Harga Minyak Anjlok 7 Persen karena OPEC+ Bersiap Tingkatkan Produksi

Oleh Tira Santia pada 20 Jul 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 20 Jul 2021, 08:30 WIB
lustrasi tambang migas
Perbesar
Harga minyak WTI yang menjadi patokan di AS turun 7,51 persen menjadi USD 66,42 per barel. (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hingga di bawah level kunci USD 70 per barel pada perdagangan Senin. Penurunan hingga di bawah level kunci ini merupakan pertama kalinya dalam lebih dari satu bulan karena OPEC dan sekutunya setuju untuk meningkatkan produksi.

Penurunan harga emas juga terjadi karena kenaikan kasus Covid-19 di seluruh dunia. Penyebaran varian delta ini membuat beberapa negara kembali melakukan penguncian sehingga mengancam permintaan global.

Mengutip CNBC, Selasa (20/7/2021), harga patokan minyak AS yaitu WTI turun 7,51 persen menjadi USD 66,42 per barel. Ini merupakan level harga terburuk sejak September 2020. Untuk harga minyak Brent yang menjadi patokan internasional juga tergelincir 6,75 persen pada perdagangan Senin menjadi USD 68,62 per barel.

Kelompok 23 negara yang merupakan produsen minyak mentah di dunia atau yang saat ini dikenal dengan OPEC+, pada Minggu kemarin sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 400 ribu barel setiap bulan. Kenaikan produksi ini akan dilakukan mulai Agustus.

Kenaikan produksi akan berlanjut hingga September 2022, di mana keseluruhan hampir 6 juta barel per hari yang masih ditahan oleh kelompok itu akan kembali ke pasar.

Pengumuman itu dilakukan setelah pertemuan awal OPEC+ yang berlangsung pada 1 Juli gagal mencapai kesepakatan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengenai kuota produksi dasar yang terakhir.

"Kami melihat kesepakatan yang diumumkan pada Minggu sebagai dukungan untuk harga minyak konstruktif. Ini akan menjadi sumber dorongan bullish dan bukti kekurangan pasokan non-OPEC dalam beberapa bulan mendatang," kata Goldman Sachs dalam sebuah catatan kepada klien.

Pertemuan OPEC+ Juli yang berakhir tanpa kesepakatan kemarin membuat harga minyak masuk ke dalam kekacauan karena membuka pintu bagi seluruh angggota untuk mengejar kebijakan produksi masing-masing.

"Ini adalah pembaruan janji OPEC+," kata Helima Croft dari RBC pada Senin di "Worldwide Exchange" CNBC.

"Kami pikir pasar benar-benar dapat menyerap tambahan 400.000 barel per bulan. Ini adalah perjanjian yang konstruktif." terang dia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saham Energi

Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Saham energi bergerak melemah di tengah penurunan harga minyak. Saham-saham di sektor energi merosot 4,5 persen dan menjadikannya sektor di bursa S&P 500 dengan kinerja terburuk.

Occidental, Diamondback Energy, Schlumberger dan Marathon Oil termasuk di antara penurunan terbesar, masing-masing turun lebih dari 6 persen.

Meskipun terjadi pelemahan pada perdagangan Senin, beberapa perusahaan Wall Street percaya pasar yang ketat akan terus mendukung harga.

Credit Suisse menaikkan perkiraannya pada Minggu malam dan melihat harga minyak Brent rata-rata bisa di level USD 70 per barel pada 2021, naik dari perkiraan sebelumnya USD 66,50per barel.

Credit Suisse juga menaikkan perkiraan harga minyak WTI menjadi USD 67 per barel untuk tahun ini, dari sebelumnya di level USD 62 per barel.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya