Rupiah Menguat ke 14.500 per Dolar AS, Potensi Tekanan Masih Besar

Oleh Liputan6.com pada 22 Jul 2021, 10:50 WIB
Diperbarui 22 Jul 2021, 13:36 WIB
FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Kamis ini. Namun penguatan ini diperkirakan tak akan bertahan lama.

Mengutip Bloomberg, Kamis (22/7/2021), rupiah dibuka di angka 14.500 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.542 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.500 per dolar AS hingga 14.516 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah menguat 3,32 persen.

Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi menguat. Namun penguatan tersebut masih dibayangi peningkatan kasus baru Covid-19 terutama varian Delta.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah kemungkinan besar masih bisa melemah pada perdagangan hari ini mengikuti pelemahan nilai tukar mata uang regional.

"Pasar masih mengkhawatirkan kenaikan kasus Covid-19 karena varian delta, di mana Asia Tenggara dianggap menjadi episentrumnya," ujar Ariston dikutip dari Antara.

Namun demikian, lanjut Ariston, pelemahan mungkin bisa tertahan karena sentimen pasar terhadap risiko terlihat membaik.

"Pasar saham global menguat. Ada optimisme pasar terhadap perbaikan kinerja perusahaan," kata Ariston.

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi melemah ke kisaran 14.560 per dolar AS dengan potensi support di kisaran 14.520 per dolar AS.

Sri Mulyani Jelaskan Alasan Rupiah Melemah di 2020

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah mengalami pergerakan yang dinamis di 2020. Pada medio Maret dan April 2020 terjadi gelombang capital outflow di Indonesia sehingga menekan rupiah.

Sri Mulyani menjelaskan, gelombang capital out flow tersebut membuat nilai rupiah tertekan. Namun tekanan tak hanya terjadi di rupiah, beberapa mata uang negara lain juga mengalami hal yang sama. 

Pemerintah pun mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Pada Maret dan April terjadi gelombang capital outflow akibat kepanikan global karena pandemi sehingga nilai tukar semua negara ini naik," kata Sri Mulyani dalam Sidang Paripurna DPR-RI, Jakarta, Kamis (15/7/2021).

Berbagai langkah yang diambil tersebut akhirnya mampu membuat rata-rata nilai tukar rupiah menjadi 14.577 per dolar AS. Angka ini membuat rupiah cenderung melemah dibandingkan dengan rata-rata 2019 sebesar 14.146 per dolar AS.

"Ini cenderung lemah dibandingkan dengan nilai tukar rupiah tahun 2019 sebesar 14.146 per dolar AS," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓