Penyakit Hewan LSD
Perbesar
(Foto:Dok.Kementerian Pertanian RI)

Liputan6.com, Jakarta Menghadapi ancaman penyakit hewan lumpy skin disease (LSD) yang saat ini sudah menyebar di Asia dan menjangkiti enam negara di Asia Tenggara, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan) mengadakan seri seminar daring peningkatan kesiapsiagaan terhadap LSD.

"Sebagai negara yang masih bebas LSD, kita harus meningkatkan kesiapsiagaan, karena posisinya penyakit ini sudah sampai ke Thailand dan Malaysia," ungkap Nuryani Zainuddin, Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH.

Menurutnya, sejak Tiongkok dan India tertular pada tahun 2019, LSD terus menyebar ke banyak wilayah di Asia. Terakhir penyakit ini sudah dilaporkan di kawasan Asia Tenggara yakni di Vietnam, Laos, Myanmar, Cambodia, Thailand, dan Malaysia.

 

Kementan Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Masuknya Penyakit Hewan LSD
Perbesar
(Foto:Dok.Kementerian Pertanian RI)

"Kita telah tingkatkan upaya pencegahan untuk mencegah masuknya penyakit ini. Namun apabila sampai masuk, kita juga harus siap untuk bisa mendeteksi dan menanganinya secara cepat dan efektif," tambah Nuryani.

Pada seminar daring yang dihadiri peserta hampir 800 orang tersebut, Nuryani menjelaskan bahwa risiko terbesar masuknya LSD adalah melalui pemasukan hewan rentan (sapi dan kebau) dari negara tertular, dan saat ini pihaknya memastikan bahwa tidak ada pemasukan hewan rentan dari negara-negara tersebut.

"Namun demikian, Kami tetap telah siapkan laboratorium veteriner untuk mendiagnosa apabila ada dugaan kasus di lapang," imbuhnya.

 

Kementan Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Masuknya Penyakit Hewan LSD
Perbesar
(Foto:Dok.Kementerian Pertanian RI)

Semua laboratorium veteriner di bawah Ditjen PKH menurutnya telah mempunyai kapasitas untuk memeriksa penyakit ini. Nuryani meminta agar peternak dan petugas lapang untuk segera melaporkan apabila ada ternaknya yang menunjukan tanda klinis benjol-benjol pada kulit, demam, dan adanya lendir pada hidung serta mulut.

"Laporan cepat sangat penting, agar segera kita pastikan penyebab penyakitnya, dan kita tangani langsung. Ini untuk menekan kerugian yang mungkin ditimbulkan," jelasnya.

Pada seminar daring tersebut, hadir juga narasumber dan ahli terkait LSD yakni Karma Rinzin dari organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) di kawasan Asia Tenggara (OIE Sub Regional Representation for South East Asia) dan Steve Pefanis dari Department of Primary Industries, Parks, Water and Environment, Biosecurity Tasmania, Australia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya