Harga Minyak Jatuh Menuju Penurunan Terbesar Sejak Maret 2021

Oleh Arief Rahman Hakim pada 17 Jul 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 17 Jul 2021, 07:30 WIB
Bursa Saham AS Positif Bikin Harga Minyak Naik
Perbesar
Harga minyak cenderung variatif didorong sentimen ketegangan Rusia-Ukraina dan serangan Amerika Serikat ke Irak.

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada perdagangan Jumat, memperpanjang penurunan dari dua sesi sebelumnya. Harga minyak berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak Maret setelah ekspektasi terhadap pasokan yang lebih banyak memberi tekanan pada pasar.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (17/7/2021), harga minyak mentah Brent naik 28 sen atau 0,4 persen menjadi USD 73,77 per barel, menuju penurunan 3,8 persen minggu ini.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka AS naik 39 sen atau 0,54 persen menjadi USD 72,01 per barel dan berada di jalur penurunan 5,1 persen.

Arab Saudi dan UEA mencapai kesepakatan minggu ini, membuka jalan bagi produsen OPEC+ untuk menyelesaikan perundingan guna meningkatkan produksi minyak.

OPEC+, yang merupakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dengan Rusia dan produsen lain, sebelumnya gagal mencapai kesepakatan setelah UEA mencari dasar yang lebih tinggi untuk mengukur pengurangan produksinya.

"Semua tanda menunjukkan bahwa OPEC+ sedang menuju kesepakatan potensial yang akan memungkinkan UEA untuk mengamankan penyesuaian dasar," kata analis RBC Capital dalam sebuah catatan.

“Produsen lain pasti akan mencari perlakuan serupa dan berpotensi memperpanjang pertimbangan menuju pertemuan tingkat menteri di Agustus mendatang," lanjut dia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Prediksi Permintaan Minyak

Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

OPEC mengatakan pada hari Kamis bahwa pihaknya memperkirakan permintaan minyak dunia akan meningkat tahun depan ke sekitar level sebelum pandemi, yaitu sekitar 100 juta barel per hari (bph). Hal ini karena pertumbuhan permintaan di Amerika Serikat, China dan India.

JPM Commodities Research mengatakan pihaknya memperkirakan permintaan minyak global pada Juli dan Agustus sekitar 1,7 persen di bawah level 2019.

“Kami pikir untuk memulihkan permintaan barel terakhir yang hilang ini secara berkelanjutan (sebagian besar adalah bahan bakar jet) masih akan memakan waktu karena cuaca yang lebih dingin mulai datang untuk belahan bumi utara dan musim perjalanan puncak sudah berlalu,” kata JPM.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya