BI Kembali Tahan Bunga Acuan di Level 3,50 Persen pada Juli 2021

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 22 Jul 2021, 14:42 WIB
Diperbarui 22 Jul 2021, 14:44 WIB
BI Turunkan Bunga Acuan 25 BPS Jadi 5,5 Persen
Perbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo (kiri) dan jajaran Dewan Gubernur memberi keterangan kepada media di Jakarta, Kamis (22/8/2019). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) secara resmi kembali menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate atau BI7DRRR di level 3,50 persen pada Juli 2021. Keputusan itu diambil setelah bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu hingga Kamis, 21-22 Juli 2021.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 21-22 Juli 2021 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,50 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam sesi teleconference, Kamis (22/7/2021).

Perry mengatakan, Bank Indonesia juga memutuskan untuk menahan suku bunga deposito facility di level 2,75 persen, dan suku bunga lending facility pada 4,25 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan di tengah angka inflasi yang rendah, dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19," sambung Perry.

Sebelumnya, Bank Indonesia dalam RDG pada Juni lalu juga telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,50 persen. Suku bunga acuan BI ini berada di posisi yang sama sejak Februari 2021.

Adapun sejak 2020 lalu, Bank Indonesia terhitung telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali atau sebesar 150 basis points (bps), dari semula 5 persen menjadi 3,50 persen.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pertumbuhan Kredit Membaik di Tengah Pandemi

Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia Gratis, Ini Syaratnya
Perbesar
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit mulai pulih di tengah kondisi pandemi Covid-19. Per Mei 2021, pertumbuhan kredit membaik di beberapa segmen meski masih terkontraksi minus 1,28 persen secara agregat.

"Secara agregat memang pertumbuhan kredit ini masih terkontraksi minus 1,28 persen secara yoy per Maret, namun beberapa segmen sudah membaik," jelas Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung dalam taklimat media, Jumat (2/7/2021).

Kredit kelompok bank Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan BUMN sudah tumbuh positif. Hingga Mei 2021, pertumbuhan bank BPD tercatat berada di angka 6,17 persen. Lalu, pertumbuhan bank BUMN sebesar 3,57 persen.

Kendati, pertumbuhan bank umum swasta nasional (BUSN) masih terkontraksi -5,08 persen, sementara kantor cabang bank asing (KCBA) amasih minus 25,9 persen.

"Lalu berdasarkan segmennya, segmen konsumsi sudah tumbuh 1,39 persen dan segmen UMKM tumbuh 1,7 persen," jelas Juda.

Adapun untuk segmen korporasi masih mengalami minus 4,06 persen, demikian pula segmen komersial yang masih minus 3,07 persen.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya