Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa di Atas 3,9 Persen, Ini Rahasia Buat Capai

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 22 Jul 2021, 16:40 WIB
Diperbarui 22 Jul 2021, 16:40 WIB
Prediksi BI Soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun Depan
Perbesar
Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan revisi prediksi pertumbuhan ekonomi nasional untuk keseluruhan tahun 2021 menjadi 3,5-4,3 persen, dengan titik tengah di kisaran 3,9 persen.

Perry mengatakan, titik tengah 3,9 persen tersebut masih lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya pada waktu pembahasan asumsi makro di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI yang sebesar 3,8 persen.

Asumsi lebih tinggi itu disebutnya muncul berkat adanya kebijakan pemerintah dalam menangani lonjakan kasus pandemi Covid-19 yang disebabkan varian delta. Semisal percepatan program vaksinasi, pertumbuhan kinerja ekspor hingga lanjutan program stimulus dari sisi fiskal dan moneter.

Namun, Perry juga masih membuka kemungkinan jika pertumbuhan ekonomi nasional bisa lebih tinggi dari titik tengah 3,9 persen, dengan percepatan vaksinasi sebagai kunci utamanya.

"Kami melihat ada potensi bisa lebih tinggi dari 3,9 persen, dengan kebijakan-kebijakan tentu saja vaksinasi yang lebih cepat sehingga herd immunity-nya bisa dicapai lebih baik, dan penerapan protokol Covid-19," ujarnya dalam sesi teleconference hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (22/7/2021).

Selain itu, dia menyebutkan perbaikan ekonomi global seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa juga jadi salah satu faktor penting. Demikian juga belanja fiskal, dan stimulus-stimulus moneter maupun kebijakan-kebijakan paket terpadu

"Kami melihat ada peluang dan potensi bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 akan bisa lebih tinggi dari titik tengah 3,9 persen, dalam kisaran 3,5-4,3 persen," tukas Perry.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sri Mulyani Ramal Pertumbuhan Ekonomi 2021 Maksimal Hanya 4,5 Persen

FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II 2020 Minus 5,32 Persen
Perbesar
Pedagang berjualan makanan ringan di bantaran Kanal Banjir Barat dengan latar belakang gedung pencakar langit di Jakarta, Kamis (6/8/2020). BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II/2020 minus 5,32 persen akibat perlambatan sejak adanya pandemi COVID-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, risiko pandemi Covid-19 yang masih tinggi, khususnya varian baru (delta), membuat pemerintah harus melaksanakan PPKM Darurat. Kebijakan ini pun otomatis membuat konsumsi masyarakat melambat.

"Pemulihan ekonomi akan tertahan, pertumbuhan ekonomi Triwulan III diprediksi melambat ke 4 persen hingga 5,4 persen (yoy/year on year)," tulis bahan paparan Kemenkeu yang diterima merdeka.com, Senin (12/7).

Dalam bahan paparan tersebut, pemerintah juga memperkirakan pada kuartal IV-2021 pertumbuhan ekonomi pada rentang 4,6 persen sampai 5,9 persen.

Pemerintah juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Semester I-2021 hanya tumbuh sekitar 3,1 persen sampai 3,3 persen dengan keseluruhan tahun 2021 diproyeksikan tumbuh 3,7 persen sampai 4,5 persen.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya